Nasional

Wah! Rupiah Anjlok ke Rp18.110 per Dolar AS, BI Sebut Volatilitas Biasa

Tim Redaksi
×

Wah! Rupiah Anjlok ke Rp18.110 per Dolar AS, BI Sebut Volatilitas Biasa

Sebarkan artikel ini
Kurs Rupiah

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (26/10/2026).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp18.110 per dolar AS, turun 0,39 persen dibandingkan posisi penutupan Jumat (23/10/2026) di level Rp18.040 per dolar AS.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Pelemahan tersebut membawa rupiah ke posisi penutupan terlemah sejak awal Juni 2026, sekaligus menjadi level terendah dalam sekitar empat bulan terakhir.

Tekanan terhadap mata uang Garuda sudah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka melemah 0,06 persen ke level Rp18.050 per dolar AS sebelum tekanan jual mendorongnya semakin terdepresiasi hingga sempat menyentuh Rp18.130 per dolar AS.

Menjelang penutupan pasar, tekanan sedikit mereda. Rupiah berhasil menguat 20 poin dari titik terendahnya, tetapi tetap berakhir melemah 60 poin dibandingkan level pembukaan.

BACA JUGA:  Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Ungkap Pemicu dan Strategi Menahannya

Sentimen MSCI dan Kebijakan The Fed Membayangi Pasar

Pelemahan rupiah terjadi di tengah kombinasi sentimen domestik dan global yang memengaruhi perilaku investor.

Dari dalam negeri, pasar masih mencermati pengumuman MSCI yang membuka masa konsultasi untuk perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia. Perkembangan tersebut memunculkan perhatian investor terhadap prospek pasar modal domestik dan implikasinya terhadap arus modal.

Respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar juga menjadi perhatian pelaku pasar di tengah tekanan tersebut.

Sementara itu, dinamika harga minyak dunia turut menjadi faktor yang diperhatikan. Setelah mengalami kenaikan pada pekan sebelumnya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, harga minyak mulai terkoreksi.

Pelaku pasar juga cenderung mengambil sikap wait and see menjelang sejumlah agenda ekonomi penting di Amerika Serikat. Agenda tersebut mencakup keputusan suku bunga acuan Federal Reserve atau The Fed, data pertumbuhan ekonomi AS, serta indikator inflasi.

BACA JUGA:  Rupiah Melemah Lagi, Dolar AS Bertahan di Level Rp17.800

Perkembangan data dan kebijakan tersebut akan menjadi perhatian investor dalam menilai arah kebijakan moneter AS dan pergerakan dolar ke depan.

BI Pastikan Tetap Berada di Pasar

Menanggapi pelemahan rupiah, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bahwa bank sentral terus memantau pergerakan nilai tukar dan tetap hadir di pasar.

Menurut Destry, pergerakan kurs dipengaruhi dinamika permintaan dan penawaran valuta asing (supply and demand).

“Kita tetap ada di pasar. Ini tergantung supply and demand. Hari ini mungkin lagi… Ya pokoknya tetap kita monitor, kita memantau pergerakannya,” ujar Destry saat ditemui di sela ajang Danantara TIIF 2026, Senin (26/10/2026).

BACA JUGA:  Kurs Tembus Rp17.000, Stabilitas Rupiah Dinilai Butuh Sinergi Lintas Otoritas

Destry juga menegaskan bahwa gejolak yang terjadi saat ini dinilai sebagai volatilitas yang masih perlu dicermati, sembari BI menelusuri faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah.

“Enggak, enggak, enggak. Ini volatilitas biasa, tapi kita akan terus monitor. Kita lihat root cause-nya juga,” katanya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa BI masih memantau perkembangan pasar dan faktor yang mendasari pelemahan nilai tukar. Namun, dalam pernyataan yang dikutip, Destry belum memaparkan secara terperinci faktor utama yang paling berpengaruh terhadap tekanan rupiah pada perdagangan hari itu.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan menjadi perhatian pasar, terutama di tengah perkembangan sentimen domestik, arus modal, serta keputusan dan data ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah dolar. (*)