GOWA — Perpustakaan Kabupaten Gowa berubah menjadi ruang bertukar gagasan pada Sabtu malam (15/8/2026). Sekitar 20 pegiat literasi dan peserta berkumpul sejak pukul 19.00 hingga 21.30 WITA dalam rangkaian kegiatan Pustaka Sabtu Sore yang digelar bersama Gowa Movie Society.
Sebelum memasuki ruang perpustakaan, peserta terlebih dahulu bertemu di Lapangan Syekh Yusuf pada pukul 16.00–18.00 WITA. Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan agenda nonton dan diskusi film dokumenter dari kanal YouTube Kendati Demikian yang mengangkat persoalan sarjana pengangguran.
Film tersebut menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih luas, mulai dari pendidikan, pekerjaan, penghasilan, keterampilan, pengangguran, hingga pilihan generasi muda antara bekerja di korporasi atau membangun usaha sendiri.
Diskusi berlangsung cair. Peserta tidak sekadar membedah isi film, tetapi menghubungkannya dengan pengalaman dan pandangan masing-masing terhadap kondisi dunia kerja saat ini.
Ketika Gelar Sarjana Tak Otomatis Membuka Jalan
Salah satu pembahasan yang mengemuka adalah anggapan bahwa pendidikan tinggi secara otomatis membawa seseorang pada pekerjaan dan penghasilan yang baik.
Rahman menilai gelar sarjana tidak serta-merta menjamin seseorang memperoleh gaji tinggi. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi tetap membutuhkan keterampilan tambahan, termasuk kemampuan komunikasi, manajemen, serta pengelolaan keuangan.
Ia juga menilai anak muda perlu memiliki kemampuan mengelola penghasilan, bukan hanya mengejar pekerjaan dengan nominal gaji yang besar.
Pembahasan kemudian bergeser pada persoalan ekspektasi. Peserta mempertanyakan bagaimana jika lulusan baru, terutama dari kalangan milenial dan Gen Z, memiliki harapan gaji tinggi tetapi tidak menemukan pekerjaan yang sesuai.
Pertanyaannya pun menjadi lebih besar: apakah persoalannya terletak pada ekspektasi anak muda, atau pada kesempatan kerja dan kondisi ekonomi yang belum mampu memenuhi harapan tersebut?
Korporasi atau Usaha Sendiri?
Kiki melihat pilihan bekerja di perusahaan dari perspektif berbeda. Menurutnya, tidak semua orang memiliki mental, kemampuan, dan keterampilan untuk menjadi wirausaha. Bagi sebagian orang, bekerja di korporasi justru merupakan pilihan rasional karena menawarkan stabilitas.
“Banyak mau korporat karena stabil. Tidak semua bisa jadi wirausaha atau kelola bisnis,” menjadi salah satu pandangan yang mengemuka dalam diskusi.
Perdebatan tersebut memperlihatkan bahwa pilihan karier tidak selalu dapat dilihat hanya dari keberanian mengambil risiko. Ada kondisi keluarga, kemampuan finansial, keterampilan, serta kebutuhan terhadap pendapatan yang stabil.
Rahman kemudian membagikan pengalamannya pernah bekerja di PT Melia. Dari pengalaman tersebut, ia melihat pentingnya memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi sumber penghasilan tambahan.
Public speaking, menulis buku, komunikasi, dan manajemen disebut sebagai sejumlah kemampuan yang dapat menjadi modal untuk membangun kemandirian.
Pendidikan Saja Tidak Cukup
Firdaus membawa pembahasan ke persoalan pendidikan dan struktur ekonomi. Menurutnya, pendidikan saja tidak cukup. Penguasaan new media dan keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman juga diperlukan agar seseorang mampu bersaing.
Ia melihat pekerja berada dalam berbagai kelompok, mulai dari kelompok intelektual seperti lulusan S1 dan S2, pekerja berbasis keterampilan, hingga pekerja yang mengandalkan kemampuan fisik.
Masing-masing kelompok memiliki tantangan tersendiri dalam mendapatkan pekerjaan.
Daus juga menyinggung persoalan kepemilikan aset. Ia memberikan contoh keluarga yang harus menjual tanah untuk membiayai pendidikan anak. Ketika anak telah menyelesaikan pendidikan tinggi, belum tentu keluarga tersebut memiliki kemampuan ekonomi untuk membeli kembali aset yang telah dijual.
Dari sini, diskusi berkembang pada hubungan antara pendidikan, kepemilikan aset, kemiskinan, dan kesempatan ekonomi.
