MAKASSAR – Perum Bulog Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) berkomitmen menjaga stabilitas harga di petani dan konsumen.
Hal ini dilakukan untuk memastikan petani sebagai pihak yang memproduksi komoditi mendapat harga yang layak. Pun masyakarat selaku konsumen belanja dengan harga yang wajar.
“Jadi kami punya posisi stabilisasi ini ditengah-ditengah penyeimbang antara petani dan konsumen, jangan sampai merugikan kedua belah pihak,” ucap Kepala Perum Bulog Sulselbar Fahrurozi, Jumat (15/8/2025).
Fahrurozi menjelaskan, Bulog mempunyai tiga fungsi utama. Pertama, menjamin ketersediaan barang. Kedua, stabilisasi harga. Ketiga, memastikan barang terjangkau oleh masyarakat.
“Dalam hal stabilisasi kita harus bisa menstabillkan harga di tingkat petani dan hara di tingkat konsumen. Pada saat panen raya, fungsi stabilisasi, kami harus mengamankan harga di tingkat petani, supaya petani mempunyai minta dan mendapat harga yang bagus ketika panen,” jelasnya.
Menurutnya, ketika musim panen tiba dan terjadi lonjakan harga di pasar. Bulog berupaya menekan harga di pasar dengan distribusi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
“Ketika lagi musim sedang tidak panen, dimana harga mengalami kenaikan, kami juga harus melakukan stabilisasi di tingkat konsumen agar konsumen yang tidak mempunyai lahan pertanian itu mendapat harga yang wajar, maka kami gelontorkan yang namanya beras stabilisasi harga atau SPHP,” tuturnya.
Namun kata dia, ketika harga di produksi rendah, Bulog pun berupaya untuk membeli hasil panen petani dengan harga yang layak.
“Ketika harga terlalu rendah maka petani akan menjerit, maka kami harus bantu dengan ambil harga yang wajar supaya petani mendapatkan keuntungan,” ujar dia.
“Ketika harga lagi naik malah kami juga menggelontorkan beras SPHP agar masyakarat yang kurang mampu bisa membeli beras yang harganya murah,” pungkasnya. (**)
























