Opini

Jappa-Jappa Lorong Bukan Sekadar Jalan-Jalan

Tim Redaksi
×

Jappa-Jappa Lorong Bukan Sekadar Jalan-Jalan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Firdaus (Founder Daeng Berdampak)

Firdaus Founder Daeng Berdampak
Firdaus, Founder Daeng Berdampak (Foto: IST)

MINGGU, 29 Maret 2026, kami memilih cara sederhana untuk memahami kota: berjalan.

Bukan di jalan-jalan besar yang rapi dan ramai kendaraan, tetapi masuk ke lorong-lorong di Makassar. Ruang-ruang kecil yang sering luput dari perhatian, namun justru menyimpan pelajaran kehidupan yang paling jujur.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Jappa-jappa lorong bagi kami bukan sekadar aktivitas fisik. Ia adalah upaya membaca denyut kota dari jarak paling dekat. Setiap lorong memiliki wajahnya sendiri.

Ada lorong yang lebar, bisa dilalui mobil dengan rumah-rumah besar dan pagar tinggi. Mewakili lapisan masyarakat yang mapan. Di sana, kehidupan tampak teratur, tenang, dan tertata. Namun, di balik ketenangan itu, ada jarak yang kadang terasa: antar rumah, bahkan antar manusia.

Berbeda dengan lorong yang hanya bisa dilalui motor. Di sini, kehidupan terasa lebih cair. Anak-anak bermain di pinggir jalan, ibu-ibu saling menyapa, dan suara obrolan menjadi musik sehari-hari. Ini adalah wajah masyarakat menengah yang bergerak, berusaha, dan terus beradaptasi dengan perubahan kota.

Lalu, ada lorong-lorong sempit yang bahkan hanya bisa dilalui pejalan kaki. Di sinilah kami menemukan keteguhan hidup yang sesungguhnya. Rumah-rumah berdempetan, ruang terbatas, namun kehangatan terasa begitu luas.

Masyarakat di lapisan ini mengajarkan arti kebersamaan, saling bantu, dan ketahanan dalam keterbatasan. Mereka tidak banyak bicara tentang mimpi, tetapi menjalani hidup dengan penuh daya juang.

Dari lorong ke lorong, kami belajar bahwa kota bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga tentang manusia yang menghidupinya.

Perbedaan akses mobil, motor, hingga jalan kaki bukan sekadar soal infrastruktur, melainkan cerminan dari realitas sosial yang ada. Namun menariknya, di setiap lorong itu, nilai-nilai kemanusiaan tetap tumbuh: gotong royong, kepedulian, dan harapan.

Jappa-jappa lorong mengajarkan kami untuk tidak melihat kota dari satu sudut pandang saja.

Bahwa kebenaran hidup tidak hanya ada di tempat yang terang dan luas, tetapi juga di sudut-sudut sempit yang sering diabaikan. Lorong-lorong itu adalah ruang belajar tentang kesederhanaan, perjuangan, dan arti menjadi manusia.

Pada akhirnya, perjalanan ini menyadarkan kami bahwa berjalan di lorong berarti berjalan mendekati realitas. Dan dari sanalah, kita tidak hanya menemukan kota tetapi juga menemukan diri sendiri. (*)

Anas Iswanto Anwar Makkatutu (Dosen FEB-Unhas)
Opini

OPINI – Selat Hormuz, jalur laut sempit di Teluk Persia, telah lama…