Makassar

World Clean Up Day di Makassar, Wali Kota Dorong Sampah Jadi Sumber Nilai Ekonomi

Tim Redaksi
×

World Clean Up Day di Makassar, Wali Kota Dorong Sampah Jadi Sumber Nilai Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Makassar Gunakan Kapal Pembersih Limbah Laut Susuri Pantai Losari Bersama Satgas

MAKASSAR — Peringatan World Clean Up Day di Kota Makassar tidak hanya diisi dengan aksi memungut sampah. Pemerintah Kota Makassar mulai mendorong perubahan cara pandang terhadap sampah, dari persoalan lingkungan menjadi bagian dari rantai pemanfaatan yang dapat memberi nilai ekonomi bagi masyarakat.

Pesan itu disampaikan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin saat memimpin aksi bersih-bersih bersama masyarakat di kawasan Kecamatan Mariso, Minggu (20/9/2026).

Munafri bersama Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa, turun langsung dalam kegiatan yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar tersebut.

Munafri menyusuri kawasan laut Pantai Losari menggunakan kapal pembersih limbah laut yang masih dalam tahap uji coba. Dari dermaga Tugu MNEK, ia kemudian menuju lokasi utama peringatan World Clean Up Day di TPST3R Kelurahan Panambungan.

Sementara itu, Melinda bersama Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, pengurus TP PKK, komunitas lingkungan, serta ketua RT dan RW se-Kecamatan Mariso mengikuti aksi gotong royong di kawasan TPST3R dan Rusunawa Panambungan.

Kegiatan tersebut mencakup pembersihan sampah di darat dan sungai hingga pemilahan sampah secara langsung.

74 Kilogram Sampah Terkumpul

Dari aksi bersih-bersih tersebut, sebanyak 74 kilogram sampah berhasil dikumpulkan di kawasan Mariso.

Camat Mariso Syahril merinci, sampah yang terkumpul terdiri atas 26 kilogram sampah organik, 36 kilogram sampah anorganik, dan 12 kilogram residu. Dari total tersebut, 11 kilogram di antaranya merupakan limbah laut.

“Dari World Clean Up Day hari ini kita telah mengumpulkan 26 kilogram sampah organik, 36 kilogram sampah anorganik dan 12 kilogram residu,” jelas Syahril.

Namun, bagi Munafri, angka tersebut bukanlah tujuan utama dari kegiatan tersebut.

Ia menegaskan World Clean Up Day seharusnya tidak dimaknai sebagai agenda bersih-bersih yang hanya berlangsung sekali dalam setahun. Kebersihan, menurutnya, harus menjadi kebiasaan sehari-hari yang dibangun bersama oleh masyarakat dan pemerintah.

Karena itu, ia meminta Pemerintah Kecamatan Mariso menjaga keberlanjutan gerakan kebersihan melalui program Jumat Bersih setiap pekan.

“Karena kebersihan itu tidak hanya untuk kita, tapi kebersihan ini adalah untuk masa depan, untuk generasi yang akan datang,” ujar Munafri.

Dari Sampah Menjadi Nilai Tambah

Selain persoalan kebersihan, Pemkot Makassar mulai mengarahkan perhatian pada bagaimana sampah yang sudah dipilah dapat dimanfaatkan kembali.

Munafri mengatakan sampah organik dan anorganik diarahkan masuk ke jalur pengelolaan yang berbeda.

Sampah organik, misalnya, diarahkan untuk diolah menjadi pakan ternak sapi di TPA Tamangapa. Langkah tersebut diharapkan sekaligus mengurangi potensi sampah plastik ikut termakan oleh hewan.

Sementara sampah anorganik dapat dikelola melalui Bank Sampah Unit sehingga memiliki nilai ekonomi.

“Yang kita harapkan, sampah ini kita kelola sehingga bisa memberikan manfaat yang lebih, bisa menambah penghasilan rumah tangga buat ibu-ibu,” jelasnya.

Skema tersebut menjadi bagian dari upaya membangun siklus pengelolaan sampah yang lebih panjang, sehingga tidak seluruh sampah berakhir di tempat pemrosesan akhir.

TPST3R Panambungan Kelola Tiga Ton Sampah per Hari

Salah satu fasilitas yang didorong menjadi bagian dari sistem tersebut adalah TPST3R Kelurahan Panambungan. Fasilitas ini disebut mengelola sekitar tiga ton sampah setiap hari yang berasal dari wilayah Kecamatan Mariso.

Keberadaan TPST3R menjadi penting karena pemilahan dan pengolahan dilakukan lebih dekat dengan sumber sampah. Dengan demikian, volume sampah yang harus dibawa ke TPA dapat ditekan, sementara sebagian material masih memiliki peluang untuk dimanfaatkan kembali.

Pemerintah kota juga berencana memperkuat sistem Bank Sampah Unit sebagai bagian dari rantai pengelolaan tersebut.

Munafri mengatakan pemerintah kota akan memperkuat Bank Sampah Pusat agar proses transaksi sampah dari masyarakat dapat berlangsung lebih optimal.

“Saya pastikan, mulai tahun depan tidak akan ada lagi keterlambatan dalam pembayaran di sampah di Bank Sampah Unit ini. Bank sampah pusatnya akan di-support full oleh pemerintah,” tegasnya.

Ia sekaligus meminta pengelolaan bank sampah dilakukan secara profesional. Sampah yang sudah dikumpulkan, kata dia, jangan sampai kembali menumpuk hanya karena proses transaksi dan penjualan berjalan lambat.

Kebersihan Dimulai dari Kebiasaan

Bagi Munafri, penguatan infrastruktur pengelolaan sampah tetap harus berjalan beriringan dengan perubahan perilaku masyarakat.

Pemerintah dapat menyediakan fasilitas, sistem, dan dukungan anggaran. Namun, persoalan sampah tidak akan selesai apabila masyarakat masih menjadikan kebersihan sebagai tanggung jawab pemerintah semata.

Karena itu, ia mengajak warga, khususnya masyarakat Kecamatan Mariso, menjadikan momentum World Clean Up Day sebagai titik untuk mengubah kebiasaan di lingkungan masing-masing.

“Kebersihan itu bukan miliknya pemerintah, bukan miliknya Pak Camat. Tapi kebersihan itu adalah kebersihan individu yang menjadi milik kita yang harus kita bangun mulai dari merubah kebiasaan untuk hidup yang jauh lebih bersih dan jauh lebih sehat,” pungkasnya.

Dengan pendekatan tersebut, aksi World Clean Up Day di Mariso tidak hanya berbicara tentang berapa banyak sampah yang berhasil dikumpulkan dalam satu hari.

Lebih jauh, kegiatan itu menjadi bagian dari agenda yang lebih besar: membangun kebiasaan memilah sampah, memperkuat fasilitas pengolahan, mengurangi beban TPA, serta membuka peluang agar sampah yang masih bernilai dapat kembali masuk ke dalam siklus ekonomi masyarakat. (*)