Nasional

Penutupan Prodi Dinilai Berisiko, Anies Baswedan Ingatkan Pentingnya Ilmu Murni

Tim Redaksi
×

Penutupan Prodi Dinilai Berisiko, Anies Baswedan Ingatkan Pentingnya Ilmu Murni

Sebarkan artikel ini
Anies Baswedan saat menjabat Gubernur DKI Jakarta

JAKARTA — Wacana penutupan sejumlah program studi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri mendapat sorotan dari Anies Baswedan.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak diambil secara terburu-buru tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Melalui akun media sosial X pribadinya, Sabtu (25/4/2026), Anies menilai kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek berpotensi membawa konsekuensi serius terhadap arah pembangunan bangsa.

“Wacana ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek bisa membelokkan arah perjalanan bangsa jika tidak hati-hati,” tulisnya.

Anies menekankan pentingnya memahami posisi ilmu murni dalam ekosistem pendidikan tinggi. Menurutnya, disiplin ilmu yang kerap dianggap tidak langsung terkait dengan kebutuhan industri justru menjadi fondasi bagi berbagai inovasi besar.

Ia menjelaskan, banyak teknologi yang saat ini digunakan—mulai dari internet hingga kemajuan di bidang kesehatan—lahir dari penelitian dasar yang pada awalnya tidak berorientasi pada kebutuhan pasar.

“Teori-teori yang dulu dianggap tidak berguna justru melahirkan teknologi yang kini menjadi kebutuhan,” ujarnya.

Dalam pandangannya, relevansi sebuah ilmu tidak selalu dapat diukur dalam jangka pendek. Apa yang saat ini tampak jauh dari dunia industri, bisa menjadi tulang punggung ekonomi di masa depan.

Anies juga mengingatkan risiko yang dihadapi jika kebijakan pendidikan terlalu berorientasi pada kebutuhan pasar jangka pendek. Negara, kata dia, berpotensi hanya menjadi pengguna teknologi tanpa kemampuan menciptakan inovasi sendiri.

“Jika hanya menyiapkan tenaga siap pakai tanpa melahirkan pemikir dasar, kita berisiko menjadi pasar, bukan pencipta,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa banyak kebijakan publik strategis justru bertumpu pada ilmu dasar, seperti epidemiologi dalam penanganan pandemi, ilmu lingkungan dalam menghadapi perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam perumusan kebijakan fiskal.

Karena itu, Anies menilai penguatan pendidikan tinggi seharusnya dilakukan dengan membangun jembatan antara ilmu murni dan terapan, bukan dengan menghilangkan salah satunya.

“Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan,” katanya.

Ia menegaskan, tujuan utama pendidikan tinggi bukan semata mencetak tenaga kerja, melainkan membangun fondasi peradaban dan masa depan bangsa.

“Pendidikan tinggi adalah tentang menyiapkan masa depan, bukan hanya memenuhi kebutuhan industri hari ini,” ucapnya.

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mewacanakan penutupan sejumlah program studi yang dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri dan pertumbuhan ekonomi.

Rencana tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, dalam Simposium Nasional Kependudukan 2026 di Kabupaten Badung, Bali, Kamis (23/4/2026).

Badri menyebut langkah tersebut akan segera dieksekusi dan meminta perguruan tinggi melakukan evaluasi terhadap program studi yang dinilai tidak lagi sesuai dengan kebutuhan zaman. (*)