MAKASSAR – WIRATAMA Sulawesi Selatan menegaskan komitmennya untuk menjadi bagian dari gerakan pembangunan masyarakat melalui penguatan ketahanan pangan yang berbasis pada pemberdayaan dan kemandirian masyarakat.
Ketua WIRATAMA Sulawesi Selatan, Rahmat K., mengatakan ketahanan pangan tidak cukup dimaknai sebagai tersedianya bahan pangan semata, tetapi juga harus diukur dari kemampuan masyarakat memproduksi, mengelola, dan mengembangkan sumber pangan secara mandiri, berkelanjutan, serta mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan pangan, tetapi bagaimana masyarakat memiliki kemampuan untuk menghasilkan dan mengelola pangan secara mandiri sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan mereka,” ujar Rahmat dalam keterangannya, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, WIRATAMA Sulawesi Selatan memfokuskan penguatan ketahanan pangan melalui pengembangan tiga sektor utama, yakni pertanian, perikanan, dan peternakan. Ketiga sektor tersebut dinilai saling melengkapi dalam membangun sistem pangan yang kuat sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Ia menjelaskan, organisasi yang dipimpinnya tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil produksi, tetapi juga menaruh perhatian besar terhadap peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan, pendampingan, pemanfaatan teknologi tepat guna, hingga penguatan kelembagaan kelompok usaha masyarakat.
“Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi menjadi pelaku utama pembangunan yang mampu mengelola potensi lokal secara produktif dan berkelanjutan,” katanya.
Rahmat menilai keberhasilan membangun ketahanan pangan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Karena itu, WIRATAMA Sulawesi Selatan mengajak pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan berbagai elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun ekosistem pangan yang modern, produktif, dan berdaya saing.
Menurutnya, sinergi tersebut menjadi kunci dalam memperkuat sektor pertanian, perikanan, dan peternakan sebagai fondasi pembangunan ekonomi masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas gizi keluarga.
Ia menegaskan, bagi WIRATAMA, ketahanan pangan merupakan gerakan sosial yang bertujuan menciptakan masyarakat yang mandiri. Ketika setiap keluarga mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangannya melalui lahan pertanian, kolam perikanan, maupun usaha peternakan yang dikelola sendiri, maka ketahanan ekonomi rumah tangga juga akan semakin kuat.
“Ketahanan pangan adalah gerakan membangun kemandirian masyarakat. Ketika masyarakat mampu menghasilkan pangan sendiri, maka lahir masyarakat yang lebih mandiri, ekonomi yang lebih kuat, dan daerah yang lebih tangguh menghadapi berbagai tantangan,” ujarnya.
Rahmat menambahkan, WIRATAMA Sulawesi Selatan akan terus memperkuat perannya sebagai mitra masyarakat dalam membangun ketahanan pangan yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan demi terwujudnya Sulawesi Selatan yang mandiri dan berdaulat di bidang pangan.
Ia juga menjelaskan bahwa nama WIRATAMA berasal dari bahasa Sanskerta-Jawa yang bermakna “prajurit utama” atau “pahlawan utama”. Filosofi tersebut mencerminkan semangat kepemimpinan, keberanian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Menurut Rahmat, setiap huruf dalam akronim WIRATAMA mengandung nilai perjuangan organisasi, yakni W (Wiryawan – keberanian dan kewibawaan), I (Ing – di dalam), R (Reh – urusan atau bidang), A (Artha – ekonomi atau kesejahteraan), T (Tata – aturan dan sistem), A (Angrengga – membangun dan mengembangkan), M (Memayu – memelihara), serta A (Adiluhung – luhur dan mulia).
Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, menjadi landasan organisasi dalam menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada pembangunan ekonomi, ketahanan pangan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Selatan. (*)