Jangan Menyalahkan Generasi Muda Semata
Farel mengingatkan agar persoalan Gen Z dan milenial tidak hanya dilihat sebagai persoalan kemalasan atau tingginya tuntutan terhadap pekerjaan.
Menurutnya, narasi bahwa anak muda terlalu banyak menuntut dapat mengabaikan persoalan kemiskinan struktural.
Seseorang bisa memiliki pendidikan, keterampilan, dan kemauan bekerja, tetapi tetap menghadapi keterbatasan kesempatan.
Pandangan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan tentang siapa yang seharusnya bertanggung jawab terhadap persoalan pengangguran.
Pemerintah dan Tantangan Menciptakan Kesempatan
Ihsan mempertanyakan praktik magang yang dilakukan pemerintah maupun berbagai instansi. Ia mempertanyakan apakah program tersebut benar-benar menjadi sarana pembelajaran dan persiapan memasuki dunia kerja atau justru berpotensi menjadi bentuk pemanfaatan tenaga anak muda.
Eka berpandangan pemerintah perlu hadir memberikan solusi karena berbagai program pembangunan dibiayai melalui pajak masyarakat.
Sementara itu, Rahman menilai pemerintah telah menjalankan sejumlah program yang bertujuan membuka lapangan pekerjaan. Namun, peserta lain mengingatkan bahwa persoalan pengangguran tidak sesederhana persoalan kemauan bekerja.
Ketika Pencari Kerja Lebih Banyak daripada Lapangan Kerja
Diskusi akhirnya sampai pada persoalan hukum permintaan dan penawaran dalam pasar tenaga kerja.
Ketika jumlah pencari kerja jauh lebih besar dibandingkan pekerjaan yang tersedia, persaingan menjadi semakin ketat. Kondisi semakin kompleks ketika banyak pencari kerja memiliki kemampuan yang relatif sama.
Karena itu, pengangguran tidak dapat diselesaikan hanya dengan mendorong anak muda untuk kuliah, mengikuti pelatihan, atau menjadi pengusaha.
Pendidikan, keterampilan, pertumbuhan lapangan kerja, kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, inflasi, hingga kemampuan industri menyerap tenaga kerja merupakan persoalan yang saling berkaitan.
Perpustakaan Menjadi Ruang Bertemu
Bagi Arief Muhammad, inisiator Pustaka Sabtu Sore dan Gowa Movie Society, kegiatan malam itu menunjukkan bahwa film dapat menjadi pintu masuk untuk membangun percakapan publik.
Film tentang sarjana pengangguran tidak berhenti sebagai tontonan. Ia membawa peserta pada pengalaman yang lebih dekat: bagaimana seseorang setelah lulus kuliah masih kesulitan mendapatkan pekerjaan, mengapa gelar pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan pendapatan, dan mengapa sebagian anak muda memilih korporasi karena dianggap lebih aman dibandingkan membangun bisnis sendiri.
Farel mengaku datang ke perpustakaan karena ingin memecah kesunyian sekaligus bertemu dengan teman-teman. Sementara Asma mendorong peserta untuk menemukan teman-teman yang memiliki minat membaca buku.
Di antara peserta, Putri juga hadir sebagai pengunjung baru.
Setelah diskusi, para pegiat literasi saling memperkenalkan diri dan berfoto bersama. Mereka berbagi alasan bergabung dalam Pustaka Sabtu Sore. Sebagian besar mengaku senang karena kegiatan tersebut memberi kesempatan untuk bertemu, membaca, berdiskusi, dan membangun jejaring dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama.
Malam itu tidak menghasilkan jawaban tunggal tentang apakah bekerja di korporasi lebih baik daripada menjadi pengusaha.
Namun, satu hal menjadi jelas: pilihan pekerjaan generasi muda tidak lahir dari satu faktor.
Ada kebutuhan akan stabilitas, tuntutan keterampilan, ekspektasi penghasilan, kondisi ekonomi, kesempatan kerja, hingga peran pemerintah.
Dari sebuah film tentang sarjana pengangguran, ruang perpustakaan akhirnya menjadi tempat untuk mengajukan pertanyaan yang jauh lebih besar: ketika seseorang sudah berpendidikan dan memiliki keterampilan, tetapi pekerjaan tetap sulit didapat, sebenarnya persoalannya ada di mana?
Pertanyaan itu belum selesai. Dan mungkin, justru karena itulah Pustaka Sabtu Sore perlu terus berjalan—agar perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi juga tempat orang-orang bertemu, membaca keadaan, dan membicarakan masa depan. (Galang)














