Berita

Mahasiswa FKM Unhas Gelar Seminar Awal PBL I di Soppeng, Angkat Isu Kesehatan Lingkungan dan Perilaku Merokok

Tim Redaksi
×

Mahasiswa FKM Unhas Gelar Seminar Awal PBL I di Soppeng, Angkat Isu Kesehatan Lingkungan dan Perilaku Merokok

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa FKM Unhas Resmi Memulai Pengabdian di Tettikenrarae dengan Melaksanakan Seminar Awal PBL 1.
Mahasiswa FKM Unhas Resmi Memulai Pengabdian di Tettikenrarae dengan Melaksanakan Seminar Awal PBL 1.

SOPPENG — Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin resmi memulai rangkaian kegiatan Praktik Belajar Lapangan (PBL) I dengan menggelar seminar awal di Kelurahan Tettikenrarae, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Rabu (16/7).

Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat untuk memetakan sekaligus mencari solusi atas berbagai permasalahan kesehatan di wilayah tersebut.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Seminar ini bertujuan memperkenalkan program PBL secara menyeluruh kepada masyarakat, termasuk menjelaskan tujuan, manfaat, dan tahapan kegiatan seperti identifikasi masalah kesehatan, penentuan prioritas, hingga pemilihan alternatif solusi yang akan dikembangkan bersama warga.

Acara dibuka secara resmi oleh Sekretaris Kelurahan Tettikenrarae, Hamuddin, S.Sos, yang menyampaikan apresiasi dan dukungan atas keterlibatan mahasiswa dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh unsur RT/RW, kader posyandu, kepala lingkungan, staf kelurahan, serta Kepala Puskesmas Takalala, Ainuddin, S.Kep., Ns.

Dalam sambutannya, Ainuddin menyatakan komitmen Puskesmas untuk bersinergi dengan mahasiswa dalam proses pengumpulan data dan rencana intervensi. Ia juga menekankan perlunya perhatian terhadap isu perilaku merokok yang masih tinggi di masyarakat.

“Kami siap membantu dalam pemetaan data kesehatan. Harapannya, hasil yang didapatkan bisa diolah menjadi rencana intervensi yang nyata dan bisa kami tindak lanjuti bersama,” ujarnya.

Seminar ini juga menghadirkan sesi diskusi interaktif bersama tokoh masyarakat. Salah satu isu yang mencuat adalah persoalan pengelolaan sampah, seperti diungkapkan oleh kader posyandu, Nurhaya.

“Di daerah kami belum ada tempat pembuangan sampah. Karena tidak ada wadah, warga terpaksa membuang ke selokan atau sungai. Kami butuh pendampingan dan edukasi agar bisa mengubah kebiasaan ini,” katanya penuh harap.

Kegiatan ini tidak hanya memperkuat pendekatan partisipatif antara mahasiswa dan warga, tetapi juga memberi kontribusi nyata terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya pada poin kesehatan, sanitasi, keberlanjutan lingkungan, dan kemitraan.

Selain itu, program ini turut mendukung Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden 2024–2029, terutama dalam mendorong kesadaran kesehatan sebagai hak asasi, memperkuat peran pemuda dan perempuan, serta membangun solusi dari bawah melalui penguatan komunitas.

Melalui PBL ini, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya hadir untuk belajar, tetapi juga memberi kontribusi konkret dalam memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui pendekatan yang humanis, partisipatif, dan berbasis data. (*)