Nasional

Percepat Penanganan TBC, Kemenkes Skrining 2.000 Pelaku Wisata Malioboro–Keraton

Tim Redaksi
×

Percepat Penanganan TBC, Kemenkes Skrining 2.000 Pelaku Wisata Malioboro–Keraton

Sebarkan artikel ini
Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus
Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus (Foto: Humas Kemenkes RI)

YOGYAKARTA – Kementerian Kesehatan RI menggelar skrining aktif Tuberkulosis (TBC) bagi sedikitnya 2.000 pelaku wisata di kawasan Malioboro dan Keraton Yogyakarta.

Upaya ini diperkuat dengan investigasi kontak keluarga pasien TBC sebagai langkah menekan penularan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, mengapresiasi kolaborasi lintas sektor yang memungkinkan skrining berbasis laboratorium diterapkan langsung di dua pusat wisata tersibuk tersebut.

“Malioboro dan Keraton merupakan pusat interaksi wisatawan dengan pergerakan hingga 15 juta pengunjung per tahun. Skrining berbasis laboratorium seperti hari ini memiliki dampak strategis terhadap pengendalian penularan,” ujar Wamenkes, (29/11) lalu.

Data Kemenkes menunjukkan TBC masih menjadi persoalan serius di DIY.

Temuan kasus baru berada di angka 65%, dengan 93% pasien memulai pengobatan dan tingkat keberhasilan terapi 79%. Cakupan Terapi Pencegahan TBC (TPT) baru 22%, sementara investigasi kontak baru mencapai 53%.

Di Kota Yogyakarta, indikator penanganan TBC lebih baik, dengan penemuan kasus sudah 100%, 93% memulai pengobatan, dan keberhasilan terapi 73%. Namun cakupan TPT masih 34%, dan investigasi kontak 49%.

Kegiatan ini mendukung Program Hasil Terbaik Cepat Presiden Prabowo Subianto, khususnya percepatan penurunan TBC, perluasan akses layanan kesehatan gratis, serta penguatan jejaring laboratorium di daerah.

Pada kesempatan tersebut, Kemenkes juga meluncurkan Model Active Case Finding (ACF) TBC Berbasis Laboratorium, yang dirancang agar dapat direplikasi di wilayah lain dengan mobilitas penduduk tinggi.

“Saya berharap model ini menjadi contoh praktik baik yang dapat diterapkan di daerah lain, khususnya di kawasan wisata dan wilayah dengan mobilitas tinggi,” tambah Wamenkes.

Kemenkes menegaskan komitmennya untuk memperluas skrining aktif di komunitas, meningkatkan cakupan TPT, memperkuat surveilans berbasis masyarakat, serta mengintegrasikan layanan TBC ke dalam transformasi layanan primer. (*)