Opini

Siapa Aku? Di Antara Diri, Masyarakat, dan Tanggung Jawab Perubahan

Tim Redaksi
×

Siapa Aku? Di Antara Diri, Masyarakat, dan Tanggung Jawab Perubahan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Firdaus, Bidang Polititk DPW Muda Bergerak Sulawesi Selatan

Firdaus, Bidang Polititk DPW Muda Bergerak Sulawesi Selatan
Firdaus, Bidang Polititk DPW Muda Bergerak Sulawesi Selatan (Foto: IST)

“Siapa aku?”

Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan pertanyaan yang paling sulit dijawab. Ia tidak berhenti pada nama, profesi, gelar, atau jabatan. Ia menyentuh hakikat keberadaan manusia: untuk apa aku hidup, kepada siapa aku bertanggung jawab, dan apa arti kehadiranku bagi orang lain.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sebagian orang memilih hidup hanya untuk dirinya sendiri. Baginya, selama dapur tetap mengepul, pekerjaan berjalan, dan keluarga tercukupi, maka urusan masyarakat bukan lagi tanggung jawabnya. Namun benarkah manusia diciptakan hanya untuk menjadi penonton atas penderitaan sesamanya?

Dalam Islam, manusia tidak hanya berstatus sebagai ‘abdullah (hamba Allah), tetapi juga sebagai khalifah fil ardh, wakil Allah di bumi. Menjadi khalifah bukan berarti menjadi penguasa, melainkan menjadi penjaga kehidupan. Menjaga keadilan, merawat kemanusiaan, dan menghadirkan kemaslahatan.

Lalu muncul pertanyaan lain.

Apakah aku harus bertanggung jawab atas kemaslahatan orang-orang di sekitarku?

Jawabannya, iya. Tetapi tanggung jawab itu memiliki kadar yang berbeda. Kita tidak memikul seluruh beban dunia, tetapi kita tidak boleh melepaskan seluruh tanggung jawab kepada orang lain. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Artinya, sekecil apa pun ruang pengaruh yang kita miliki, di situlah amanah kita berada.

Ketika tetangga kelaparan, ketika anak-anak putus sekolah, ketika narkoba merusak generasi muda, ketika korupsi menjadi budaya, atau ketika ketidakadilan dibiarkan tumbuh, kita memang tidak selalu menjadi penyebabnya. Namun kita bisa menjadi bagian dari solusi, atau justru bagian dari diam yang memperpanjang masalah.

Kemiskinan bukan selalu salah orang miskin.

Ketidakadilan bukan selalu salah korbannya.

Dan kekacauan sebuah daerah bukan semata-mata kesalahan rakyatnya.

Dalam negara demokrasi, pemimpin memegang tanggung jawab yang lebih besar. Mereka memiliki kewenangan, anggaran, dan kebijakan untuk menentukan arah pembangunan. Ketika mereka gagal menghadirkan keadilan, maka mereka memikul beban moral dan politik yang tidak ringan.

Namun masyarakat juga tidak dapat sepenuhnya mencuci tangan. Sebab pemimpin sering kali lahir dari budaya masyarakatnya. Ketika masyarakat membiarkan politik uang, memaklumi kebohongan, atau memilih berdasarkan fanatisme sempit, maka mereka sedang ikut membentuk masa depan yang akan mereka terima.

Karena itu, menyalahkan pemimpin saja tidak cukup. Sebagaimana menyalahkan rakyat saja juga tidak adil. Perubahan selalu lahir dari hubungan timbal balik antara pemimpin yang berintegritas dan masyarakat yang sadar.

Saya teringat sebuah metafora.

Kadang-kadang daerah dipimpin oleh “orang rabun dekat”. Ia mampu melihat sesuatu yang berada di hadapannya, tetapi gagal memandang masa depan. Kebijakan dibuat hanya untuk kepentingan hari ini, bukan untuk generasi berikutnya. Kritik dianggap ancaman, sementara pujian dijadikan ukuran keberhasilan.

Di sampingnya berdiri “orang yang penglihatannya jauh, tetapi lumpuh”. Ia mampu membaca arah zaman, memahami persoalan, bahkan menawarkan solusi. Namun ia tidak memiliki keberanian, kekuasaan, atau kesempatan untuk menggerakkan perubahan. Pengetahuan akhirnya berhenti menjadi wacana.

Maka lahirlah kebijakan tanpa visi, dan visi tanpa tindakan.

Di sinilah masyarakat sering menjadi korban.

Tetapi sekali lagi, pertanyaannya kembali kepada diri kita.

Siapa aku?

Apakah aku hanya penonton yang pandai mengeluh di media sosial?

Apakah aku hanya pengkritik yang tidak pernah mau terlibat?

Ataukah aku seseorang yang memilih menjadi bagian dari perubahan, meskipun langkahku kecil?

Saya percaya, perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran pribadi. Seorang guru yang mendidik dengan jujur. Seorang mahasiswa yang berani berpikir kritis. Seorang pemuda yang menggerakkan komunitasnya. Seorang pemimpin yang takut kepada Tuhan lebih daripada takut kehilangan jabatan.

Kita memang tidak bisa menyelesaikan seluruh persoalan bangsa. Namun kita selalu dapat memperbaiki sebagian kecil dari dunia di sekitar kita.

Barangkali, itulah jawaban dari pertanyaan “Siapa aku?”

Aku bukan penyelamat dunia.

Tetapi aku juga bukan penonton yang bebas dari tanggung jawab.

Aku adalah manusia yang diberi akal untuk berpikir, hati untuk peduli, dan tangan untuk bekerja. Selama masih ada ketidakadilan, kemiskinan, dan kekacauan di sekitarku, maka aku memiliki kewajiban moral untuk tidak tinggal diam.

Sebab sejarah tidak hanya mencatat siapa yang berbuat salah. Sejarah juga mencatat siapa yang memilih diam ketika kebenaran membutuhkan keberanian. (*)

Andi Iqbal Burhanuddin
Opini

KEPUTUSAN pemerintah melibatkan perguruan tinggi dalam ekosistem Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui…