Berita

Tantangan Generasi Strawberry, Fisik Gagah Tapi Tidak Tahan Lama

Tim Redaksi
×

Tantangan Generasi Strawberry, Fisik Gagah Tapi Tidak Tahan Lama

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR — Masalah pendidikan di Indonesia tidak hanya ketersediaan dan keterbatasan infrastruktur fisik, tapi juga yang serius dihadapi saat ini menyangkut mental kesehatan anak-anak.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Abdul Mu’ti mengatakan, anak-anak seharusnya tidak saja dituntut untuk kebutuhan ruhaninya, tapi juga dengan kebutuhan jasmani.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

“Anak-anak kita ini harus aktif dengan aktivitas fisik, diantara masalah yang kita hadapi adalah anak-anak yang mager. Masala sekarang itu masalah jasmani anak-anak kita itu tidak baik-baik saja,” ucap Prof Abdul Mu’ti saat memberikan sambutan pada Dies Natalis UNM, Sabtu (2/8/2025).

Dia mengatakan, generasi Z atau diistilahkan dengan generasi strawberry mengalami kondisi dimana gagah secara fisik tapi tidak kuat dalam tekanan.

“Kemudian kedua masalah kesehatan mental, istilah sekarang generasi strawberry itu mulai menemukan fisiknya gagah tapi kena panas tapi tidak tahan lama tidak tahan fisik. Itu realitas yang harus kita jawab dengan pendidikan yang berkualitas,” katanya.

Masalah jasmani dan mental generasi strawberry saat ini, kata dia, harus dijawab dengan pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah upayakan itu melalui program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

Adapun 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat diantaranya, Bangun Pagi; Beribadah; Berolahraga; Makan Sehat dan Bergizi; Gemar Belajar; Bermasyarakat; Tidur Cepat.

“Karena itu kami di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ambil kebijakan 7 kebiasaan anak Indonesia Hebat. Mulai dari kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat dan tidur cepat,” jelasnya.

Salah satu upaya mendorong kesehatan jasmani dan kesehatan mental, Prof Abdul Mu’ti mengatakan, berdasarkan penelitian aktivitas fisik sangat berpengaruh dalam mewujudkan program tersebut.

“Anak-anak harus kita dorong agar banyak aktivitas fisik. Aktivitas yang membuat mereka bergerak. Penelitian menunjukan aktivitas fisik itu tidak hanya berpengaruh terhadap kebugaran jasmani, tapi juga kesehatan mental,” katanya.

“Kiper kita ini luar biasa fisiknya, kalau kiper tidak punya mental yang bagus kalau penalti lari duluan itu. Tapi karena mental bagus, dua tendangan mampu di blok dari Thailand,” sambungnya.

Olehnya itu, ia berharap agar program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dapat diintegrasi dengan mendapat dukungan dari semua pihak.

“Karena itu, dengan kebijakan-kebijakan kami berusaha agar sumber daya manusia itu dengan sumber daya manusia yang kuat dan semua dapat terwujud dengan partisipasi bapak ibu sekalian,” jelasnya.

Terpisah, Pengamat Pendidikan Unismuh Makassar Erwin Akib mengatakan, upaya menyikapi persoalan generasi strawberry dengan program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat merupakan langkah tepat.

“Apa yang dicanangkan Pak Menteri terkait dengan 7 kebiasaan anak Indonesia Hebat itu adalah sesuatu yang sangat positif supaya anak-anak Indonesia ini bisa lebih kuat, lebih cerdas, lebih sehat dan pembentukan karakternya lebih bagus,” ucapnya.

Kendati kata dia, persoalan tersebut tidak berlaku umum bagi generasi Z. Hanya saja, sebagian besar mengalami hal yang sama.

“Apakah kondisi di lapangan itu terjadi seperti anak strawberry bahwa mereka lemah secara mental, mungkin saja itu terjadi dalam wilayah tertentu tapi tidak bisa digeneralisir. Indonesia ini kan luas jadi tidak bisa semua kita generalisasi,” ujar dia.

Dia menilai, program pemerintah ini dapat memperkuat mental anak-anak Indonesia, sehingga mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan yang mereka hadapi.

“Tapi dengan pencanangan 7 kebiasaan anak Indonesia itu justru menjadi sesuatu yang sangat positif untuk kemudian bagaimana menyiapkan generasi yang lebih handal dan unggul lagi, dengan kondisi secara fisik bisa tahan banting, mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan manapun,” jelasnya.

“Bagaimana kalau kira-kira anak kita belajar fokus kalau kemudian secara mentalnya tidak ada, ini kan tidak bisa fokus. Jadi kesehatan mental itu penting bagi mereka harus sehat, hidup teratur,” tambah dia.

Akademisi Unismuh Makassar ini menekankan, persoalan mental anak-anak bukan hanya tanggung jawab pihak sekolah, tapi pentingnya peran orang tua untuk mewujudkan program tersebut.

“Pendidikan ini kan bukan hanya urusan sekolah, ini kan keterlibatan orang tua juga penting. Ini harus ada keterlibatan lingkungan keluarga untuk bisa mewujudkan itu, karena kalau semuanya fokus pada sekolah itu tidak mungkin,” katanya.  

“Keterlibatan orang tua itu penting misalnya bangun pagi, bangun subuh itu kan keterlibatan orang tua disitu. Kemudian olahraga, kemudian sarapan pagi, kemudian sholat dan seterusnya dan sampai malam itu tidur cepat, ini kan peran orang tua disini. Tinggal sekolah ini membangun komunikasi yang intens dengan orang tua, jadi ada penghubung antara orang tua dan guru,” pungkasnya. (*)