SULSELNOW.COM – Kondisi ekonomi telah mengakibatkan sejumlah sektor ikut terdampak. Termasuk di sektor ketenagakerjaan. Ironisnya, pekerja lulusan perguruan tinggi pun makin rentan menganggur.
Berdasarkan data BPS. Per Februari 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia mencapai 4,76 persen. Persentase tersebut setara dengan 7,28 juta orang.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, angka pengangguran per Februari 2025 meningkat 83,45 ribu orang, dibanding Februari 2024.
“Tidak semua terserap di pasar kerja sehingga terdapat jumlah orang yang menganggur sebanyak 7,28 juta orang,” ucap Amalia dalam keterangannya dikutip Rabu (21/5/2025).
Adapun pekerja terdidik atau lulusan perguruan tinggi (D4, S1, S2, S3), yang menyumbang tingkat pengangguran sebanyak 6,23 persen. Pada jenjang ini, persentase pengangguran meningkat dibanding Februari 2024 yang hanya sebesar 5,25 persen.
Menanggapi hal tersebut, Pengamat Ekonomi Unhas Prof. Anas Iswanto Anwar mengatakan, kondisi ekonomi Indonesia yang tidak stabil telah menimbulkan fenomena pekerja terdidik beralih profesi ke pekerjaan informal.
“Jadi memang itu fenomena sekarang itu, ada juga saya pernah lihat bahwa malah (pekerja terdidik) sudah beralih ke sopir ojol. Itu kan sebenarnya menunjukkan bahwa peluang kerja di sektor Sarjan itu berkurang. Berkurang ini sebenarnya itu menunjukkan bahwa kondisi ekonomi kita kan tidak baik-baik saja,” ujar Anas.
Dia mengungkapkan, pekerja dengan tingkat pendidikan tinggi di tahun-tahun sebelumnya punya kesempatan kerja begitu besar. Tapi dengan kondisi ekonomi saat ini yang mengharuskan mereka akan sulit mendapat kesempatan tersebut.
“Bayangkan ini karena sudah tingkat Sarjana, malah susah cari kerja. Jadi kalau saya memang yang akan masuk di kelompok Sarjan ini harus kita bekali, harus dibekali dengan kewirausahaan. Jadi memang sudah ada kapasitas wirausaha yang dimiliki,” jelasnya.
“Sehingga bukan saja mereka yang mencari pekerjaan, tapi mereka yang harus menciptakan pekerjaan. Itu solusinya sebenarnya dalam kondisi sekarang ini. Jadi jangan lagi orang Sarjana berpikir untuk bekerja, tetapi dia menciptakan pekerjaan,” sambungnya.
Menurutnya, fenomena kelompok terdidik dalam ketenagakerjaan kian mengkhawatirkan. Anas menyebut kondisi ekonomi sudah masuk rambu-rambu lampu kuning alias tidak baik-baik saja.
“Tapi kan paling tidak kalau dia sarjana kan punya kemampuan lebih dibanding yang tidak sarjana. Jadi kalau sudah kelompok sarjana ini susah cari kerja, itu kan menandakan bahwa lampu kuningnya sebenarnya. Lampu kuning yang bisa kita bisa tanda-tanda bahwa ekonomi kita lagi tidak baik-baik saja,” bebernya.
Dia menuturkan, fenomena ini harus secepatnya diintervensi oleh pemangku kebijakan, sehingga tidak membludak semakin banyak kelompok terdidik menganggur.
“Nah makanya sebelum benar-benar itu terjadi, karena ini kan lampu kuning, maka harus cepat diambil alih. Apakah pihak kampus atau pemerintah atau stakeholder siapa saja yang mulai serius memikirkan itu. Karena jangan sampai nanti meledak baru semua pusing kan,” tandasnya.
Anas mengungkapkan, fenomena ini terjadi akibat dari akumulasi masalah yang dihadapi masyarakat. Mulai dari dampak pemangkasan anggaran, lemahnya daya beli masyarakat, hingga pengaruh ekonomi global.
“Kalau menurut saya akumulatif ini. Jadi begitu banyak ini berkumpul menjadi satu. Baik melalui anggaran yang efisiensi, Kemudian ditambah dengan kebijakan Amerika yang akan mempengaruhi ekonomi global. Ini menumpuk semua, bergabung semua menjadi satu,” ungkapnya.
“Itulah penyebabnya. Jadi nggak bisa juga kita main-main dengan kondisi ekonomi dan geopolitik dunia. Karena pasti kita berdampak,” tambah dia.
Padahal, kata dia, kondisi seperti ini sebelumnya tidak terbayangkan akan terjadi. Tapi karena kebijakan pemerintah yang tidak tepat sehingga fenomena ini terjadi.
“Nah menurut saya inilah tanda-tanda mulai kelihatan dampaknya. Yang tidak pernah kita pikirkan kan, tidak pernah kita pikirkan bahwa dia akan lari ke situ. Kalau pengangguran biasa, tamatan SMA, ya kira itu ya katakanlah wajar-wajar saja,” jelas Anas. (**)




















