MAKASSAR — Sejumlah titik penumpukan sampah di wilayah perbatasan Kota Makassar kembali dikeluhkan warga.
Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar agar tidak semakin mengganggu kenyamanan masyarakat.
Kepala Bidang Persampahan DLH Makassar, Dr. Bau Asseng, menjelaskan bahwa persoalan sampah di kawasan perbatasan kerap muncul karena kurangnya kolaborasi antara warga dan pihak penanggung jawab wilayah.
Selain itu, masih banyak area “abu-abu” yang belum memiliki kejelasan terkait pengelolaan sampah karena berada di antara dua wilayah yang berbeda.
“Umumnya lokasi-lokasi abu-abu ini membuat tanggung jawab pengelolaan tidak jelas, khususnya di area yang berbatasan. Ketidaktahuan masyarakat dan jauhnya jangkauan layanan membuat batas-batas wilayah ini perlu terlayani secara lebih optimal,” ujar Bau Asseng, Rabu (19/11).
Keluhan warga terkait tumpukan sampah, seperti yang disampaikan Ibu Icha dari wilayah Bontobila, menunjukkan masih adanya praktik saling lempar tanggung jawab antarwilayah.
Bau Asseng menilai hal ini harus ditangani serius, mengingat sampah yang tidak dipilah dan dibiarkan menumpuk dapat menimbulkan bau tidak sedap, terutama saat musim hujan.
Menanggapi hal tersebut, ia meminta masyarakat di wilayah perbatasan untuk lebih proaktif melaporkan kondisi lapangannya serta membangun komunikasi langsung dengan petugas persampahan.
Menurutnya, langkah itu penting agar layanan dapat segera ditindaklanjuti.
Sejumlah titik penumpukan sampah yang kerap menjadi sumber aduan warga di antaranya berada di kawasan Buntusu, Katimbang, serta beberapa lokasi transfer sampah.
DLH Makassar menegaskan pentingnya koordinasi antara kelurahan terkait untuk memastikan pengawasan berjalan baik dan persoalan tidak terus berulang. (*)



















