Berita

Aspal Baru Sudah Retak, Proyek Jalan Pekkae–BTS di Barru Disorot Warga

Tim Redaksi
×

Aspal Baru Sudah Retak, Proyek Jalan Pekkae–BTS di Barru Disorot Warga

Sebarkan artikel ini
Kualitas Dipertanyakan, Proyek Jalan Pekkae–BTS Soppeng Mulai Rusak
Kualitas Dipertanyakan, Proyek Jalan Pekkae–BTS Soppeng Mulai Rusak

BARRU — Proyek rekonstruksi dan peningkatan Jalan Ruas Pekkae–Batas Kabupaten Soppeng (BTS) yang melintasi wilayah Kabupaten Barru menuai sorotan dari masyarakat.

Jalan yang baru saja rampung dikerjakan itu diduga mengalami kerusakan dini, memicu kekhawatiran warga terhadap kualitas pekerjaan.

Pantauan di lapangan menunjukkan, pada sejumlah titik di Desa Lompo Tengah, Kecamatan Tanete Riaja, lapisan aspal terlihat mulai retak-retak bahkan berlubang.

Kondisi tersebut dinilai janggal mengingat usia pekerjaan yang masih tergolong baru.

Kerusakan awal ini memunculkan pertanyaan publik, terlebih proyek tersebut menggunakan anggaran negara yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Berdasarkan data proyek, pekerjaan berada di bawah kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga, dengan nilai kontrak mencapai Rp7,68 miliar.

Proyek ini dilaksanakan berdasarkan kontrak Nomor HK.0201/PPK3/APBN/IJD-Pekkae/706 tertanggal 25 November 2025, dengan lingkup pekerjaan pengaspalan sepanjang 2,143 kilometer.

Kualitas Dipertanyakan, Proyek Jalan Pekkae–BTS Soppeng Mulai Rusak1

Adapun penyedia jasa tercatat CV Tunas Karya, dengan konsultan supervisi PT Bintang Inti Rekatama serta KSO PT Indo Pratama Sari.

Salah seorang warga setempat, Erwin, mengaku prihatin melihat kondisi jalan yang dinilainya belum layak disebut hasil pekerjaan baru. Secara kasat mata, menurutnya, aspal sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan.

“Aspalnya sudah seperti retak seribu dan mulai berlubang di beberapa bagian. Padahal ini proyek baru selesai,” ujarnya, Senin (5/1/2026).

Warga menilai kondisi tersebut perlu segera mendapat perhatian serius dari pihak terkait, khususnya Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), konsultan pengawas, serta instansi teknis yang bertanggung jawab.

Kekhawatiran semakin besar karena saat ini wilayah Barru telah memasuki musim hujan yang berpotensi mempercepat kerusakan apabila tidak segera ditangani.

Masyarakat berharap dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap mutu pekerjaan dan sistem pengawasan proyek.

Jika ditemukan ketidaksesuaian dengan spesifikasi teknis, warga meminta agar perbaikan segera dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab atas penggunaan anggaran negara.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas infrastruktur sekaligus mencegah potensi penyimpangan dalam pelaksanaan proyek pembangunan jalan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pelaksana maupun kontraktor proyek belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi jalan tersebut. (*)