MAKASSAR — Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Muda Bergerak Sulawesi Selatan menyoroti sikap pemerintah Indonesia dalam merespons konflik internasional yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang dinilai semakin memanas.
Ketua DPW Muda Bergerak Sulsel, Muh Alief, menyampaikan kritik terhadap posisi Indonesia yang dinilai belum menunjukkan sikap tegas dalam merespons konflik global, meski terlibat dalam berbagai forum perdamaian internasional.
Muh Alief menilai, posisi Indonesia dalam forum perdamaian dunia seharusnya diikuti dengan langkah diplomasi yang lebih konkret dan berani, terutama ketika konflik internasional telah menimbulkan korban kemanusiaan dan mengancam stabilitas global.
“Untuk apa Indonesia duduk di Board of Peace kalau hanya diam? Itu bukan diplomasi, itu pembiaran. Kita berisiko hanya jadi pajangan dalam forum perdamaian,” ujarnya, Selasa (31/3).
DPW Muda Bergerak Sulsel menilai, sikap yang terlalu normatif dan penuh kehati-hatian justru berpotensi membuat Indonesia kehilangan pengaruh di mata dunia internasional, terutama sebagai negara yang selama ini dikenal aktif dalam misi perdamaian dunia.
Organisasi tersebut juga menyoroti jatuhnya korban dari prajurit TNI yang bertugas sebagai pasukan perdamaian di Lebanon.
Peristiwa tersebut dinilai menjadi pengingat bahwa peran Indonesia dalam misi perdamaian dunia tidak bisa hanya bersifat simbolik, tetapi harus diikuti dengan upaya diplomasi yang lebih kuat untuk melindungi pasukan perdamaian dan mendorong penyelesaian konflik.
Menurut Muh Alief, prinsip politik luar negeri bebas aktif tidak seharusnya dimaknai sebagai sikap netral tanpa pendirian, terutama ketika terjadi pelanggaran kemanusiaan dalam konflik internasional.
“Bebas aktif bukan alasan untuk abu-abu. Ketika dunia menyaksikan pelanggaran kemanusiaan, Indonesia tidak boleh bersembunyi di balik kata netral. Netral tanpa sikap adalah kegagalan moral,” katanya.
DPW Muda Bergerak Sulsel menegaskan bahwa Indonesia seharusnya tidak hanya menjadi peserta dalam forum internasional, tetapi juga berperan aktif dalam menentukan arah kebijakan perdamaian dunia.
Organisasi tersebut mendorong pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah diplomatik yang lebih tegas dan berani dalam menyikapi konflik internasional, sehingga posisi Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi perdamaian dunia tetap memiliki wibawa dan pengaruh di tingkat global.
Di akhir pernyataannya, DPW Muda Bergerak Sulsel menilai bahwa perdamaian dunia membutuhkan keberanian sikap, bukan sekadar kehadiran dalam forum internasional.
“Kalau Indonesia hanya hadir tanpa sikap, maka kita hanya menjadi penonton dalam percaturan global,” tutup Muh Alief. (*)























