Pendidikan

Membangun Ekonomi Lokal Lewat Manisnya Lapis Tidore, Tim Dosen Unkhair Beri Pendampingan

Tim Redaksi
×

Membangun Ekonomi Lokal Lewat Manisnya Lapis Tidore, Tim Dosen Unkhair Beri Pendampingan

Sebarkan artikel ini

TIDORE – Pulau Tidore, Maluku Utara, ada satu kue tradisional yang tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyimpan nilai budaya: Lapis Tidore. Teksturnya lembut, rasanya manis legit, dan bagi masyarakat setempat, kue ini sudah menjadi bagian dari identitas kuliner mereka.

Namun, di balik manisnya kue lapis Tidore, tersimpan tantangan besar: produksi yang masih terbatas dan pemasaran yang belum maksimal.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Selama ini, pelaku usaha lapis Tidore kebanyakan hanya mengandalkan cara-cara tradisional. Mulai dari proses produksi manual, peralatan sederhana, hingga pemasaran yang sebatas titip jual di warung sekitar. Akibatnya, kue ini sulit dikenal luas di luar Tidore, padahal potensinya besar untuk bersaing di pasar regional bahkan nasional.

Melihat kondisi ini, tim dosen Universitas Khairun (Unkhair) tergerak untuk membantu para pelaku usaha melalui program pengabdian masyarakat.

Ketua tim Dosen Universitas Khairun Zandy Pratama Zain, S.E., M.M mengungkapkan caranya  dengan pendampingan, pelatihan, sekaligus memberikan sentuhan teknologi pada proses produksi.

“Mesin oven modern dan pengaduk adonan otomatis, misalnya, mulai dikenalkan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi,” ucap Zandy, Ahad (13/7/2025).

Hasilnya terasa nyata. Kata dia, kapasitas produksi meningkat hingga 40%, kualitas kue jadi lebih konsisten, higienis, dan tahan lama.

“Tak hanya itu, pelaku usaha juga belajar bagaimana mengemas produk dengan lebih menarik dan memasarkan secara digital lewat media sosial maupun e-commerce,” jelasnya. 

Dampak sosialnya pun tak kalah penting. Usaha lapis Tidore mulai membuka peluang kerja baru, terutama bagi ibu-ibu rumah tangga.

“Pendapatan keluarga ikut naik, dan masyarakat makin percaya diri bahwa warisan kuliner mereka bisa menjadi sumber ekonomi yang menjanjikan,” bebernya. 

Namun, lanjut dia, perjuangan ini belum selesai. Para pelaku usaha masih perlu dukungan, mulai dari legalitas usaha (izin PIRT dan halal), akses modal, hingga promosi yang lebih luas melalui event pariwisata dan branding daerah.

“Bagi masyarakat Tidore, Lapis bukan sekadar kue, melainkan simbol budaya yang diwariskan turun-temurun. Kini, dengan inovasi dan dukungan yang tepat, manisnya Lapis Tidore berpeluang melintasi batas pulau, menjadi ikon kuliner Nusantara, bahkan mendunia,” ujar dia.

Selain itu tim pelaksana PKM mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kelurahan Tomagoba dan Mitra Kelompok Sautu Bakery yang telah bekerjasama dalam pelaksanaan PKM ini.

“Terima kasih setinggi tingginya juga kepada Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang telah mendanai kegiatan PKM ini melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat tahun pendanaan 2025,” tutupnya. (*)