BANDUNG BARAT – Upaya memperkuat literasi keuangan bagi pekerja dan pelaku usaha kecil terus didorong melalui program pelatihan berbasis kapasitas.
Salah satunya dilakukan oleh International Labour Organization melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Financial Education yang digelar pada 20–24 April 2026 di Bandung Barat.
Pelatihan ini diikuti puluhan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pendamping masyarakat, fasilitator, praktisi pemberdayaan, hingga instruktur di lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia.
Kegiatan dibuka oleh Kepala BPPV Bandung Barat, Iman Riswandi, yang menekankan pentingnya literasi keuangan sebagai fondasi dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja dan pelaku usaha.
Menurutnya, peningkatan kapasitas sumber daya manusia tidak hanya menyasar aspek produktivitas, tetapi juga kemampuan dalam mengelola keuangan secara bijak.
“Pelatihan ini diharapkan melahirkan agen perubahan yang mampu menyebarluaskan praktik pengelolaan keuangan yang baik di tengah masyarakat,” ujarnya.
Program ini difasilitasi oleh master trainer Rini Wahyu Hariani dengan menggunakan modul Financial Education (FE) yang dikembangkan ILO.
Secara konsep, pelatihan ini mengedepankan pendekatan partisipatif dan berbasis pengalaman. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga dilatih menjadi fasilitator yang mampu mentransfer pengetahuan kepada komunitasnya.
Materi yang diberikan mencakup pengelolaan keuangan, perencanaan dan penganggaran, budaya menabung, hingga manajemen risiko keuangan. Seluruhnya diarahkan untuk mendorong perubahan perilaku finansial yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Selama pelatihan, peserta mengikuti berbagai sesi interaktif, simulasi, serta praktik fasilitasi yang dirancang untuk memastikan mereka siap mereplikasi pelatihan di lapangan.
Pendekatan ini dinilai penting untuk memperluas jangkauan edukasi keuangan, terutama bagi kelompok pekerja informal dan pelaku usaha kecil yang selama ini masih memiliki keterbatasan akses terhadap layanan keuangan formal.
Melalui program ini, ILO berharap literasi keuangan tidak hanya berhenti di ruang pelatihan, tetapi dapat menjangkau masyarakat luas dan menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi yang lebih inklusif. (*)














