Lingkungan

Eksperimen Indigofera di Eks Lahan Tambang PT Vale dan Harapan Baru Reklamasi

Tim Redaksi
×

Eksperimen Indigofera di Eks Lahan Tambang PT Vale dan Harapan Baru Reklamasi

Sebarkan artikel ini
Riset Dosen Unhas Marhamah Nadir di Lahan Eks Tambang PT Vale
Riset Dosen Unhas Marhamah Nadir di Lahan Eks Tambang PT Vale

DI HAMPARAN lahan reklamasi bekas tambang PT Vale Indonesia di Sorowako Kabupaten Luwu Timur, sebuah eksperimen senyap sedang berlangsung.

Di antara tanah berbatu dan karakter lahan yang keras, tanaman Indigofera zollingeriana terlihat paling cepat beradaptasi.

Tanaman ini bukan tumbuhan biasa. Ia adalah hasil riset panjang seorang akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas), Marhamah Nadir, SP., M.Si., Ph.D, dosen Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan.

Sejak Februari 2025, Marhamah bersama mahasiswa bimbingannya melakukan uji tanam langsung di lahan reklamasi tambang PT Vale.

Riset Dosen Unhas Marhamah Nadir di Lahan Eks Tambang PT Vale (Foto: IST)

Luasan area riset sekitar 20 x 30 meter, berlokasi di area disposal deck, dengan akses melalui bagian belakang nursery. Seluruh proses penanaman dilakukan secara mandiri oleh tim riset, mulai dari pembibitan hingga perawatan.

“Bibitnya kami bawa langsung dari Makassar. Pupuknya kompos, dan penanamannya kami kerjakan sendiri bersama mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir di Vale,” ujar Marhamah saat diwawancara, Selasa (06/01).

Riset ini menjadi contoh konkret kolaborasi antara kampus, mahasiswa, dan industri, dengan pembagian peran yang jelas. PT Vale menyediakan lahan, serta dukungan akomodasi dan konsumsi bagi mahasiswa yang melakukan penelitian tugas akhir.

Sementara itu, pendanaan utama riset justru berasal dari hibah penelitian Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendiktisaintek—menegaskan independensi akademik dalam riset ini.

Yang perlu diketahui, tanaman Indigofera yang diuji ternyata bukanlah varietas umum. Marhamah mengungkapkan bahwa tanaman tersebut merupakan hasil mutasi genetik yang telah ia teliti sejak tahun 2020.

Tujuan risetnya jelas, yakni untuk menghasilkan varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi ekstrem lahan pasca tambang.

“Ini sudah dimutasi, dan goal-nya memang varietas yang bisa hidup dan tumbuh di lahan tambang,” jelasnya.

Hasil sementara menunjukkan temuan yang menjanjikan. Di area reklamasi yang juga ditanami berbagai jenis vegetasi lain, Indigofera justru menjadi tanaman yang paling cepat tumbuh dan bertahan.

Riset Dosen Unhas Marhamah Nadir di Lahan Eks Tambang PT Vale (Foto: IST)

Temuan ini membuka peluang besar bagi pengembangan model reklamasi berbasis sains, bukan sekadar kewajiban administratif.

Lebih dari sekadar uji tanaman, riset ini mencerminkan pendekatan baru dalam pemulihan lingkungan pasca tambang di mana pengetahuan akademik, keterlibatan mahasiswa, dan dukungan industri bertemu dalam satu tujuan untuk memulihkan fungsi ekologis lahan.

Di tengah kritik publik terhadap praktik pertambangan dan dampaknya terhadap lingkungan, apa yang dilakukan Marhamah dan timnya menunjukkan bahwa solusi berbasis riset bukan sekadar wacana. Ia tumbuh, berakar, dan perlahan menghijau—bahkan di tanah yang pernah kehilangan harapan. (*)