MAKASSAR — Suasana senja di Pulau Samalona kini semakin syahdu tanpa deru mesin genset yang dulu akrab di telinga warga. Berkat inovasi SuperSUN dari PT PLN (Persero), pulau wisata yang terletak di lepas pantai barat Kota Makassar itu kini menikmati aliran listrik bersih selama 24 jam penuh, menggantikan pasokan sebelumnya yang bergantung pada bahan bakar minyak.
Sebanyak 20 rumah tangga di Pulau Samalona kini telah menikmati listrik dari SuperSUN. Pulau seluas 2,3 hektare yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari pusat Kota Makassar itu terkenal dengan pantai berpasir putih, air laut jernih, serta keindahan bawah lautnya yang menjadi daya tarik wisatawan untuk snorkeling dan
diving.
Kamaruddin, salah satu warga sekaligus pengelola homestay, mengaku kehadiran listrik PLN membuat pengeluaran bulanannya jauh berkurang.
Sebelumnya, ia harus menghabiskan sekitar 180 liter BBM per bulan untuk menyalakan genset di malam hari dengan biaya mencapai Rp2,7 juta.
Kini, setelah adanya SuperSUN, biaya listriknya turun menjadi hanya Rp300 ribu per bulan.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur. Selain lebih hemat hingga 88 persen, listriknya juga menyala 24 jam. Anak-anak bisa belajar malam hari, kami bisa mengaji, dan wisatawan pun lebih nyaman,” ujar Kamaruddin.
Sejak listrik PLN beroperasi penuh pada Agustus 2025, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Pulau Samalona meningkat signifikan — dari rata-rata 800 orang menjadi 1.000 wisatawan per bulan.
SuperSUN merupakan inovasi karya anak bangsa yang mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mikro
dengan Battery Energy Storage System (BESS). Teknologi ini memungkinkan penyediaan listrik mandiri dan berkelanjutan bagi wilayah yang belum terjangkau jaringan listrik konvensional.
General Manager PLN UID Sulselrabar,
Edyansyah, menjelaskan bahwa SuperSUN dirancang untuk mewujudkan keadilan energi sekaligus mendukung pariwisata hijau.
“SuperSUN adalah wujud keseriusan PLN menghadirkan listrik berkeadilan bagi seluruh masyarakat, termasuk di kepulauan terpencil. Kami tidak hanya membawa cahaya, tapi juga harapan,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan melistriki Pulau Samalona cukup berat. Petugas PLN harus menyeberangi laut dengan material seberat 100 kilogram per unit di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu. Namun, semangat untuk menerangi negeri tetap menjadi prioritas utama.
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman turut mengapresiasi langkah PLN dalam memperluas akses listrik hingga ke daerah terpencil. Dalam acara penyalaan listrik serentak di 80 desa pada Jumat (24/10), ia menyebut program SuperSUN sebagai wujud nyata pemerataan energi di Sulawesi Selatan.
“Ini bukan sekadar soal listrik, tapi soal keadilan energi. Alhamdulillah, berkat kerja keras banyak pihak, wilayah-wilayah yang dulu gelap kini telah diterangi teknologi ramah lingkungan SuperSUN,” ujarnya.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin juga menyampaikan rasa terima kasih atas inisiatif PLN.
“Pulau Samalona kini menjadi percontohan bagi kepulauan lainnya. Dengan adanya listrik, masyarakat bisa meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesejahteraan,” katanya.
Bagi warga setempat, listrik bukan sekadar penerangan, melainkan harapan baru. Kini, aktivitas ekonomi seperti homestay, warung makan, dan penyewaan alat snorkeling dapat berjalan tanpa batas waktu. Nelayan pun bisa menyimpan hasil tangkapan lebih lama berkat ketersediaan listrik untuk kulkas pendingin.
Hingga September 2025, rasio elektrifikasi di Sulawesi Selatan mencapai 99,99 persen, dengan 1.486 unit SuperSUN telah terpasang di 80 desa di 11 kabupaten/kota.
Program ini menjadi bukti nyata komitmen PLN dalam mendukung pembangunan berkelanjutan berbasis prinsip
Environmental, Social, and Governance (ESG).
“Dengan listrik, kami tidak hanya menyalakan lampu, tapi juga membuka peluang hidup yang lebih baik bagi masyarakat,” tutup Edyansyah. (*)


























