Berita

Ratusan Hektar Lahan Pertanian Terancam Abrasi Sungai Walanae, Andi Iwan Aras Perintahkan Sultan Tajang Tinjau Lokasi

Tim Redaksi
×

Ratusan Hektar Lahan Pertanian Terancam Abrasi Sungai Walanae, Andi Iwan Aras Perintahkan Sultan Tajang Tinjau Lokasi

Sebarkan artikel ini

WAJO — Abrasi Sungai Walanae di perbatasan Kabupaten Wajo dan Bone, Sulawesi Selatan, kian mengkhawatirkan. Selain mengancam permukiman warga dan akses jalan penghubung antardaerah, abrasi juga berpotensi merusak ratusan hektar lahan pertanian milik masyarakat.

Merespons kondisi tersebut, Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Andi Iwan Darmawan Aras langsung memerintahkan Anggota Komisi D DPRD Sulawesi Selatan Fraksi Gerindra, Sultan Tajang, bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan-Jeneberang untuk turun meninjau lokasi abrasi di Kecamatan Bola, Kabupaten Wajo.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Peninjauan dilakukan di Lingkungan Eree, Kelurahan Solo, Kecamatan Bola, Minggu (24/5/2026), menyusul laporan warga terkait kondisi bantaran Sungai Walanae yang terus mengalami pengikisan.

Berdasarkan hasil pengukuran Pemerintah Kecamatan Bola, abrasi telah mengikis sekitar 200 meter bahu jalan di jalur vital penghubung Wajo dan Bone. Dua titik kerusakan terparah masing-masing mencapai sekitar 50 meter dan 157 meter.

Namun, ancaman terbesar dinilai berada pada sektor pertanian masyarakat. Sultan Tajang mengatakan abrasi Sungai Walanae berpotensi berdampak terhadap sekitar 300 hektar lahan persawahan dan 30 hektar perkebunan warga.

“Penanganan titik abrasi Sungai Walanae perlu segera ditindaklanjuti karena akan berdampak pada sekitar 300 hektar lahan persawahan dan sekitar 30 hektar perkebunan, termasuk rumah ratusan warga,” ujar Sultan Tajang di sela peninjauan.

Peninjauan Abrasi di Kelurahan Solo

Menurutnya, kondisi abrasi kini telah memasuki tahap darurat karena terjadi tepat di depan kawasan permukiman padat penduduk dan terus mendekati area produktif masyarakat.

Ia menegaskan pemerintah pusat melalui BBWS Pompengan-Jeneberang harus segera melakukan penanganan permanen maupun langkah darurat agar kerusakan tidak semakin meluas.

“Jika tidak segera ditangani, abrasi ini bukan hanya mengancam akses jalan, tetapi juga keselamatan warga dan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan Wajo-Bone,” tegasnya.

Dalam peninjauan tersebut, Sultan Tajang didampingi pihak BBWS Pompengan-Jeneberang, Camat Bola Andi Abdul Dzuljalali Wal Ikram, serta komunitas Roemah Djoeang AIA.

Selain di Kelurahan Solo, rombongan juga meninjau titik abrasi di Dusun Tobaku, Desa Benteng Lompoe, Kecamatan Sabbang Paru, Kabupaten Wajo. Kondisi di wilayah itu juga dinilai memerlukan penanganan cepat karena abrasi terus mendekati lahan warga dan permukiman penduduk.

Peninjauan di Desa Benteng Lompoe turut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Wajo, Fery Saputra Santu, Kepala Desa Benteng Lompoe, Herman, serta sejumlah tokoh masyarakat setempat. (*)