LUWU TIMUR – Pemerintah Kabupaten Luwu Timur terus mendorong penguatan budaya sadar bencana dengan meningkatkan kapasitas aparatur dan pemangku kepentingan dalam menghadapi berbagai potensi bencana di daerah.
Upaya tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Rawan Bencana Tahun 2026 yang digelar di Aula Sasana Praja, Kantor Bupati Luwu Timur, Kamis (16/7/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu Timur itu diikuti 75 peserta, terdiri atas perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), para camat, serta kepala UPTD puskesmas se-Kabupaten Luwu Timur.
Sosialisasi juga menghadirkan Tenaga Ahli BPBD Provinsi Sulawesi Selatan, Ir. Jasmani Ghadi, bersama Koordinator Pos Unit Siaga Makassar sebagai narasumber.
Sosialisasi dibuka Kepala Pelaksana BPBD Luwu Timur, dr. H. April, yang hadir mewakili Bupati Luwu Timur.
Dalam sambutannya, dr. April mengingatkan bahwa kondisi geografis Luwu Timur yang didominasi kawasan pegunungan dan perbukitan membuat wilayah tersebut memiliki tingkat kerawanan terhadap berbagai jenis bencana, mulai dari gempa bumi, tanah longsor, banjir, hingga angin puting beliung.
“Wilayah Kabupaten Luwu Timur memiliki potensi bencana seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir, angin puting beliung, hingga berbagai ancaman bencana lainnya yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan Indeks Risiko Bencana Nasional (IRBN) 2025, Kabupaten Luwu Timur berada pada peringkat ke-22 dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan dengan kategori risiko sedang terhadap berbagai ancaman bencana.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa penanggulangan bencana tidak cukup hanya berfokus pada penanganan saat bencana terjadi, tetapi harus diperkuat melalui langkah-langkah mitigasi dan pencegahan.
“Penanganan bencana selama ini masih lebih banyak berorientasi pada fase tanggap darurat melalui pemberian bantuan fisik. Padahal, aspek mitigasi, pencegahan, dan pemulihan pascabencana harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, BPBD berharap peserta memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai strategi mitigasi, kesiapsiagaan, hingga mekanisme penanganan bencana sehingga mampu meminimalkan risiko dan dampak apabila bencana terjadi.
Sementara itu, Tenaga Ahli BPBD Provinsi Sulawesi Selatan, Ir. Jasmani Ghadi, menegaskan bahwa komunikasi, informasi, dan edukasi merupakan elemen penting dalam membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan penanggulangan bencana sangat bergantung pada keterlibatan seluruh elemen, tidak hanya pemerintah.
“Penanggulangan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat melalui peningkatan pengetahuan, kesiapsiagaan, dan koordinasi yang baik sejak sebelum bencana terjadi,” kata Jasmani.
Melalui sosialisasi ini, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur berharap kolaborasi antara pemerintah, fasilitas layanan kesehatan, dan masyarakat semakin kuat sehingga upaya mitigasi dapat berjalan lebih efektif dan mampu meningkatkan ketangguhan daerah dalam menghadapi potensi bencana. (*)















