MAKASSAR – Minggu (11/5) pagi, suasana di Kelurahan Karunrung, Kota Makassar tampak lebih ramai dari biasanya.
Warga, khususnya yang berdomisili di Perumahan Minasa Upa, berbondong-bondong membawa sampah rumah tangga yang telah mereka pilah untuk ditabung di Bank Sampah Berkah Bersama, salah satu bank sampah aktif di wilayah tersebut.
Kegiatan penimbangan sampah ini merupakan agenda rutin yang sudah berjalan sejak beberapa waktu terakhir dan menjadi bagian dari gerakan lingkungan yang semakin mendapat tempat di tengah masyarakat perkotaan.
Direktur Bank Sampah Berkah Bersama, Hasan, menjelaskan bahwa setiap warga rata-rata membawa lebih dari lima kilogram sampah anorganik untuk ditukar menjadi tabungan berbentuk uang.
Ia menambahkan, partisipasi warga cukup tinggi, namun masih ada harapan dari masyarakat agar nilai jual beberapa jenis sampah, seperti minyak jelantah (minyak goreng bekas), bisa ditingkatkan agar semakin memotivasi warga dalam memilah sampah dari rumah.
Kegiatan ini turut dimonitor oleh penyuluh lingkungan hidup, Stephanus Hippy. Ia menyampaikan apresiasinya terhadap konsistensi warga dalam menjalankan program pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Menurutnya, kegiatan bank sampah tidak hanya bermanfaat secara ekonomi, tetapi juga mampu membentuk kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan.
“Bank sampah adalah sarana edukasi yang efektif. Masyarakat bukan hanya diajarkan cara memilah sampah, tetapi juga diberi insentif untuk mendaur ulang. Ini contoh konkret pengelolaan sampah berkelanjutan yang bisa direplikasi di wilayah lain,” ujar Stephanus.
Ia juga mendorong agar inisiatif serupa bisa diperluas ke kelurahan dan kecamatan lain di Makassar melalui pendekatan langsung, seperti sosialisasi dari rumah ke rumah maupun melalui kegiatan komunitas lingkungan.
Dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat, program bank sampah diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam mendukung kebijakan lingkungan hidup dan pengurangan volume sampah di Kota Makassar.















