Makassar

Hadapi Musim Hujan, Pemkot Makassar Jajaki Teknologi Penyedot Air dari Jepang

Tim Redaksi
×

Hadapi Musim Hujan, Pemkot Makassar Jajaki Teknologi Penyedot Air dari Jepang

Sebarkan artikel ini
Hadapi Musim Banjir, Wali Kota Appi Cari Solusi Siapkan Kendaraan Penyedot Air Berteknologi dari Jepang

MAKASSAR – Pemerintah Kota Makassar menjajaki pemanfaatan teknologi kendaraan penyedot dan penyemprot air bertekanan tinggi dari Jepang untuk memperkuat penanganan genangan dan banjir menjelang musim hujan.

Penjajakan tersebut dilakukan melalui kerja sama city-to-city antara Kota Makassar dan Kota Yokohama, Jepang, yang difasilitasi Nippon Koei Co., Ltd.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meninjau langsung demonstrasi penggunaan teknologi tersebut di kanal depan Dankeslap TNI AD, Jalan Gunung Bawakaraeng, Makassar, Selasa (27/10/2026).

Menurut Munafri, teknologi ini berpotensi membantu mempercepat penanganan genangan sekaligus membersihkan sedimentasi dan sampah yang menghambat aliran air di kanal maupun saluran drainase.

“Ke depan, alat ini diharapkan bisa membantu mengantisipasi banjir dan genangan. Dengan begitu, penanganan air di kanal maupun selokan bisa dilakukan lebih cepat dan efektif,” ujar wali kota yang akrab disapa Appi itu.

Ia mengatakan, penjajakan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan infrastruktur drainase, terutama di kawasan permukiman dan titik rawan banjir yang kerap terdampak ketika curah hujan meningkat.

BACA JUGA:  Munafri Arifuddin Dorong Sinergi Baru bersama Dandim 1408/Makassar

Saluran Drainase Jadi Perhatian

Munafri menyebut, berdasarkan prediksi cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Makassar diperkirakan memasuki periode peningkatan curah hujan pada akhir November hingga awal Desember.

Karena itu, pemerintah kota mulai mengidentifikasi kebutuhan peralatan yang dapat mendukung penanganan drainase secara lebih optimal.

“Kita ingin memastikan seluruh saluran drainase yang menjadi titik rawan banjir bisa diantisipasi sejak awal,” katanya.

Menurut Munafri, kesiapsiagaan perlu dilakukan sejak dini agar pemerintah dapat merespons lebih cepat ketika hujan berintensitas tinggi memicu genangan di jalan maupun kawasan permukiman.

“Ini merupakan ikhtiar untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat dan mempercepat penanganan apabila ada warga yang terdampak,” sambungnya.

Atasi Sedimentasi dan Saluran Tertutup

Munafri menjelaskan, salah satu tantangan penanganan drainase di Makassar adalah keberadaan saluran tertutup serta penumpukan sedimen dan sampah yang menghambat aliran air.

BACA JUGA:  Apel Siaga Bencana, Munafri Ajak Semua Pihak Perkuat Sistem Tanggap Darurat

Kondisi tersebut membutuhkan dukungan peralatan yang mampu menjangkau bagian saluran yang sulit dibersihkan menggunakan metode konvensional.

Dalam demonstrasi tersebut, kendaraan penyedot diperlihatkan sebagai salah satu alternatif untuk membantu memindahkan air dari lokasi genangan menuju kanal utama atau saluran pembuangan yang sesuai. Sementara itu, kendaraan penyemprot bertekanan tinggi berpotensi membantu melepaskan kotoran dan endapan yang melekat pada saluran.

“Kota Makassar memiliki banyak saluran, termasuk yang tertutup. Karena itu, kita membutuhkan alat yang bisa membantu proses penyedotan dan pembersihan secara lebih maksimal, sehingga persoalan sampah dan sedimentasi di saluran dapat ditangani dengan lebih baik,” ungkapnya.

Meski demikian, Munafri menegaskan bahwa demonstrasi tersebut masih menjadi tahap awal untuk menilai kesesuaian teknologi dengan kondisi drainase di Makassar.

Pemerintah kota akan mempertimbangkan efektivitas peralatan, kebutuhan operasional, serta manfaatnya bagi penanganan banjir sebelum menentukan pemanfaatan lebih lanjut.

BACA JUGA:  Rakor Bareng Danny, Appi Tekankan Keberlanjutan dan Penguatan Tim Pemkot Makassar

Penjajakan Kerja Sama dengan Kota Yokohama

Melalui kerja sama dengan Kota Yokohama, Pemkot Makassar berharap dapat mempelajari penerapan teknologi yang sesuai dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan penanganan banjir di lapangan.

Munafri menekankan bahwa upaya mengurangi risiko genangan tidak cukup hanya mengandalkan respons ketika banjir terjadi.

Pemeliharaan saluran air, pembersihan sedimentasi, serta pengangkatan sampah yang menyumbat aliran juga perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Dengan dukungan peralatan yang tepat, proses pembersihan dan penanganan genangan diharapkan dapat berlangsung lebih cepat, khususnya di lokasi yang membutuhkan respons segera.

“Melalui langkah antisipatif ini, kita berupaya memastikan penanganan genangan dan banjir dapat dilakukan secara lebih terukur, efektif, dan berorientasi pada keselamatan serta kenyamanan warga,” pungkas Munafri.

Pemkot Makassar berharap penjajakan tersebut membuka peluang pemanfaatan teknologi yang efektif untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim hujan, sekaligus meningkatkan kualitas pemeliharaan infrastruktur drainase di kota ini. (*)