GOWA — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (Unhas), memperkenalkan inovasi mesin pencacah limbah batok kelapa muda dalam kegiatan sosialisasi dan implementasi yang digelar di Gedung Mechanical, Kampus Teknik Unhas Gowa, Jumat (31/10/2025).
Kegiatan ini menggandeng Yayasan Peduli Negeri, lembaga yang bergerak dalam pengembangan dan pembinaan bank sampah.
Tujuannya, memperkenalkan teknologi tepat guna yang dapat mengubah limbah batok kelapa muda menjadi cocopeat, media tanam ramah lingkungan bernilai ekonomi tinggi.
Ketua Tim Pelaksana, Dr. Muhammad Syahid, S.T., M.T., menjelaskan bahwa mesin pencacah batok kelapa muda ini merupakan hasil riset dan pengembangan dari sivitas akademika Teknik Mesin Unhas.
“Mesin ini dirancang dan dibuat di workshop kami, yang memiliki fasilitas permesinan dan pengelasan lengkap. Prosesnya dimulai dari desain teknis, penyediaan bahan baku, hingga perakitan menggunakan komponen yang mudah ditemukan di Makassar,” ujar Syahid.
Mesin tersebut memiliki kapasitas produksi 200 kilogram per jam, digerakkan oleh mesin bensin berdaya 5,5 HP dengan sistem pulley 1:5 untuk menghasilkan torsi kuat.
Pisau pencacah terbuat dari baja karbon tinggi setebal 5 milimeter dengan kemiringan 25 derajat, sehingga mampu memotong batok secara efisien.
Hasil cacahan kemudian disaring melalui saringan berukuran 5 milimeter untuk menghasilkan serbuk halus yang seragam, siap diolah menjadi cocopeat. Produk akhir ini banyak dimanfaatkan untuk pertanian organik dan media tanam modern.
Dari Limbah Jadi Nilai Tambah
Sosialisasi dibuka dengan pemaparan tentang potensi ekonomi pengolahan limbah batok kelapa muda, yang selama ini kerap terbuang sia-sia. Tim PKM Unhas menekankan pentingnya penerapan teknologi tepat guna untuk mendukung usaha kecil dan menengah (UKM) di sektor pengelolaan limbah organik.
Acara kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi pengoperasian mesin. Peserta dapat menyaksikan langsung proses pencacahan batok kelapa muda hingga menjadi serbuk halus siap olah.
Suasana berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab seputar peluang usaha berbasis daur ulang.
Perwakilan Yayasan Peduli Negeri menyampaikan apresiasi terhadap inovasi tersebut.
“Kami sangat berterima kasih atas dukungan Unhas. Mesin ini memberi nilai tambah bagi komunitas pengelola sampah dan pelaku usaha kecil. Limbah yang dulu hanya dibuang kini bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Kami berharap kolaborasi seperti ini terus berlanjut,” ujarnya.
Dukungan untuk Ekonomi Sirkular
Melalui kegiatan ini, Unhas menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi teknologi.
Kegiatan tersebut juga menjadi bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat.
“Kami berharap inovasi ini tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi bisa diterapkan langsung di lapangan untuk mendukung ekonomi sirkular dan keberlanjutan lingkungan,” tutup Syahid.
Dengan hadirnya mesin pencacah batok kelapa muda ini, Unhas meneguhkan perannya sebagai kampus yang tidak hanya berfokus pada riset akademik, tetapi juga menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat dan dunia industri melalui inovasi yang aplikatif dan ramah lingkungan. (*)


























