Berita

Sampah Kulit Buah Bisa Jadi Obat Kulit, 14 Pj RW Minasa Upa Antusias Ikuti Sosialisasi

Tim Redaksi
×

Sampah Kulit Buah Bisa Jadi Obat Kulit, 14 Pj RW Minasa Upa Antusias Ikuti Sosialisasi

Sebarkan artikel ini
Kegiatan sosialisasi pemilahan sampah organik yang digelar pada Rabu (28/5/2025)
Kegiatan sosialisasi pemilahan sampah organik yang digelar pada Rabu (28/5/2025)

MAKASSAR – Sebanyak 14 Penjabat Ketua RW di Kelurahan Minasa Upa, Kecamatan Rappocini, tampak antusias mengikuti sosialisasi pemilahan sampah organik yang digelar pada Rabu (28/5/2025).

Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah pemanfaatan kulit buah-buahan menjadi produk bermanfaat, seperti obat luka dan perawatan kulit.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Dalam sosialisasi tersebut, dr. Ririn, seorang dokter sekaligus pemerhati lingkungan, menjelaskan bahwa kulit buah seperti jeruk, pisang, dan nanas dapat diolah menjadi eco enzyme—cairan hasil fermentasi sampah organik yang memiliki berbagai manfaat.

“Eco enzyme dari kulit buah yang biasanya dibuang begitu saja, ternyata bisa menjadi obat luka ringan, mencegah jerawat, dan perawatan kulit lainnya. Ini sudah dilakukan oleh beberapa tenaga medis dan hasilnya cukup menjanjikan,” ujar dr. Ririn, alumnus Fakultas Kedokteran Unhas, saat memberikan materi di hadapan para PJ RW dan tamu undangan.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Bidang Persampahan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar Bau Asseng, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.

Menurutnya, langkah awal berupa edukasi masyarakat sangat penting agar volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bisa dikurangi.

“Kita ingin masyarakat mulai memilah dan mengolah sampah sebelum dibuang. Ada proses berjenjang mulai dari pengelolaan rumah tangga, Bank Sampah, TPS 3R, dan terakhir ke TPA. Ini akan sangat membantu mengurangi beban sampah kota,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, juga hadir penyuluh lingkungan dari Kecamatan Rappocini, Endhy, yang selama ini aktif menginisiasi kegiatan kolaboratif antara masyarakat dan pemerintah. Ia berharap kegiatan seperti ini bisa terus berkelanjutan dan diperluas ke wilayah lain.

“Kolaborasi antara pemerintah, penyuluh lingkungan, dan warga sangat penting. Kita ingin ini tidak berhenti di satu kelurahan saja, tapi menyebar ke seluruh kecamatan di Kota Makassar,” ujar Endhy.

Dukungan serupa disampaikan Juardi, perwakilan penyuluh dari Subcon, yang menilai kegiatan edukasi lingkungan harus menjadi program berkelanjutan dan menyentuh langsung warga.

Dengan pendekatan inovatif seperti pemanfaatan sampah kulit buah menjadi produk kesehatan, kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan masyarakat, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa sampah bukan sekadar limbah, melainkan potensi yang bisa diolah menjadi berkah. (*)