JAKARTA — Emiten tambang nikel PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terus menggenjot aktivitas eksplorasi di wilayah Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, sepanjang kuartal pertama 2026 guna memperkuat basis sumber daya dan cadangan mineral perusahaan.
Berdasarkan laporan eksplorasi bulanan perseroan yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia pada Senin (13/4/2026), total belanja eksplorasi selama Januari hingga Maret 2026 mencapai USD 1,44 juta atau sekitar Rp24,6 miliar dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS.
Rinciannya, perusahaan mengalokasikan dana eksplorasi sebesar USD 499.735,28 pada Januari, USD 458.129,89 pada Februari, dan USD 486.374,89 pada Maret.
Aktivitas eksplorasi difokuskan pada area Blok 1 Tetenggala dan Blok 1 Lalombundi melalui metode pengeboran core drilling HQ-3 dengan jarak titik bor 50 hingga 100 meter.
Selain pengeboran, perusahaan juga menjalankan survei geofisika menggunakan metode Electrical Resistivity Tomography (ERT) untuk memetakan kondisi bawah permukaan secara lebih detail.
Langkah tersebut dilakukan guna meningkatkan tingkat keyakinan terhadap potensi sumber daya mineral, khususnya nikel sebagai komoditas utama perseroan.
Saat ini, hasil eksplorasi masih dalam tahap pengolahan dan perhitungan sumber daya serta cadangan menggunakan metode ordinary kriging, yang dilakukan di fasilitas pengolahan data perusahaan di Sorowako.
Dalam pelaksanaannya, Vale juga menggandeng kontraktor pihak ketiga untuk mendukung kegiatan pengeboran dan survei geofisika.
Ke depan, perseroan berencana melanjutkan pengeboran di area Tetenggala dan Lalombundi dengan pola jarak pengeboran yang sama, sembari memperluas survei geofisika untuk memperoleh data geologi yang lebih komprehensif.
Perusahaan menargetkan seluruh aktivitas tersebut mampu menghasilkan profil laterit yang lengkap sebagai dasar pengembangan tambang pada masa mendatang.
Penguatan eksplorasi ini menjadi bagian dari strategi Vale dalam mempertahankan posisinya sebagai salah satu produsen nikel utama nasional di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap logam tersebut, terutama untuk menopang industri baterai kendaraan listrik. (*)


























