MAROS — Semangat budaya, kebanggaan sejarah, dan harapan masa depan berpadu dalam malam puncak Hari Jadi ke-66 Kabupaten Maros yang digelar meriah di Lapangan Pallantikang, Kamis (3/7).
Acara ini ditandai dengan peluncuran resmi Festival Gau Maraja, dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi, yang hadir mewakili Pemerintah Provinsi.
Dengan mengusung tema “Maju dan Berkembang sebagai Potensi Adat dan Budaya”, perayaan tahun ini tak sekadar menjadi ajang seremoni, melainkan penegasan posisi Maros sebagai pusat kultural Sulawesi Selatan.
Apalagi, peluncuran program unggulan di situs prasejarah Leang-Leang turut memperkuat posisi Maros sebagai satu-satunya kabupaten di Sulsel yang memiliki Taman Arkeologi.
“Festival ini adalah simbol progresif. Ini tentang bagaimana kita membangun dari desa ke kota, dari pinggiran ke pusat, dengan tetap menjaga akar budaya,” ujar Fatmawati dalam sambutannya.
Wagub Sulsel ini juga menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh masyarakat Maros, serta memuji komitmen daerah dalam membangun dengan nilai-nilai lokal yang kuat.
Ia menyoroti sejumlah capaian Maros, termasuk Paritrana Award di bidang jaminan sosial ketenagakerjaan dan kemajuan dalam indeks literasi daerah.
“Pemerintah Provinsi telah mengalokasikan Rp1,4 triliun untuk mendukung program prioritas yang langsung menyentuh rakyat, termasuk Maros. Kami ingin pastikan, pembangunan berjalan inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada kesejahteraan rakyat,” tegasnya.
Leang-Leang, Pusaka Masa Lalu untuk Masa Depan
Menteri Kebudayaan RI, Dr. H. Fadli Zon, turut hadir dan memberikan apresiasi tinggi terhadap pelestarian budaya yang menjadi bagian penting dari Festival Gau Maraja.
Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa kekuatan sebuah bangsa terletak pada kemampuannya merawat warisan leluhur.
“Leang-Leang bukan hanya situs arkeologi, tapi adalah simbol identitas Indonesia sebagai negara dengan kekayaan budaya dan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Merawat budaya adalah merawat bangsa,” kata Fadli Zon.
Tak kalah menyentuh, Bupati Maros, Chaidir Syam, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Maros adalah “tanah yang merawat nilai kemanusiaan”, tempat yang menghargai setiap tamu dan menjaga adat sebagai bagian dari jati diri.
Festival Gau Maraja menjadi etalase budaya yang menggugah rasa. Atraksi tari kolosal “Pepeka ri Makka”, silat tradisional, serta pameran Bilah Pusaka Nusantara menyatukan ratusan pelajar dan seniman lokal dalam satu panggung kebudayaan. Lokakarya edukasi budaya pun digelar untuk memperkuat literasi generasi muda terhadap sejarah lokal.
Di tengah gegap gempita acara, tokoh adat Maros, Kareang Turikale Brigjen Pol (Purn) A.A. Mapparessa Daeng Manimbang, menyampaikan petuah menyentuh:
“Bercocok tanamlah di hati manusia, karena hati manusia itu suci dan jujur, tak akan pernah berbohong.”
Petuah tersebut menegaskan makna bahwa kebaikan yang ditanamkan dalam hati manusia akan bersemi sebagai kebenaran yang hakiki—pesan luhur yang menjadi benang merah antara adat, budaya, dan masa depan.
Festival Gau Maraja menjadi refleksi dan proyeksi: bahwa membangun kabupaten tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang identitas, kearifan lokal, dan kebanggaan sejarah.
Visi besar Sulsel Maju dan Berkarakter menuju Indonesia Emas 2045 hadir dalam denyut budaya lokal seperti yang tergambar di Maros malam itu.
Dengan ditutupnya acara ini, masyarakat menyimpan harapan besar: Maros sebagai kabupaten yang maju, berbudaya, dan berdaya saing global, menjadikan Gau Maraja bukan hanya agenda tahunan, tetapi gerakan kolektif untuk merawat warisan dan membangun masa depan. (*)


























