JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Selasa (29/9/2026).
Bank Indonesia (BI) menyebut tekanan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor eksternal dan domestik, mulai dari kenaikan harga minyak dunia hingga meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) dari importir menjelang akhir kuartal III 2026.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pelemahan rupiah tidak terlepas dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko fiskal dan tekanan inflasi global.
Harga Minyak Tembus US$108 per Barel
Salah satu faktor utama yang menekan rupiah adalah kenaikan harga minyak mentah dunia yang telah berada di atas US$108 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut berkaitan dengan ketidakpastian mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Kondisi tersebut turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global.
Situasi itu kemudian memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.
“Hal ini mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut, sehingga yield UST tenor 10 tahun kembali naik ke level 5,23 persen, tertinggi sejak 2007,” ujar Erwin di Jakarta, Selasa (29/9/2026) dikutip Inilah.com.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) membuat aset berbasis dolar AS kembali mendapat perhatian investor.
Importir Borong Valas
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Menjelang berakhirnya kuartal III, kebutuhan valas dari importir meningkat untuk memenuhi kewajiban pembayaran luar negeri. Kondisi tersebut meningkatkan permintaan dolar AS di pasar domestik.
Pada saat yang sama, terjadi arus modal keluar (capital outflow) dari pasar portofolio negara-negara berkembang.
Kombinasi meningkatnya permintaan dolar AS dan keluarnya dana asing tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
BI Intervensi Pasar
Menghadapi tekanan tersebut, BI memastikan terus melakukan stabilisasi nilai tukar melalui berbagai instrumen intervensi di pasar keuangan.
Erwin mengatakan BI melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
BI juga membuka ruang untuk melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder guna menyerap tekanan di pasar keuangan.
Selain itu, bank sentral memperkuat insentif bagi penggunaan instrumen swap dan DNDF sebagai sarana lindung nilai (hedging) untuk kebutuhan pendanaan luar negeri.
“Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus kami lakukan secara intensif,” kata Erwin.
Cadangan Devisa Rp146,5 Miliar Dolar AS
Meski rupiah sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS, BI menyebut pergerakan rupiah masih sejalan dengan tekanan yang dialami sejumlah mata uang regional Asia.
Secara quarter-to-date (qtd), depresiasi rupiah disebut masih relatif terkendali di level 0,67 persen.
BI juga menilai kondisi fundamental eksternal Indonesia masih didukung oleh posisi cadangan devisa yang kuat.
Per akhir Agustus 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,5 miliar.
Dengan kondisi tersebut, BI mengimbau masyarakat dan pelaku usaha tidak merespons pelemahan rupiah secara berlebihan, sementara bank sentral akan terus memantau perkembangan pasar global dan domestik serta melakukan langkah stabilisasi sesuai kebutuhan. (*)
















