Bulukumba

Tak Cukup Andalkan Investor, Bulukumba Butuh 1.000 Pengusaha Baru Setiap Tahun

Tim Redaksi
×

Tak Cukup Andalkan Investor, Bulukumba Butuh 1.000 Pengusaha Baru Setiap Tahun

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan sekaligus Ketua Umum Forum Komunikasi Pengusaha Bulukumba (FKPB), Syafruddin Mualla
Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan sekaligus Ketua Umum Forum Komunikasi Pengusaha Bulukumba (FKPB), Syafruddin Mualla (Foto: IST)

BULUKUMBA – Kabupaten Bulukumba dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sulawesi Selatan.

Selain kaya sumber daya alam, daerah ini juga memiliki puluhan ribu pelaku usaha mikro yang dapat menjadi fondasi lahirnya industri lokal apabila didorong melalui kebijakan yang tepat.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Berangkat dari potensi tersebut, Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan sekaligus Ketua Umum Forum Komunikasi Pengusaha Bulukumba (FKPB), Syafruddin Mualla, mengusulkan Gerakan 1.000 Pengusaha Baru setiap tahun sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan ekonomi Bulukumba.

Menurut Syafruddin, paradigma pembangunan ekonomi daerah perlu diperluas. Upaya menarik investasi dari luar tetap penting, tetapi harus dibarengi dengan strategi yang mampu melahirkan lebih banyak pengusaha lokal sebagai penggerak utama perekonomian daerah.

“Daerah yang maju tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi yang masuk, tetapi juga oleh kemampuannya melahirkan pengusaha-pengusaha lokal yang tangguh. Investor dapat menjadi lokomotif pertumbuhan, tetapi pengusaha lokal merupakan fondasi yang menjaga roda ekonomi tetap berputar dalam jangka panjang,” ujarnya, Sabtu (4/7/2026).

Nilai Tambah Perlu Didorong

Syafruddin menilai Bulukumba memiliki hampir seluruh modal dasar untuk berkembang menjadi pusat ekonomi baru. Potensi tersebut mencakup komoditas kelapa, rumput laut, hasil perikanan, pertanian, peternakan, industri maritim berbasis Pinisi, hingga sektor pariwisata.

Namun, menurutnya, kekayaan sumber daya tersebut belum sepenuhnya bertransformasi menjadi industri yang kuat, perusahaan yang kompetitif, maupun lapangan kerja yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara signifikan.

Karena itu, ia menilai pembangunan ekonomi tidak cukup hanya berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam, melainkan juga harus mendorong lahirnya pelaku usaha yang mampu mengolah potensi tersebut menjadi produk bernilai tambah.

UMKM Jadi Modal Awal

Data Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT) UMKM menunjukkan Bulukumba memiliki sekitar 55.811 UMKM yang terdiri atas 55.549 usaha mikro, 218 usaha kecil, dan 44 usaha menengah.

Menurut Syafruddin, angka tersebut menunjukkan ekonomi kerakyatan telah tumbuh cukup baik. Namun mayoritas pelaku usaha masih berada pada skala mikro sehingga membutuhkan pendampingan agar dapat berkembang.

“Tantangan kita bukan sekadar menambah jumlah UMKM, tetapi mendorong usaha mikro naik kelas menjadi usaha kecil, usaha kecil berkembang menjadi usaha menengah, dan usaha menengah tumbuh menjadi perusahaan yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan global,” katanya.

Seribu Pengusaha Baru Setiap Tahun

Syafruddin menyebut target mencetak 1.000 pengusaha baru setiap tahun bukanlah angka yang berlebihan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah angkatan kerja Bulukumba pada Agustus 2025 mencapai 269.762 orang, dengan sebanyak 264.045 orang bekerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 2,12 persen.

Sementara itu, perekonomian Bulukumba pada 2024 tumbuh sekitar 4,60 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku sekitar Rp20,22 triliun.

Menurutnya, tambahan 1.000 pengusaha baru setiap tahun hanya setara sekitar 0,37 persen dari total angkatan kerja Bulukumba sehingga sangat realistis apabila didukung kebijakan yang tepat.

Apabila target tersebut dijalankan secara konsisten selama satu dekade, Bulukumba berpotensi memiliki sekitar 10.000 pengusaha baru.

Dengan asumsi setiap pengusaha mampu mempekerjakan rata-rata lima orang, maka sekitar 50.000 lapangan kerja baru dapat tercipta.

“Dampaknya bukan hanya meningkatnya pendapatan masyarakat, tetapi juga berkembangnya usaha lokal, bertambahnya aktivitas ekonomi, meningkatnya penerimaan daerah, serta lahirnya perusahaan-perusahaan Bulukumba yang mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional,” jelasnya.

Kolaborasi Jadi Kunci

Untuk mewujudkan target tersebut, Syafruddin mengusulkan pembentukan Gerakan 1.000 Pengusaha Baru yang melibatkan pemerintah daerah, KADIN, HIPMI, FKPB, perguruan tinggi, perbankan, koperasi, BUMN, BUMD, lembaga pelatihan, komunitas bisnis, hingga sektor swasta.

Gerakan tersebut, menurutnya, harus memiliki peta jalan yang jelas, mulai dari penjaringan calon wirausaha, pelatihan berbasis praktik bisnis, pendampingan usaha, kemudahan perizinan, akses pembiayaan, inkubasi bisnis, digitalisasi pemasaran, hingga pembukaan akses pasar nasional dan ekspor.

Ia juga menekankan pentingnya mengarahkan program pada sektor-sektor unggulan Bulukumba seperti hilirisasi kelapa, rumput laut, perikanan, peternakan, pertanian, industri maritim berbasis Pinisi, ekonomi kreatif, dan pariwisata.

Perkuat Ekosistem Investasi

Meski mendorong penguatan kewirausahaan lokal, Syafruddin menegaskan Bulukumba tetap membutuhkan investasi skala besar.

Menurutnya, kawasan industri, pelabuhan niaga, infrastruktur logistik, dan iklim investasi yang kompetitif tetap menjadi kebutuhan penting dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.

Namun, investasi dari luar akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar apabila didukung oleh ribuan pengusaha lokal yang mampu menjadi pemasok bahan baku, mitra produksi, distributor, maupun bagian dari rantai pasok industri.

Bagi Syafruddin, investasi terbaik bukan semata-mata modal yang datang dari luar daerah, melainkan investasi pada kualitas sumber daya manusia.

Ia menilai pembangunan karakter, kompetensi, kepemimpinan, keberanian mengambil risiko, serta semangat kewirausahaan merupakan fondasi penting agar semakin banyak generasi muda menjadi pencipta lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja.

Ia berharap Bulukumba ke depan tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil komoditas, tetapi juga sebagai daerah pencetak pengusaha, pusat pertumbuhan industri berbasis potensi lokal, serta contoh keberhasilan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam membangun ekonomi yang inklusif, mandiri, dan berkelanjutan.

“Ketika target mencetak 1.000 pengusaha baru dijalankan secara konsisten, sesungguhnya Bulukumba sedang membangun fondasi ekonomi untuk 20 hingga 30 tahun ke depan. Daerah yang benar-benar maju bukanlah daerah yang hanya kaya sumber daya alam, melainkan daerah yang kaya akan pengusaha yang mampu mengubah potensi menjadi nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat,” pungkasnya. (*)