Pendidikan

Kepala LLDikti IX Tekankan Penggunaan AI Secara Bijak di Kampus

Tim Redaksi
×

Kepala LLDikti IX Tekankan Penggunaan AI Secara Bijak di Kampus

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR — Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IX menegaskan pentingnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara bijak di lingkungan pendidikan tinggi.

Menurutnya, AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses berpikir.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

“Perkembangan teknologi sekarang, terutama AI, memang harus kita gunakan. Tapi gunakan dengan bijak,” ujar Andi Lukman dalam sebuah wawancara ketika membahas pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kehadiran platform berbasis AI seperti ChatGPT, Selasa (25/11/2025).

Ia menekankan bahwa dalam pemanfaatan AI, pengguna tetap harus memiliki ide, data, dan kerangka berpikir sendiri.

“Dari ide kita, barulah AI membantu. Jangan semua langsung diserahkan ke AI,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa penggunaan AI idealnya bersifat kolaboratif, bukan substitutif.

Pejabat LLDikti tersebut juga menyoroti kebiasaan sebagian mahasiswa yang menyerahkan sepenuhnya pembuatan tugas kepada AI. Ia menilai hal itu perlu dihindari agar pembelajaran tetap berjalan sesuai tujuan.

“Jangan sampai tugas langsung dibuatkan oleh AI. Itu menghilangkan proses berpikir dan belajar,” tegasnya.

Menurutnya, dosen memiliki peran penting dalam mengantisipasi penyalahgunaan AI. Ia meminta dosen turut memahami teknologi ini agar tidak tertinggal dari mahasiswanya.

“Jangan sampai mahasiswa menggunakan AI, tetapi dosennya tidak tahu. Maka metode pembelajaran harus ikut berubah,” katanya.

Ia mendorong perguruan tinggi menyesuaikan pola pembelajaran dengan perkembangan digital, termasuk memanfaatkan AI sebagai alat diskusi dan pengolahan data secara bersama-sama. Namun ia mengingatkan bahwa tidak semua aspek pendidikan dapat digantikan teknologi.

“AI tidak bisa membentuk karakter, attitude, dan keterampilan tertentu. Itu tugas dosen,” ujarnya.

Di akhir penjelasannya, ia kembali menegaskan perlunya keseimbangan antara teknologi dan proses pendidikan.

“Tujuan kuliah itu bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga skill dan karakter. AI tidak bisa menggantikan semuanya. Yang penting, gunakan dengan baik, bijak, dan pada porsi yang tepat,” pungkasnya. (*)