GOWA – Antrean kendaraan yang mengular di sejumlah SPBU di Kabupaten Gowa menjadi pemandangan yang sulit dihindari dalam beberapa hari terakhir. Masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam demi mendapatkan BBM.
Di tengah situasi itu, ada satu hal yang tetap berusaha menyala, yakni semangat membaca dan bertemu melalui Pustaka Sabtu Sore.
Sabtu (12/9/2026) sore ini, di Lapangan Syekh Yusuf, aktivitas lapak baca kembali digelar. Buku-buku dibentangkan, obrolan dibuka, dan ruang perjumpaan tetap dihidupkan.
Bahkan ketika sebagian masyarakat sedang sibuk menghitung sisa bensin di tangki kendaraan dan memperkirakan panjang antrean di SPBU, anak-anak muda dan pegiat literasi memilih untuk tetap berkumpul bersama buku.
Barangkali ini terlihat sederhana. Tetapi justru di tengah keadaan yang serba tidak pasti, kegiatan sederhana semacam ini menjadi penting.
Pertalite boleh langka, tetapi Pustaka Sabtu Sore tidak boleh ikut padam.
Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan BBM untuk menggerakkan kendaraan. Masyarakat juga membutuhkan pengetahuan untuk menggerakkan pikiran.
Sore ini, Pustaka Sabtu Sore tidak hanya menjadi lapak membaca. Ada pula ruang “obrol-obrol bau bensin”—sebuah ruang untuk mendengar cerita, keluhan, pengalaman, bahkan strategi masyarakat menghadapi antrean panjang di SPBU.
Ada yang datang membawa buku. Ada yang datang membawa cerita. Ada pula yang mungkin datang dengan sisa bensin yang harus benar-benar dihemat.
Semua dipertemukan dalam satu ruang: ruang untuk saling mendengar dan menguatkan.
Di tengah situasi sosial yang membuat banyak orang mudah lelah dan frustrasi, menjadi individualis bukan satu-satunya pilihan. Kita masih bisa memilih untuk hadir, berbagi, mendengar dan saling menyemangati.
Saya sendiri sore ini membaca buku Santai Aja, Namanya Juga Hidup!
Salah satu pesan yang saya tangkap dari buku tersebut adalah dorongan untuk menjadi lebih baik terhadap diri sendiri dan merefleksikan bagaimana seharusnya kita memperlakukan kehidupan.
Pesan itu terasa relevan dengan keadaan hari ini.
Ketika antrean panjang membuat emosi naik, ketika BBM sulit didapat, ketika waktu dan tenaga terkuras, kita memang membutuhkan kesabaran. Tetapi sabar bukan berarti diam terhadap keadaan. Refleksi juga bukan berarti menerima segala sesuatu tanpa kritik.
Kita tetap boleh bertanya.
Mengapa masyarakat harus mengantre begitu panjang hanya untuk mendapatkan BBM? Mengapa kebutuhan dasar bisa berubah menjadi perjuangan yang melelahkan? Dan sampai kapan masyarakat harus terus beradaptasi dengan kondisi yang seharusnya bisa dibenahi?
Pertanyaan-pertanyaan itu layak dibicarakan.
Namun, sambil menunggu jawaban, mari kita tetap menjaga kewarasan. Membaca. Berdiskusi. Bertemu. Dan saling menguatkan.
Sebab mungkin kita tidak selalu bisa mengendalikan keadaan di luar diri kita. Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana meresponsnya.
Pertalite boleh langka. Antrean boleh panjang. Tetapi akal sehat, kepedulian dan semangat literasi jangan sampai ikut habis.
Dari Lapangan Syekh Yusuf, Pustaka Sabtu Sore terus menyala. Dengan buku, dengan akal merdeka, kita melawan dengan elegan. (*)













