Persona

Mengenal Hasbi Syamsu Ali, Insinyur Organisatoris yang ‘Gemar Membangun’

Tim Redaksi
×

Mengenal Hasbi Syamsu Ali, Insinyur Organisatoris yang ‘Gemar Membangun’

Sebarkan artikel ini
Ir Hasbi Syamsu Ali, MM

Dari dunia konstruksi hingga organisasi kemasyarakatan, dari jejaring alumni hingga olahraga, perjalanan Ir. Hasbi Syamsu Ali, MM mempertemukan profesi, kewirausahaan dan pengabdian. Di berbagai ruang yang dimasukinya, ia membawa satu kebiasaan yang sama, yakni membangun sesuatu yang membuat orang lain ikut tumbuh.

______________________________

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

ADA ORANG yang dikenal karena satu jabatan. Ada pula yang menarik justru karena lintasan perjalanannya. Sosok Ir. Hasbi Syamsu Ali, MM sepertinya termasuk yang kedua.

Dalam beberapa tahun terakhir, namanya muncul di berbagai ruang publik Sulawesi Selatan. Ia adalah pengusaha konstruksi, praktisi jasa infrastruktur, organisator alumni, pengurus organisasi kemasyarakatan, hingga pemimpin organisasi olahraga tingkat provinsi.

Pada saat yang sama, lelaki kelahiran 26 November 1964 itu menjadi salah satu figur yang aktif mengonsolidasikan perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya.

Sepintas, semua itu tampak seperti aktivitas yang berdiri sendiri. Namun jika ditarik dalam garis perjalanan yang lebih panjang, ada satu benang merah yang mempertautkannya.

Apa itu? Ternyata Hasbi adalah sosok yang ‘terbiasa membangun’. Bukan hanya membangun jalan dan infrastruktur, tetapi juga perusahaan, organisasi, jejaring, dan gagasan.

Dari Teknik Sipil ke Dunia Usaha

Fondasi perjalanan Hasbi berada di dunia teknik sipil. Ia adalah alumni Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar.

Latar belakang tersebut kemudian membawanya masuk ke industri konstruksi dan dunia usaha. Ia membangun kiprah melalui PT Wiratama Karya Nugraha (WKN), perusahaan yang dipimpinnya sebagai direktur utama dan kini tercatat memiliki kualifikasi badan usaha besar.

Dunia konstruksi memberinya sekolah yang khas. Sebuah proyek tidak cukup dikerjakan dengan kemampuan teknis. Ada manusia yang harus dikelola, modal yang harus dihitung, waktu yang harus dijaga, regulasi yang harus dipahami, serta risiko yang harus diantisipasi.

Sebuah pekerjaan harus direncanakan, dilaksanakan, diawasi, lalu dipastikan selesai. Pengalaman itulah yang ikut membentuk cara Hasbi bekerja. Ia terbiasa menghadapi target dan tenggat, bernegosiasi dengan banyak pihak, sekaligus memahami bahwa pekerjaan besar tidak pernah selesai oleh satu orang.

Salah satu jejak profesional WKN terlihat dalam proyek penanganan longsoran ruas Watampone-Pompanua-Ulugalung di Sulawesi Selatan dengan nilai kontrak sekitar Rp47,17 miliar.

Namun bagi Hasbi, dunia konstruksi rupanya tidak berhenti pada urusan proyek dan bisnis. Ia kemudian masuk lebih jauh ke dalam ekosistem profesinya.

Ir Hasbi Syamsu Ali MM

Profesi Jadi Ruang Pengabdian

Hasbi pernah dipercaya memimpin Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Sulawesi Selatan. Di ruang tersebut, ia tidak lagi semata berbicara sebagai pengusaha, tetapi ikut menyuarakan persoalan yang dihadapi pelaku jasa konstruksi, termasuk mengenai regulasi pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Perubahan posisi itu mencerminkan sesuatu yang penting dalam perjalanan profesionalnya. Ia mulai bergerak dari kepentingan perusahaan menuju kepentingan ekosistem. Dari seorang pengusaha yang memikirkan bagaimana perusahaan bertumbuh, menjadi seorang organisator yang mulai memikirkan bagaimana profesinya berkembang bersama.

Keterlibatannya di Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI) Sulawesi Selatan memperpanjang jalur tersebut. Pada 11 Februari 2025, Hasbi dilantik sebagai Sekretaris DPD HPJI Sulsel. Bagi seorang yang lama berkecimpung di dunia konstruksi, jalan bukan sekadar persoalan beton, aspal dan struktur.

Jalan adalah konektivitas. Ia membuka akses, memperpendek jarak, menghubungkan pusat produksi dengan pasar, dan mendekatkan masyarakat kepada pelayanan publik.

