MAKASSAR — Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Makassar. Mengantisipasi dampak yang berpotensi meluas, upaya penguatan kesiapsiagaan terus dimatangkan, bertepatan dengan peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Makassar (BPBD) setempat menyiapkan rangkaian kegiatan yang akan mencapai puncaknya pada Rabu (29/4/2026) di kantor BPBD, Jalan Kerung-kerung. Kegiatan ini rencananya dihadiri langsung Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin.
Kepala Pelaksana BPBD Makassar, Fadli Tahar, mengatakan peringatan HKBN tahun ini mengusung tema nasional “Siap untuk Selamat”, yang menekankan pentingnya kesiapan seluruh elemen dalam menghadapi potensi bencana.
“Ini bukan sekadar seremonial, tapi penegasan bahwa kesiapsiagaan harus dibangun secara kolaboratif, melibatkan pemerintah, stakeholder, hingga masyarakat,” ujarnya, Selasa (28/4).
Rangkaian kegiatan diawali dengan apel kesiapsiagaan yang akan melibatkan berbagai unsur, mulai dari perangkat daerah, relawan, hingga komunitas masyarakat. Selain itu, akan digelar simulasi dan pameran peralatan kebencanaan untuk menunjukkan kesiapan personel serta sarana dalam menghadapi berbagai potensi bencana, seperti banjir, kebakaran, hingga kekeringan.
Dalam momentum tersebut, BPBD juga meluncurkan inovasi edukatif bertajuk Sahabat Anak Afirmasi Aman Bencana (SALAMA). Program ini menyasar anak usia dini hingga pelajar tingkat SMP melalui pendekatan pembelajaran interaktif berbasis kegiatan luar ruang.
Menurut Fadli, edukasi sejak dini menjadi langkah strategis untuk membentuk generasi yang tanggap bencana.
“Anak-anak perlu dibekali pemahaman bagaimana bersikap saat terjadi bencana, agar tidak panik dan tahu langkah penyelamatan diri,” jelasnya.
Selain itu, penguatan kelembagaan juga dilakukan melalui pengukuhan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Makassar. Forum ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat mitigasi dan respons bencana di tingkat lokal.
Di sisi lain, BPBD Makassar mulai mengintensifkan langkah antisipasi menghadapi dampak El Nino yang diperkirakan memicu tiga risiko utama, yakni krisis air bersih, peningkatan potensi kebakaran, serta gangguan kesehatan masyarakat.
“Krisis air menjadi dampak paling utama. Selain itu, suhu tinggi juga meningkatkan risiko kebakaran dan penyakit seperti ISPA serta gangguan kulit,” paparnya.
Sebagai langkah konkret, BPBD telah menyiapkan dokumen rencana kontinjensi untuk berbagai skenario bencana, termasuk kekeringan. Distribusi bantuan juga mulai dilakukan dengan menyiapkan lebih dari 1.000 unit tandon air untuk masyarakat terdampak.
Saat ini, sekitar 100 unit tandon telah disalurkan secara bertahap berdasarkan prioritas wilayah.
Koordinasi lintas sektor juga terus diperkuat, melibatkan berbagai pihak seperti perusahaan BUMN, sektor swasta, lembaga filantropi, hingga instansi teknis seperti PDAM, Dinas Kesehatan, dan pemadam kebakaran.
Fadli menegaskan, penetapan status tanggap darurat menjadi langkah krusial untuk mempercepat respons penanganan, terutama dalam membuka akses pendanaan seperti Belanja Tidak Terduga (BTT) dan Dana Siap Pakai (DSP) dari pemerintah pusat.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa keberhasilan penanganan bencana sangat bergantung pada kesiapan masyarakat itu sendiri.
“Sebagian besar penyelamatan dalam bencana dilakukan oleh masyarakat. Karena itu, mereka harus menjadi subjek utama, bukan sekadar objek,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, BPBD Makassar juga akan menggelar gladi kesiapsiagaan dalam waktu dekat guna memastikan kesiapan teknis dan koordinasi lintas sektor berjalan optimal, terutama menjelang puncak musim kemarau.
Melalui rangkaian kegiatan HKBN 2026 ini, pemerintah berharap kesiapsiagaan bencana tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi benar-benar memperkuat ketahanan masyarakat Makassar dalam menghadapi risiko bencana di masa depan. (*)



















