MAKASSAR — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga beras naik pada Juni 2025, baik di tingkat penggilingan, grosir maupun eceran. Rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan naik sebesar naik 2,05 persen (mtm) ke level Rp13.268 per kg dan naik 2,84 persen secara tahunan (yoy).
Sementara itu, harga beras medium di penggilingan naik sebesar 2,33 persen (mtm) serta 4,51 persen persen (yoy) ke level Rp12.869 per kg. Sedangkan harga beras di tingkat grosir juga naik 1,78 persen secara bulanan dan 4,16 persen secara tahunan ke level Rp13.979 pada Juni 2025.
Kemudian, harga di tingkat eceran naik 1 persen (mtm) dan 3,38 persen (yoy) ke level Rp14.967 pada Juni.
Pengamat Ekonomi Unismuh Makassar Sutardjo Tui mengatakan, dalam jumlah produksi gabah yang banyak belum tentu mempengaruhi harga beras. Sebab, hasil produksi itu perlu ditelusuri apakah ditahan atau ada hal lain.
“Yang banyak produksi belum tentu memperoleh harga, karena teori dasarnya adalah penilaian dan penawaran, bukan produksi. Produksinya banyak, stoknya banyak, tapi banyaknya di mana? Apa di pasar atau di gudang petani? Kalau dia di pasar itu memperoleh harga, dia menjadi penawaran namanya.
Sutardjo menjelaskan, ada empat tahapan produksi beras. Dari Petani, kemudian penggilingan, kelompok pedagang atau tengkulak dan terakhir di gudang Bulog. Empat tahapan produksi ini dapat diketahui dimana beras itu ditahan sehingga terjadi lonjakan harga di pasar.
“Nah, ada empat stok itu, simpan juga empat. Di petani sendiri, yang dia simpan untuk kebutuhan ke depan, atau mau dipakai. Kemudian ada di penggilingan padi, di situ dia tumpuh juga. Kemudian terhadap ada mafia berasnya, tumpuh lah segala macam. Dan keempat ada di bulog,” jelas Sutardjo, Rabu (2/7/2025).
“Nah, stoknya itu yang kita teliti adalah, yang melimpah itu di mana? Kalau di pasar, pasti harga turun. Tapi kalau di empat komponen ini, pasti tidak ada pengaruhnya dengan harga,” sambungnya.
Melonjaknya harga beras ditengah stok melimpah harus ditelusuri oleh pemerintah pada empat komponen produksi. Kata dia, ada kekhawatiran stok beras itu sengaja di tahan untuk memanfaatkan peluang ketika terjadi keterbatasan di pasar.
“Oleh sebab itu, pemerintah harus mengutamakan, monitoring ini, stok yang mana itu di mana? Maksudnya pemerintah harus turun tangan. Satgas pangan itu, yang punya tugasnya itu. Kenapa kalau stoknya banyak, di pasar tidak ada? tegasnya.
Menurutnya, dalam kondisi sekarang dimana cadangan beras over stok seharusnya distribusi berjalan lancar. Apalagi tidak ada bencana alam yang tak terduga seperti bencana.
“Yang pekerjaan itu kan, kalau distribusi. Tapi kalau satu, tidak banjir, tidak pata jembatan, pastinya kan lancar itu. Tapi kan sekarang kondisi alam kan aman. Berarti ada di tempat-tempat produksi ini dia bermasalah di stok itu. Nah tugasnya bos satgas pangan itu,” ungkapnya.
Diketahui, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan harga beras di tingkat penggilingan naik 2,5 persen secara bulanan (mtm) dan naik 3,64 persen secara tahunan (yoy) ke level Rp12.994 per kg.
“Jika kita pilah menurut kualitas beras di penggilingan, maka beras premium naik 2,05 persen secara mtm dan naik 2,84 persen secara yoy,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (1/7).
Sementara itu, luas panen padi pada Mei 2025 sebesar 0,98 juta hektar, atau turun 22,13 persen dibandingkan Mei 2024 yang sebesar 1,26 juta hektar.
Potensi luas panen padi sepanjang Juni-Agustus 2025 diperkirakan mencapai 2,77 juta hektare atau meningkat 0,38 juta ha atau 13,05 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.
“Dengan demikian, luas panen pada sepanjang Januari-Agustus 2025 diperkirakan akan mencapai 8,24 juta hektare atau meningkat 0,96 juta hektare atau 13,22 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024,” ujar Pudji.
“Angka realisasi bisa lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan angka potensi, bergantung pada kondisi pertanaman padi pada Juni-Agustus tahun ini,” pungkasnya. (**)