Karena itu, ketika berbicara mengenai pembangunan daerah, infrastruktur bagi Hasbi bukan semata urusan teknis. Ia melihatnya sebagai bagian dari fondasi pertumbuhan ekonomi.

Ir Hasbi Syamsu Ali MM

Aktif di Jejaring Alumni

Dunia profesional kemudian membawanya kembali kepada almamater. Hasbi aktif dalam Ikatan Alumni Teknik Sipil Universitas Hasanuddin (IKATSI). Sebelum dipercaya sebagai ketua umum, ia pernah menjalankan fungsi sekretaris dalam organisasi tersebut. Pada 2021, ia kemudian dipercaya memimpin IKATSI Unhas untuk periode 2021–2025.

Di bawah kepemimpinannya, organisasi alumni didorong untuk tidak berhenti sebagai ruang nostalgia. Ada upaya mempertemukan alumni lintas generasi dan memperluas jejaring. Berbagai kegiatan dikembangkan, termasuk ruang-ruang yang memungkinkan alumni tetap terhubung dengan sesama maupun dengan almamater.

Bagi Hasbi, jaringan bukan sekadar daftar nama. Jaringan adalah modal sosial. Pertemuan melahirkan komunikasi. Komunikasi membuka peluang kolaborasi. Dan kolaborasi memungkinkan kapasitas individual berubah menjadi kekuatan bersama. Cara pandang itu kelak menjadi salah satu ciri yang menonjol dalam kiprah organisasinya.

Jejaring alumni Universitas Hasanuddin, dalam pandangan Hasbi, memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada sekadar hubungan kekerabatan almamater.

Para alumni tersebar di berbagai profesi dan sektor strategis. Jika potensi tersebut dipertemukan, ia dapat menjadi kekuatan untuk mendorong pembangunan.

Perspektif itu pula yang ia bawa ketika berbicara mengenai masa depan Luwu Raya. Ia mendorong agar jejaring profesional dan alumni ikut mengambil peran dalam pengembangan sektor-sektor non-tambang.

Ada alasan di balik gagasan tersebut. Bagi Hasbi, daerah yang kaya sumber daya alam tidak boleh hanya menjadi tempat bahan mentah diambil. Nilai tambah, lapangan kerja, kewirausahaan dan kapasitas sumber daya manusia harus tumbuh bersamaan. Kekayaan mineral bisa berkurang. Tetapi kualitas manusia dan kekuatan institusi harus terus bertambah.

Dari KKLR ke KKSS

Jejaring Hasbi kemudian meluas ke lingkungan sosial yang lebih besar. Ia aktif dalam keluarga besar Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS).

Pada 2025, ia dipercaya menjadi Koordinator Expo PSBM XXV dan Mubes XII KKSS, agenda yang mempertemukan saudagar, pengurus organisasi dan diaspora Sulawesi Selatan dari berbagai daerah.

Di ruang ini, Hasbi membawa satu nilai budaya yang kemudian cukup sering ia gaungkan: Sirui Menre Tessirui No’. Jika satu orang naik, yang lain tidak ditinggalkan.

Bagi Hasbi, falsafah tersebut tidak seharusnya berhenti sebagai ungkapan budaya. Ia harus menjadi etika dalam membangun organisasi dan masyarakat.

Kesuksesan individual, menurut prinsip itu, baru memiliki arti ketika membuka kesempatan bagi orang lain untuk ikut tumbuh.

Pandangan tersebut kemudian menemukan ruang yang lebih dekat dengan identitas sosialnya ketika Hasbi dipercaya memimpin Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Sulawesi Selatan periode 2022–2027.

Jika KKSS merupakan rumah besar masyarakat Sulawesi Selatan di perantauan, KKLR menjadi ruang yang lebih spesifik bagi Wija To Luwu. Di sana, persoalan organisasi bersentuhan langsung dengan identitas, sejarah, tanah asal dan masa depan daerah.

Namun Hasbi tidak ingin KKLR berhenti sebagai tempat silaturahmi. Ia mendorong organisasi itu menjadi ruang penguatan sumber daya manusia, jejaring usaha dan pemberdayaan masyarakat. Generasi muda juga menjadi perhatian.

Dalam sejumlah forum, termasuk kegiatan kewirausahaan mahasiswa, ia mendorong anak muda untuk berani memasuki dunia usaha dan tidak berhenti sebagai pengkritik. Pesannya sederhana: gagasan harus menemukan bentuk dalam karya.

Barangkali ia berbicara demikian karena memahami sendiri bahwa dunia usaha adalah ruang yang menuntut keberanian mengambil risiko.

Ir Hasbi Syamsu Ali MM

Olahraga sebagai Ruang Membangun Manusia

Pada 2026, ruang pengabdian Hasbi kembali bertambah. Ia dipercaya sebagai Ketua Umum Pengurus Provinsi Persatuan Gateball Seluruh Indonesia (PERGATSI) Sulawesi Selatan masa bakti 2025–2029.

