MAKASSAR – Pemerintah Kota Makassar memperkuat kampanye perubahan perilaku masyarakat terhadap lingkungan melalui aksi plogging atau jalan sehat sambil memungut dan memilah sampah dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Sabtu (6/6/2026).
Aksi tersebut dimulai dari halaman Kantor Balai Kota Makassar dan menempuh rute sekitar satu kilometer menuju Jalan Nusantara, dengan melibatkan jajaran pemerintah, komunitas, hingga masyarakat umum.
Kegiatan dipimpin langsung oleh Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, didampingi Ketua TP PKK Melinda Aksa, Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham, Sekda Kota Makassar Andi Zulkifli Nanda, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup Helmy Budiman.
Seluruh peserta terlibat aktif memungut sampah di sepanjang rute perjalanan, sekaligus memilahnya berdasarkan kategori organik, anorganik, residu, hingga limbah B3.
Edukasi Lingkungan
Munafri Arifuddin menegaskan bahwa perubahan besar dalam pengelolaan lingkungan harus dimulai dari kebiasaan kecil di tingkat rumah tangga.
Menurutnya, peringatan Hari Lingkungan Hidup tidak boleh berhenti pada seremoni, tetapi harus menjadi momentum memperkuat kesadaran kolektif masyarakat.
“Perubahan besar tidak akan terjadi tanpa kebiasaan baik dari rumah tangga,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengelolaan lingkungan yang efektif sangat bergantung pada keterlibatan komunitas di tingkat bawah, termasuk RT/RW dan keluarga.
138 Kilogram Sampah
Hasil kegiatan plogging menunjukkan masih tingginya volume sampah di ruang publik Kota Makassar. Dari hasil pemilahan dan penimbangan, terkumpul total lebih dari 138 kilogram sampah.
Rinciannya meliputi 35,12 kilogram sampah organik, 30,34 kilogram sampah anorganik, 69,43 kilogram sampah residu, serta 4,10 kilogram sampah B3.
Data ini menjadi indikator bahwa persoalan sampah di perkotaan masih membutuhkan penanganan serius dan konsistensi perubahan perilaku masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, setiap SKPD juga diberi tanggung jawab untuk melakukan pemilahan sampah sebagai bagian dari edukasi langsung pengelolaan sampah berbasis sumber.
Munafri menilai, pendekatan ini penting untuk membangun kesadaran bahwa sampah bukan sekadar dibuang, tetapi harus dikelola sejak awal.
“Kita ingin membangun budaya bersih yang lahir dari kesadaran bersama,” katanya.
Dukungan TP PKK dan Peran Komunitas
Ketua TP PKK Makassar, Melinda Aksa, menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dalam membangun kesadaran lingkungan, terutama dalam memilah sampah sejak dari rumah.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham menyebut bahwa pengelolaan lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.
“Lingkungan yang bersih adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Pemkot Makassar juga menyiapkan sejumlah agenda lanjutan seperti pemilahan sampah serentak secara virtual, peluncuran Gerakan Nasional Indonesia Asri, hingga talkshow lingkungan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Kegiatan ini turut melibatkan RT/RW, pelajar, komunitas lingkungan, sektor swasta, hingga petugas kebersihan di seluruh wilayah kota.
Melalui momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Pemerintah Kota Makassar menegaskan komitmennya untuk memperkuat gerakan pengelolaan sampah berbasis komunitas, sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (*)


















