MAKASSAR — Tekanan biaya produksi menjadi persoalan yang semakin dirasakan peternak ayam petelur komersial (layer) di Kabupaten Bone. Harga sarana produksi, terutama pakan, dinilai belum sebanding dengan harga telur di tingkat peternak.
Kondisi tersebut disampaikan Asosiasi Peternak Layer Sipadecengi saat bertemu jajaran Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Hasanuddin (Unhas) di ruang Majelis Fapet Unhas, Rabu (23/9/2026).
Asosiasi yang menaungi 73 peternak dengan total populasi sekitar 300.000 ekor ayam layer itu meminta dukungan akademik untuk mencari solusi atas tekanan biaya produksi yang mereka hadapi.
Ketua Harian Asosiasi Peternak Layer Sipadecengi, Ahmadi Annur, mengatakan fluktuasi harga terjadi baik pada sisi input maupun output produksi.
Di satu sisi, peternak harus menghadapi harga pakan dan berbagai sarana produksi yang berubah-ubah. Di sisi lain, harga telur cenderung berada pada level yang lebih rendah dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan telur.
Menurut Ahmadi, kondisi tersebut dapat memengaruhi keberlanjutan usaha peternak apabila berlangsung dalam waktu panjang.
Karena itu, asosiasi memandang perlu ada ruang diskusi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, untuk mencari pendekatan yang dapat membantu peternak meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat posisi usaha mereka.
“Fapet Unhas merupakan salah satu stakeholder yang ikut memantau perkembangan komoditas layer tersebut, sehingga dipandang perlu untuk melakukan diskusi terkait kendala tersebut,” ujar Ahmadi.
Fapet Unhas Bentuk Tim Pakar
Dekan Fapet Unhas Prof. Dr. Ir. Syahdar Baba mengatakan perguruan tinggi memiliki ruang untuk berkontribusi langsung terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk sektor peternakan.
Menurut dia, pendampingan terhadap peternak merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengembangan kapasitas dan pemberdayaan masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, Fapet Unhas akan membentuk tim pakar yang dapat memberikan pendampingan berbasis keilmuan kepada peternak layer di Bone.
Tim tersebut nantinya diharapkan tidak hanya memberikan rekomendasi, tetapi juga membantu peternak mengidentifikasi persoalan teknis dan manajemen yang dapat diperbaiki untuk meningkatkan efisiensi usaha.
“Yang terpenting sebagai jalan keluar jangka pendek yang dapat dilakukan fakultas saat ini adalah membantu Asosiasi dalam memperoleh akses terhadap input sarana produksi ternak yang lebih ekonomis dan pendampingan manajemen pemeliharaan berkelanjutan yang lebih efisien oleh tim pakar,” kata Syahdar.
Fapet Unhas juga membuka peluang keterlibatan mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) maupun magang di dunia usaha dan dunia industri.
Kehadiran mahasiswa di lapangan diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pendampingan yang berkelanjutan, sekaligus memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa dalam memahami persoalan usaha peternakan.
Dorong Bahan Pakan Lokal
Pertemuan tersebut juga membahas sejumlah alternatif yang dapat dipertimbangkan peternak untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan nilai ekonomi usaha.
Dosen Fapet Unhas Dr. Abd. Alim Yamin, S.Pt., M.Si., misalnya, menyarankan agar peternak mulai mempertimbangkan pemanfaatan bahan baku pakan lokal yang lebih ekonomis.
Penggunaan bahan baku lokal dapat menjadi salah satu opsi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan pakan tertentu yang harganya relatif tinggi, sepanjang tetap memenuhi kebutuhan nutrisi dan standar produksi ayam layer.
Sementara itu, Dr. Ir. Daryatmo, S.Pt., MP., IPM., menekankan pentingnya memperkuat komunikasi internal asosiasi.
Menurutnya, asosiasi dapat mengambil peran lebih besar dalam membantu anggotanya mengakses sarana produksi dengan harga yang lebih kompetitif. Selain itu, kelembagaan peternak juga dapat diperkuat untuk membantu mengakomodasi dan memasarkan produk anggota agar memperoleh harga yang lebih layak.
Dengan posisi tawar yang lebih kuat, peternak diharapkan tidak hanya menjadi pihak yang menerima perubahan harga pasar, tetapi memiliki ruang yang lebih besar dalam mengelola rantai pasok dan pemasaran produknya.
Alternatif lain disampaikan M. Rachman Hakim, S.Pt., M.P. Ia mengusulkan agar peternak mempertimbangkan model budidaya cage-free sebagai salah satu opsi pengembangan usaha.
Model tersebut, menurutnya, dapat dikaji untuk menghasilkan telur dengan karakteristik dan nilai tambah tertentu sehingga membuka peluang memperoleh harga jual yang lebih baik.
Namun, penerapan sistem tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi usaha, kebutuhan pasar, investasi, serta kemampuan teknis peternak.
Pendampingan ke Lapangan
Dekan Fapet Unhas Prof. Syahdar Baba didampingi Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Dr. Ir. Aslina Asnawi, S.Pt., M.Si., IPM, ASEAN Eng., Wakil Dekan Bidang Perencanaan dan Sumberdaya Prof. Ihsan A. Dagong, S.Pt., M.Si., serta Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi, dan Alumni Dr. Agr. Ir. Renny Fatmyah Utamy, S.Pt., M.Agr., IPM., menerima langsung rombongan asosiasi peternak tersebut.
Sejumlah dosen Fapet Unhas juga turut hadir, antara lain Dr. Ir. Daryatmo, S.Pt., MP., IPM., Dr. Abd. Alim Yamin, S.Pt., M.Si., M. Rachman Hakim, S.Pt., M.P., dan Indrawirawan, S.Pt., M.Sc.
Pertemuan menghasilkan kesepakatan untuk menindaklanjuti pembahasan melalui berbagai bentuk kegiatan pendampingan di lapangan.
Dengan demikian, kerja sama antara Fapet Unhas dan peternak tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi diarahkan pada penerapan sejumlah rekomendasi yang dinilai relevan dengan kebutuhan peternak.
Usai pertemuan, rombongan Asosiasi Peternak Layer Sipadecengi juga berkesempatan mengunjungi sejumlah fasilitas pengembangan peternakan yang dimiliki Fapet Unhas.
Fasilitas yang dikunjungi antara lain unit pengembangan Alope, unit kambing, serta unit pengolahan sampah berbasis maggot.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan berbagai model pengembangan peternakan dan inovasi yang dapat menjadi referensi bagi peternak dalam mengembangkan usaha mereka.
Bagi Fapet Unhas, pendampingan terhadap peternak layer Bone sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi perguruan tinggi agar ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. (*)