Di organisasi olahraga itu, pendekatan yang dibawanya kembali menunjukkan pola yang sama. Ia berbicara mengenai konsolidasi organisasi, pembinaan atlet, peningkatan kapasitas pelatih dan wasit, penguatan klub, serta pembangunan sistem kompetisi yang berkelanjutan.

Olahraga, bagi Hasbi, tampaknya bukan sekadar persoalan menang dan kalah. Ada ekosistem yang harus dibangun. Atlet membutuhkan pelatih. Pelatih membutuhkan sistem. Klub membutuhkan organisasi. Dan organisasi membutuhkan program yang konsisten. Kembali muncul satu prinsip yang sama: membangun ruang agar orang lain dapat berkembang.

Menuju Perjuangan Daerah

Seluruh pengalaman tersebut akhirnya bertemu dalam keterlibatan Hasbi pada perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya.

Sebagai Ketua BPW KKLR Sulsel sekaligus salah satu penggerak konsolidasi BPP DOB Provinsi Luwu Raya, ia bergerak mempertemukan berbagai elemen, mulai dari pemerintah daerah, DPRD, akademisi, tokoh adat, organisasi masyarakat, pemuda dan diaspora.

Sepanjang 2026, konsolidasi dilakukan di berbagai daerah di Tana Luwu. Belopa. Palopo. Masamba. Malili. Satu per satu simpul ditemui. Yang dibangun bukan sekadar dukungan, melainkan kesamaan perspektif bahwa perjuangan tersebut harus dipersiapkan secara serius, termasuk dari sisi administratif dan argumentasi pembangunan.

Di sinilah pengalaman Hasbi sebagai organisator kembali menemukan relevansinya. Perjuangan besar tidak mungkin dibebankan kepada satu tokoh. Ia membutuhkan banyak tangan dan banyak pikiran.

Karena itu, Hasbi lebih banyak memainkan peran sebagai penghubung: mempertemukan, menyatukan dan menjaga agar energi yang tersebar bergerak ke arah yang sama.

Mengubah Cara Melihat Luwu Raya

Menariknya, argumentasi yang dibawa Hasbi dan tim perlahan bergeser dari narasi pemekaran konvensional. Pembentukan Provinsi Luwu Raya tidak semata-mata diletakkan pada alasan rentang kendali pemerintahan atau kebutuhan pelayanan publik.

Narasinya diperluas menjadi pertanyaan yang lebih strategis: Apa yang dapat diberikan Luwu Raya kepada Indonesia?

Pertanyaan tersebut membawa pembicaraan kepada potensi sumber daya mineral, pertanian, perikanan, hilirisasi, konektivitas, sumber daya manusia, hingga posisi kawasan dalam peta pertumbuhan Indonesia timur.

Kajian akademik mengenai Luwu Raya bahkan kemudian dibawa ke Jakarta dan dipresentasikan kepada Kepala Staf Kepresidenan pada 2026.

Cara pandang itu menunjukkan bahwa Hasbi tidak ingin Luwu Raya sekadar menjadi daerah yang meminta perhatian pemerintah pusat. Ia ingin kawasan tersebut dilihat sebagai bagian dari solusi pembangunan nasional.

Tak Cukup Hidup dari Tambang

Di tengah besarnya potensi pertambangan, terutama nikel di Luwu Timur, Hasbi juga mengingatkan pentingnya diversifikasi ekonomi.

Luwu Raya, menurut perspektif yang ia dorong, tidak boleh menggantungkan masa depan hanya pada sumber daya ekstraktif. Pertanian, perkebunan, perikanan, agroindustri, kewirausahaan dan sektor ekonomi berbasis masyarakat harus tumbuh bersama.

Sebab pembangunan bukan hanya soal berapa banyak sumber daya alam yang dapat dikeluarkan dari bumi. Yang lebih penting adalah berapa banyak nilai tambah yang tinggal di daerah, berapa banyak masyarakat memperoleh pekerjaan, berapa banyak pengusaha lokal tumbuh, dan seberapa besar kualitas manusia meningkat.

Pada titik ini, pengalaman profesional Hasbi kembali bertemu dengan gagasan pengabdiannya. Seorang insinyur terbiasa memikirkan fondasi sebelum membangun struktur. Dan sebuah daerah, menurut logika yang sama, membutuhkan fondasi ekonomi dan sumber daya manusia yang kokoh sebelum berbicara tentang masa depan.

Kepemimpinan Tanpa Kekuasaan Formal

Ada hal menarik dari perjalanan Hasbi. Ia bukan kepala daerah. Bukan anggota DPR. Bukan pula pejabat pemerintahan. Namun ia dapat berada dalam ruang yang mempertemukan kepala daerah, akademisi, pengusaha, tokoh adat, organisasi masyarakat, atlet, alumni dan diaspora.

