Makassar

Makassar Jadi Magnet Investor di South Sulawesi Investment Forum 2025

Tim Redaksi
×

Makassar Jadi Magnet Investor di South Sulawesi Investment Forum 2025

Sebarkan artikel ini

Stadion Untia Siap Jadi Proyek Strategis

Pemkot Makassar Dapat Tawaran Pembangunan Stadion Untia dari Investor Singapura
Pemkot Makassar Dapat Tawaran Pembangunan Stadion Untia dari Investor Singapura

MAKASSAR — Kota Makassar kembali menjadi sorotan pada ajang bergengsi South Sulawesi Investment Forum (SSIF) 2025 yang digelar di Hotel Claro dan dilanjutkan di Summarecon Mutiara Makassar Convention Center.

Dalam forum investasi tahunan tersebut, Pemerintah Kota Makassar sukses menarik minat sejumlah investor luar negeri untuk menanamkan modal di berbagai sektor strategis — mulai dari pengolahan air bersih dan energi hijau, hingga rencana pembangunan stadion baru di kawasan Untia.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

SSIF merupakan bagian dari Forum PINISI SULTAN (Percepatan Investasi, Perdagangan, dan Pariwisata Sulawesi Selatan), wadah kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan investor guna mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia.

Kehadiran Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, bersama jajaran Pemkot menunjukkan keseriusan pemerintah kota dalam membuka ruang investasi yang produktif, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi masyarakat.

“Makassar harus terus menjadi magnet investasi di kawasan timur Indonesia. Pemerintah kota membuka peluang kerja sama lintas sektor dengan memastikan proses perizinan dan kemitraan berjalan cepat, transparan, dan kondusif,” tegas Munafri, Kamis (13/11/2025).

Salah satu tawaran paling menarik datang dari Feliks Gao, perwakilan Asia Pacific Geraldton (Singapore), yang menyatakan minatnya membangun Stadion Untia melalui skema turn key project — perusahaan menangani seluruh tahapan proyek mulai dari desain hingga penyelesaian konstruksi.

Selain itu, investor asal Singapura tersebut juga membuka peluang pengembangan kawasan sekitar stadion dengan menghadirkan hotel, pusat perbelanjaan, dan gedung serbaguna (multi-purpose hall) sebagai fasilitas pendukung.

Kepala Bagian Kerja Sama Setda Kota Makassar, Andi Zulfitra Dianta, mengungkapkan bahwa tawaran tersebut telah dibahas langsung bersama Wali Kota dan akan segera ditindaklanjuti oleh tim teknis Pemkot.

“Pak Wali minta agar seluruh data studi yang sementara dilakukan oleh Dinas PU segera disiapkan dan difollow-up ke pihak investor,” ujarnya.
“Perusahaan ini multinasional dan saat ini fokus pada proyek Stadion Untia,” tambahnya.

Selain Singapura, minat investasi juga datang dari Australia. Dr. Maxwell Briggs dari Asia Pacific Enterprise Development menawarkan kerja sama pengolahan air bersih menggunakan teknologi membran filter, yang mampu menghasilkan air minum bebas bahan kimia. Proyek ini rencananya akan dikaji dan ditindaklanjuti oleh PDAM Makassar.

Sementara itu, Danawira Asri mewakili Oracle Ventures International Limited menawarkan investasi di bidang pengolahan sampah berbasis teknologi pyrolysis gasification to energy — sistem yang mampu mengubah limbah organik menjadi sumber energi seperti gas, briket arang, dan campuran pupuk organik, sekaligus menekan jejak karbon.

“Konsep mereka sangat menarik karena sejalan dengan kebijakan Pemkot dalam pengelolaan sampah berkelanjutan dan energi hijau,” tambah Zulfitra.

Menanggapi berbagai tawaran tersebut, Pemkot Makassar tengah mengkaji aspek teknis, termasuk desain dan kapasitas Stadion Untia yang diproyeksikan dapat menampung 15.000 hingga 20.000 penonton.

Munafri juga memberikan arahan agar proyek dirancang efisien dengan material modern seperti rangka baja ringan, mengacu pada model pembangunan stadion di Thailand.

“Untuk pendanaannya, kemungkinan menggunakan skema multiyears APBD sambil tetap membuka peluang kemitraan dengan pihak investor,” jelas Zulfitra.

Dengan berbagai inisiatif tersebut, Makassar mempertegas posisinya sebagai pusat investasi dan inovasi kawasan timur Indonesia, serta destinasi utama bagi investor yang mencari kolaborasi strategis di sektor infrastruktur, lingkungan, dan energi berkelanjutan. (*)