Persona

Begini Cetak Biru Perubahan Unhas ala Prof. Budu

Tim Redaksi
×

Begini Cetak Biru Perubahan Unhas ala Prof. Budu

Sebarkan artikel ini
Calon Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2026–2030, Prof. dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K)., M.Med.Ed
Calon Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2026–2030, Prof. dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K)., M.Med.Ed (Foto: IST)

MAKASSAR – Universitas Hasanuddin (Unhas) tengah bersiap menyongsong babak baru kepemimpinan. Di tengah harapan besar sivitas akademika terhadap perubahan yang nyata, nama Prof. dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K)., M.Med.Ed mencuat sebagai sosok yang membawa visi transformatif.

Tak sekadar berbicara soal program, ia datang dengan cetak biru perubahan—rencana strategis yang menata ulang kesejahteraan warga kampus, memperkuat laboratorium riset, menata lingkungan akademik, hingga membangun fondasi digitalisasi dan kemandirian finansial Unhas.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Prof Budu, demikian ia disapa sehari-hari, tampil sebagai calon rektor Unhas dengan visi besar, yaitu membawa kampus merah menuju tata kelola baru yang efisien, sejahtera, dan berdaya saing tinggi.

Ia menyebutnya sebagai “cetak biru perubahan Unhas”, sebuah agenda strategis yang menempatkan kesejahteraan manusia kampus, ketertiban lingkungan, dan penguatan akademik sebagai fondasi utama.

“Saya mendengar langsung aspirasi dari alumni dan mahasiswa yang menginginkan perubahan. Ini menjadi validasi dan penyemangat bagi saya dan tim, bahwa kepercayaan untuk memimpin Unhas ke arah yang lebih baik sangat besar,” ungkap Prof. Budu, beberapa waktu lalu.

Keadilan untuk Semua Warga Kampus

Dalam cetak biru tersebut, Prof. Budu memberi perhatian khusus pada tenaga kontrak dan pegawai non-dosen, kelompok yang kerap terpinggirkan dalam pembicaraan soal kesejahteraan di kampus.

Menurutnya, mereka adalah bagian integral dari roda kehidupan Unhas — para pekerja yang menjaga kebersihan, ketertiban, dan pelayanan administrasi, namun sering kali belum merasakan kesejahteraan yang layak.

“Mereka juga punya keluarga dan tanggung jawab yang sama seperti dosen atau guru besar. Kita akan tinjau ulang beban kerja dan take home pay-nya, serta pastikan mereka bisa mengakses layanan kesehatan di Rumah Sakit dan Klinik Unhas,” tegasnya.

Bagi Prof. Budu, keadilan bagi seluruh warga kampus adalah fondasi moral bagi perubahan yang berkelanjutan.

Tertib, Nyaman, dan Berwawasan Lingkungan

Aspek tata kelola kampus juga menjadi sorotan utama. Prof. Budu menilai, Unhas harus menjadi kampus yang ramah bagi semua sivitas akademika — bukan sekadar megah secara fisik, tetapi juga tertib dan fungsional.

Ia berkomitmen untuk menata ulang sistem lalu lintas dan parkir di dalam kawasan kampus, mengurai kemacetan, dan memperbaiki sirkulasi ruang agar lingkungan belajar lebih nyaman.

“Kampus harus bebas dari kesemrawutan. Kita akan mulai dari hal yang sederhana: jalan utama, area parkir, hingga fasilitas publik yang rapi dan ramah bagi mahasiswa maupun tamu,” ujarnya.

Laboratorium Kuat, Akademik Hebat

Dalam visi akademiknya, Prof. Budu menempatkan laboratorium sebagai jantung kegiatan ilmiah. Ia menilai, kualitas laboratorium di setiap fakultas menjadi indikator utama dalam meningkatkan mutu riset, publikasi ilmiah, dan akreditasi program studi.

“Laboratorium yang memadai adalah prasyarat untuk menghasilkan riset unggulan. Kita akan benahi fasilitas dan dukungan teknis agar Unhas bisa bersaing di tingkat nasional dan internasional,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran itu.

Langkah ini, menurutnya, akan memperkuat posisi Unhas sebagai universitas riset unggulan di kawasan timur Indonesia.

Transformasi Digital dan Kemandirian Finansial

Salah satu pilar inovatif dalam cetak biru Prof. Budu adalah pengembangan Centralized Digital Platform and Technology Business (CDPTB).

Melalui platform ini, Unhas akan mengintegrasikan potensi teknologi, riset, dan aset bisnis kampus untuk menciptakan unit usaha baru yang cepat menghasilkan dan berkelanjutan.

“Kita tidak hanya ingin mengandalkan dana pemerintah. Dengan platform digital terpadu, Unhas bisa lebih mandiri dan berdaya saing di era ekonomi pengetahuan,” paparnya.

Selain itu, Prof. Budu berencana melakukan audit kelembagaan serta restrukturisasi unit kerja guna menciptakan tata kelola yang lebih ramping dan produktif.

Beberapa nomenklatur Wakil Rektor juga akan dievaluasi, termasuk penambahan bidang kewirausahaan dan digitalisasi pembelajaran sebagai respons terhadap tuntutan zaman.

Prof dr Budu, Ph.D., Sp.M(K), Calon Rektor Unhas (Foto: IST)

Pemimpin yang Teruji, Visi yang Konsisten

Rekam jejak kepemimpinan Prof. Budu semakin kokoh setelah dirinya kembali terpilih sebagai Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) untuk periode 2025–2028 dalam Kongres Nasional XVII di Bandung.

Kepercayaan ini menjadi bukti kapasitas manajerial dan integritasnya, setelah sukses memimpin Perdami selama periode 2022–2025 dengan berbagai capaian strategis, seperti program advokasi kesehatan mata nasional, operasi katarak massal, dan kerja sama lintas lembaga dengan BPJS Kesehatan.

Pengalaman nasional inilah yang akan ia bawa ke Unhas, memadukan gaya kepemimpinan berbasis kolaborasi, data, dan hasil nyata.

Menuju Unhas yang Efisien, Sejahtera, dan Berdaya Saing

Bagi Prof. Budu, perubahan di Unhas bukan hanya slogan.

Ia telah menyiapkan langkah-langkah konkret untuk membangun universitas yang efisien dalam tata kelola, adil dalam kesejahteraan, dan unggul dalam prestasi.

“Kita ingin semua elemen kampus maju bersama. Dosen, tenaga kontrak, mahasiswa, semuanya harus merasakan manfaat dari perubahan ini,” tutupnya penuh keyakinan.

Cetak biru yang ditawarkan Prof. Budu bukan sekadar rencana kerja — melainkan peta jalan menuju Unhas masa depan, yaitu kampus yang menumbuhkan manusia, memuliakan ilmu, dan menatap dunia dengan percaya diri. (*)