SOPPENG — Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin resmi memulai rangkaian Praktik Belajar Lapangan (PBL) II melalui pelaksanaan seminar awal yang digelar di Desa Labokong, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng, Selasa (7/1/2026).
Seminar awal ini menjadi langkah awal mahasiswa untuk memperkenalkan rencana kegiatan lapangan sekaligus membangun komunikasi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan desa.
Kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang dialog agar seluruh pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan, manfaat, dan arah pelaksanaan PBL II.
Sejumlah unsur masyarakat hadir dalam kegiatan ini, mulai dari aparat desa, kader kesehatan, tokoh masyarakat, RT/RW, hingga perwakilan Puskesmas setempat.
Kehadiran lintas elemen ini mencerminkan dukungan dan keterlibatan aktif masyarakat terhadap pelaksanaan PBL II di Desa Labokong.
Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan bahwa PBL II akan difokuskan pada pendekatan pemetaan aset (asset-based approach) sebagai dasar penyusunan strategi pemecahan masalah kesehatan.
Pemetaan tersebut dilakukan melalui empat metode, yakni observasi lapangan, wawancara, diskusi kelompok, serta Focus Group Discussion (FGD). Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam proses pembangunan kesehatan.
Berdasarkan hasil identifikasi pada PBL I sebelumnya, mahasiswa menemukan tiga masalah kesehatan prioritas di Desa Labokong, yakni hipertensi, diabetes melitus, dan stunting.
Ketiga isu tersebut diperoleh dari hasil pengumpulan data primer dan sekunder yang kemudian akan dianalisis lebih mendalam pada tahap PBL II.
“Pada PBL II, kami akan melakukan analisis akar masalah secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan desa, agar intervensi yang dirumuskan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal,” disampaikan perwakilan mahasiswa dalam forum seminar.
Pelaksanaan PBL II ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 tentang kehidupan sehat dan kesejahteraan.
Fokus pada pencegahan stunting turut mendukung pencapaian SDG 2, sementara penguatan edukasi dan kapasitas masyarakat berkaitan dengan SDG 4. Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan sektor terkait mencerminkan implementasi SDG 17 tentang kemitraan.
Selain itu, kegiatan PBL II dinilai sejalan dengan arah kebijakan nasional Asta Cita Prabowo–Gibran, terutama dalam penguatan layanan dasar dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat hingga tingkat desa.
Melalui pendekatan pemberdayaan, mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang mendorong partisipasi aktif warga.
Ke depan, rangkaian PBL II akan dilanjutkan dengan pendataan lapangan, perumusan strategi intervensi kesehatan, hingga penyusunan rekomendasi berbasis aset dan kebutuhan masyarakat.
Seluruh hasil kegiatan tersebut rencananya akan dipaparkan dalam seminar akhir dan disampaikan kepada pemerintah desa sebagai bahan perencanaan program kesehatan Desa Labokong secara berkelanjutan. (*)
























