MAKASSAR — Kabar duka menyelimuti dunia medis di Sulawesi Selatan. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makassar, Dr. dr. Abdul Azis, SpU, berpulang di Mekkah, Arab Saudi, pada Sabtu (1/11/2025) waktu setempat.
Informasi mengenai wafatnya dokter bedah yang dikenal rendah hati itu beredar luas di media sosial dan group WhatsApp di Makassar sekitar pukul 20.12 WITA.
Hingga kini, belum diketahui secara pasti penyebab meninggalnya dosen Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) tersebut.
Kepergian dr. Azis meninggalkan duka mendalam bagi banyak pihak—baik di kalangan dokter, tenaga kesehatan, maupun para relawan yang selama ini menjadi rekan perjuangannya di berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Sosok Relawan Sejati
Semasa hidup, dr. Azis dikenal sebagai sosok yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial di Kota Makassar. Ia menjabat sebagai Ketua Masyarakat Hijrah Tanpa Nama (Mahtan) dan Komunitas Relawan Emergensi Indonesia (KREKI) Sulawesi Selatan.
Namanya juga dikenal luas saat pandemi COVID-19 melanda. Saat itu, ia dipercaya menjadi Ketua Satgas Penanganan Covid-19 IDI Makassar sekaligus Wakil Ketua Satgas Covid-19 RSUD Daya.
Dedikasinya dalam melindungi tenaga kesehatan dan memberikan edukasi kepada masyarakat menjadikannya salah satu figur sentral dalam penanganan pandemi di tingkat daerah.
Rekan sejawat menggambarkan dr. Azis sebagai sosok dokter yang “selalu turun langsung ke lapangan”, bahkan di situasi sulit sekalipun.
“Beliau bukan hanya pemimpin di atas kertas, tapi selalu hadir di tengah masyarakat,” ujar salah seorang koleganya.
Perjalanan Hidup
Lahir di Nipah Panjang, 17 Mei 1977, dr. Azis menghabiskan masa kecilnya di berbagai daerah karena mengikuti penugasan orang tuanya, termasuk di Jambi.
Menariknya, sejak kecil ia tak pernah bercita-cita menjadi dokter.
Ia justru bermimpi menekuni Teknik Nuklir dan terinspirasi oleh Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie, untuk menjadi pembuat pesawat terbang. Namun, dorongan kedua orang tuanya mengarahkannya pada dunia medis.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Farmasi (SMF) dan aktif berorganisasi hingga terpilih sebagai Ketua OSIS.
Perjalanan hidupnya kemudian membawanya ke Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, tempat di mana semangat sosialnya tumbuh pesat.
Di bangku kuliah, ia aktif di berbagai organisasi seperti Tim Bantuan Medis (TBM), pecinta alam, dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa Kedokteran dan Solidaritas Mahasiswa Unhas.
Pengabdian Tanpa Batas untuk Sesama
Cinta dr. Azis pada profesi dokter tumbuh dari lapangan. Ia mulai memahami makna sejati profesinya ketika terjun sebagai relawan di berbagai lokasi bencana—mulai dari Ambon hingga Ternate—dan saat menjalani masa koas di lapangan.
Dari pengalaman itu pula, ia menemukan panggilan hidupnya di dunia bedah urologi, bidang yang menuntut ketepatan, kecepatan, dan kepemimpinan.
“Bedah itu bukan sekadar keahlian tangan, tapi tentang keberanian mengambil keputusan untuk menyelamatkan nyawa,” pernah ia ungkapkan dalam sebuah diskusi medis beberapa tahun lalu.
Warisan Pengabdian dan Teladan Kemanusiaan
Kepergian dr. Abdul Azis meninggalkan ruang kosong di dunia kesehatan Makassar. Ia bukan hanya dokter dan pendidik, tetapi juga teladan kemanusiaan bagi banyak orang yang mengenalnya.
Di mata rekan sejawat dan mahasiswa kedokteran Unhas, dr. Azis adalah sosok yang tegas namun bersahabat, inspiratif namun sederhana.
Ia mengabdikan hidupnya untuk masyarakat—baik di ruang operasi, ruang kuliah, maupun di tengah bencana.
Warisan terbesarnya mungkin bukan pada gelar dan jabatan, melainkan pada semangatnya untuk melayani tanpa pamrih dan keyakinannya bahwa profesi dokter adalah panggilan kemanusiaan. (*)