Pengaruh semacam itu tidak lahir dari kewenangan formal. Ia tumbuh dari pengalaman, relasi, konsistensi dan kepercayaan. Itulah bentuk kepemimpinan yang berbasis jejaring. Dan jejaring tidak dibangun dalam sehari. Ia tumbuh dari pertemuan yang berulang, kerja yang konsisten dan kemampuan menjaga hubungan ketika kepentingan orang-orang di dalamnya berbeda.

Dalam konteks itu, berbagai organisasi yang pernah dan sedang dipimpin Hasbi bukanlah ruang yang sepenuhnya terpisah. Konstruksi, HPJI, IKATSI, KKSS, KKLR, PERGATSI dan gerakan DOB memiliki medan yang berbeda, tetapi membutuhkan kemampuan yang serupa: mengelola manusia dan menemukan titik temu.

Insinyur yang membawa logika konstruksi ke ruang sosial. Mungkin di sinilah cara paling sederhana untuk membaca perjalanan Hasbi Syamsu Ali. Ia seorang insinyur. Dan insinyur terbiasa berpikir tentang fondasi.

Sebuah bangunan tidak akan kokoh tanpa perencanaan. Sebuah proyek tidak akan selesai tanpa kerja tim. Sebuah struktur tidak akan bertahan tanpa perawatan. Prinsip yang sama tampaknya ia bawa ketika memasuki dunia organisasi.

Ada gagasan yang harus dirancang. Ada orang-orang yang harus dipertemukan. Ada pekerjaan yang harus dibagi. Ada target yang harus dicapai. Dan ada kesabaran yang dibutuhkan agar hasilnya tidak berhenti sebagai wacana.

Karena itu, perjalanan Hasbi sesungguhnya bukan kumpulan jabatan yang berdiri sendiri. Ada sebuah pola yang berulang, yaitu membangun sistem, memperluas jejaring, lalu mendorong orang-orang di dalamnya untuk tumbuh bersama.

Ir Hasbi Syamsu Ali MM

Membangun Lebih dari Sekadar Materi

Ada ironi yang menarik dalam perjalanan seorang insinyur konstruksi. Profesi mengajarkannya membangun sesuatu yang dapat dilihat seperti jalan, struktur, bangunan dan infrastruktur.

Tetapi perjalanan organisasinya kemudian mengajarkan bentuk pembangunan yang berbeda. Membangun kepercayaan. Membangun solidaritas. Membangun organisasi. Membangun jejaring. Membangun kapasitas manusia, dan tentu saja membangun harapan.

Yang terakhir mungkin paling sulit. Sebab jalan dapat diukur panjangnya. Gedung dapat dihitung luasnya. Proyek dapat dihitung nilainya. Tetapi kepercayaan tidak memiliki satuan ukur. Begitu pula solidaritas dan cita-cita kolektif.

Di situlah perjalanan Hasbi menjadi menarik. Ia memulai karier dari dunia yang sangat konkret—konstruksi—tetapi kemudian bergerak ke wilayah yang semakin abstrak: manusia, organisasi, identitas dan masa depan.

Perjalanan yang belum selesai Hari ini, Hasbi berada di banyak persimpangan sekaligus. Ia tetap menjalani dunia profesional dan usaha.

Ia aktif dalam organisasi jasa konstruksi. Ia pernah memimpin organisasi alumni. Ia berada dalam keluarga besar KKSS. Ia memimpin KKLR dan PERGATSI Sulsel. Pada saat yang sama, ia ikut mengawal perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya.

Semakin banyak ruang yang dimasukinya, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul. Namun mungkin memang begitu sifat pekerjaan seorang pembangun. Satu proyek selesai, proyek lain dimulai. Satu organisasi diperkuat, ruang pengabdian berikutnya terbuka. Satu generasi tumbuh, generasi berikutnya harus disiapkan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seseorang mungkin bukan seberapa panjang daftar jabatan yang pernah diemban. Melainkan berapa banyak hal yang menjadi lebih baik karena kehadirannya.

Dalam perjalanan Hasbi, ukurannya bisa ditemukan dalam banyak bentuk: infrastruktur yang dibangun, perusahaan yang dikembangkan, profesi yang diperjuangkan, alumni yang disatukan, organisasi yang diperkuat, atlet yang dibina, jejaring yang dipertemukan, hingga cita-cita sebuah daerah yang terus dijaga agar tidak padam.

Dan mungkin di situlah makna paling utuh dari perjalanan seorang insinyur yang terbiasa membangun: bukan sekadar mendirikan sesuatu, tetapi menciptakan fondasi agar lebih banyak orang dapat tumbuh dan berjalan menuju masa depan bersama. (*)