MAKASSAR — Suasana pelantikan 4.047 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Tahap 2 dan Paruh Waktu di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Senin (17/11), mendadak diwarnai suara protes dari seorang honorer lama SMA Negeri 10 Makassar yang mengaku dipecat secara misterius.
Honorer bernama Jupriadi, atau akrab disapa Deng Joe, mengungkapkan kekecewaannya setelah diberhentikan secara sepihak oleh Kepala SMA Negeri 10 Makassar, Bachmansyur.
Ia mengaku tidak pernah menerima pemanggilan, teguran, ataupun proses klarifikasi sebelum muncul surat pemecatan bertanggal 8 Maret 2023.
“Pemecatan ini aneh. Tidak ada SP1, SP2, SP3. Saya bahkan tidak pernah dipanggil. Tiba-tiba keluar surat pemecatan begitu saja,” ujar Jupriadi saat ditemui usai menyaksikan prosesi pelantikan PPPK.
Jupriadi yang telah mengabdi 16 tahun sebagai honorer menyebut, bila tidak dipecat, dirinya berpeluang besar lolos PPPK Tahap 1 karena masa kerjanya yang panjang.
Baginya, keputusan tersebut bukan hanya tidak adil, tetapi juga memutus mata pencaharian keluarganya.
Ia juga menduga ada pihak lain yang menekan kepala sekolah untuk memecatnya, meski tidak mengetahui siapa yang terlibat.
“Kalau memang ada tekanan, biarlah Allah yang membukanya. Yang jelas, saya minta Bapak Gubernur mengevaluasi keputusan itu,” tegasnya.
Meski kecewa, Jupriadi tetap menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah, meski dengan nada getir.
“Terima kasih banyak sudah memecat saya. Tapi saya ini punya keluarga yang harus dinafkahi,” ucapnya.
Sementara itu, pelantikan PPPK yang berlangsung pagi tadi dipimpin langsung oleh Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman dan diikuti ribuan peserta.
Namun di balik kemeriahan itu, kisah Jupriadi menjadi sorotan tersendiri mengenai nasib honorer yang merasa tersisih di tengah proses rekrutmen ASN. (*)














