Luwu Timur

Epoch Class SMAN 4 Luwu Timur Telusuri Jejak Peradaban Matano Lewat Studi Wawasan

Tim Redaksi
×

Epoch Class SMAN 4 Luwu Timur Telusuri Jejak Peradaban Matano Lewat Studi Wawasan

Sebarkan artikel ini
Epoch Class SMAN 4 Luwu Timur Telusuri Jejak Peradaban Matano Lewat Studi Wawasan

LUWU TIMUR — Upaya mengenal lebih dekat sejarah dan warisan budaya lokal dilakukan siswa-siswi Epoch Class (XI Kesehatan 2) SMAN 4 Luwu Timur melalui kegiatan Studi Wawasan ke Yayasan Wawainia Rahampu’u Matano, Selasa (9/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat dan Pusat Riset Peradaban Matano hingga Museum Wawainia Matano tersebut menjadi sarana pembelajaran langsung bagi para siswa untuk memahami perjalanan sejarah Matano dan peradaban yang pernah berkembang di kawasan Sorowako.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Rombongan berangkat sekitar pukul 09.20 WITA dari Villa Fatimah menuju Sekretariat dan Pusat Riset Peradaban Matano. Setibanya di lokasi, para peserta mendapatkan pemaparan dari Sharon yang bertindak sebagai pemandu studi wawasan.

Dalam sesi tersebut, Sharon menjelaskan berbagai aspek sejarah Kabupaten Luwu Timur, khususnya wilayah Matano dan Sorowako yang dikenal memiliki jejak peradaban tua dengan nilai sejarah yang penting bagi perkembangan kawasan Tana Luwu.

“Kami ingin memperkenalkan kepada generasi muda bahwa Matano bukan hanya dikenal karena kekayaan alamnya, tetapi juga menyimpan sejarah panjang dan warisan peradaban yang patut dipelajari serta dilestarikan,” ujar Sharon di hadapan para peserta.

Setelah menyelesaikan sesi pertama, rombongan melanjutkan kunjungan ke Museum Wawainia Matano yang juga menjadi kediaman Mokole Wawainia Rahampu’u Matano.

Di museum tersebut, Bayu selaku pemandu menjelaskan berbagai koleksi artefak yang ditemukan di kawasan Matano, termasuk sejumlah benda yang diperkirakan berasal dari abad ke-8.

Para siswa diperkenalkan dengan berbagai peninggalan sejarah seperti topi perang, senjata tradisional, peralatan logam, hingga bahan-bahan yang digunakan masyarakat masa lampau untuk membuat perlengkapan kehidupan sehari-hari.

“Benda-benda ini menjadi bukti bahwa kawasan Matano memiliki peradaban yang berkembang sejak ratusan tahun lalu. Melalui artefak ini kita dapat memahami bagaimana masyarakat pada masa itu hidup, berinteraksi, dan membangun kebudayaannya,” jelas Bayu.

Kegiatan studi wawasan kemudian dilanjutkan dengan pertemuan bersama Permaisuri Mokole Wawainia Rahampu’u Matano, Zeni Ranggo, yang didampingi H. Abutar Ranggo.

Dalam suasana penuh keakraban, Zeni Ranggo menyampaikan apresiasi atas ketertarikan para pelajar untuk mempelajari sejarah daerahnya sendiri.

Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai budaya dan sejarah lokal.

“Kami merasa bangga karena masih ada generasi muda yang memiliki kepedulian untuk mengenal sejarah leluhurnya. Pengetahuan tentang sejarah adalah bagian penting untuk membangun identitas dan karakter generasi masa depan,” tutur Zeni Ranggo.

Sebagai bentuk penghargaan atas kunjungan tersebut, pihak Yayasan Wawainia Rahampu’u Matano menyerahkan plakat kepada Epoch Class SMAN 4 Luwu Timur.

Momen itu kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan penyampaian yel-yel khas Epoch Class yang dipimpin oleh James. Dengan penuh semangat, para siswa meneriakkan slogan “SMA Negeri 4 Luwu Timur” yang disambut serentak dengan pekikan, “Goes To Yayasan Wawainia Rahampu’u Matano!”

Sementara itu, H. Abutar Ranggo berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan sebagai bagian dari upaya mengenalkan sejarah dan budaya Matano kepada generasi muda.

“Sejarah tidak boleh hanya disimpan dalam buku atau cerita lisan. Anak-anak perlu melihat langsung bukti-bukti sejarah agar mereka memahami bahwa daerah ini memiliki warisan peradaban yang besar dan membanggakan,” katanya.

Perjalanan studi wawasan tersebut ditutup dengan foto bersama antara siswa, guru pembina, pendamping, serta keluarga besar Yayasan Wawainia Rahampu’u Matano.

Melalui kegiatan ini, Epoch Class SMAN 4 Luwu Timur tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di luar kelas, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang sejarah Matano sebagai salah satu kawasan yang memiliki jejak peradaban penting di Kabupaten Luwu Timur.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian sejarah dan budaya membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda sebagai pewaris masa depan. (*)