SELAMA lebih dari lima dekade PT Vale Indonesia Tbk (kode saham INCO) dikenal sebagai produsen nikel dalam matte dari Sorowako; pada 2026 perusahaan ini memasuki fase yang berbeda, yakni mengoperasikan tiga blok tambang sekaligus dan membangun tiga pabrik pengolahan HPAL di Sulawesi.
Perusahaan berdiri pada 25 Juli 1968 dan tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 16 Mei 1990. Selama puluhan tahun modelnya sederhana: satu wilayah tambang di Sorowako, Luwu Timur, dan satu pabrik peleburan. Kuartal I 2026 menandai perubahan itu, karena Sorowako, Bahodopi (Morowali), dan Pomalaa (Kolaka) beroperasi bersamaan untuk pertama kalinya.
Perubahan itu didorong kewajiban hilirisasi dalam izin usaha, masuknya negara sebagai pemegang saham terbesar, dan permintaan bahan baku baterai kendaraan listrik.
Artikel ini menelusuri fondasi korporasinya, kinerja terbarunya, skala ekspansinya, dan satu pertanyaan yang menyertai semuanya, yakni seberapa jauh klaim keberlanjutan perusahaan sejalan dengan temuan dan keberatan di lapangan.
PROFIL DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN
MIND ID, holding BUMN pertambangan, menjadi pemegang saham terbesar PT Vale Indonesia dengan 34 persen sejak 28 Juni 2024, tetapi Vale Canada Limited masih memegang porsi yang nyaris sama, sehingga perusahaan ini dikendalikan bersama, bukan oleh negara seorang diri.
| Pemegang saham | Porsi per Juli 2026 |
| PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) | 34,00% |
| Vale Canada Limited | 33,88% |
| Sumitomo Metal Mining Co., Ltd. | 11,48% |
| Publik (masing-masing di bawah 5%) | 20,64% |
Angka di atas bersumber dari keterbukaan informasi BEI yang dirangkum KabarBursa dan dari komposisi pasca-divestasi 2024 yang dilaporkan Kontan. Porsi Sumitomo dihitung dari total tiga pemegang saham pengendali (79,36 persen) dikurangi dua porsi lainnya, dan cocok dengan angka 2024.
Peralihan ini terjadi dua tahap. Pada 2020, Inalum (kini bagian MIND ID) membeli 20 persen saham dari Vale Canada dan Sumitomo.
Tahap kedua, tambahan sekitar 14 persen, rampung pada 28 Juni 2024 melalui penerbitan saham baru dengan HMETD dan pembelian sebagian saham lama milik Vale Canada, Sumitomo, dan Vale Japan di pasar negosiasi. Harga transaksi disepakati Rp3.050 per saham, dan divestasi ini menjadi prasyarat perubahan Kontrak Karya menjadi IUPK.
Soal kendali, Menteri BUMN saat itu menyebut MIND ID akan mengendalikan perusahaan bersama Vale Canada. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan bahwa Vale Canada menunjuk direktur operasional dan direktur yang membidangi ESG, sedangkan MIND ID menempatkan perwakilannya di jajaran pimpinan. Induk Vale Canada kini adalah Vale Base Metals.
Porsi 34 persen itu dipegang MIND ID sebagai holding BUMN, bukan langsung oleh pemerintah, dan belum berarti kendali tunggal atas perusahaan.
KONSESI DAN IUPK HINGGA 2035
Izin operasi PT Vale berlaku sampai 28 Desember 2035 dalam bentuk Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang diterima perusahaan pada 13 Mei 2024, dengan wilayah konsesi 118.017 hektare yang tidak diciutkan.
Perusahaan menerima IUPK sebagai pengganti Kontrak Karya yang semula berakhir 28 Desember 2025. Menurut pernyataan CEO kala itu, IUPK berlaku untuk sisa masa Kontrak Karya, lalu diperpanjang 10 tahun sampai 2035, dan dapat diperpanjang lagi per 10 tahun sesuai ketentuan.
Dua kewajiban utama tercantum, yaitu membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian baru termasuk fasilitas hilir lanjutan, dan membayar bagi hasil IUPK 10 persen dari laba bersih kepada pemerintah.
Tenggat pembangunan yang disebut Menteri ESDM berubah-ubah antar pernyataan, antara tiga dan lima tahun, sehingga angka pastinya sebaiknya dicek ke dokumen IUPK.
Luas konsesi tersebar di tiga provinsi:
| Provinsi | Luas (hektare) |
| Sulawesi Selatan | 70.566 |
| Sulawesi Tengah | 22.699 |
| Sulawesi Tenggara | 24.752 |
| Total | 118.017 |
Angka 118.017 hektare adalah sisa dari wilayah yang jauh lebih besar. Kontrak Karya yang diteken 27 Juni 1968 semula mencakup sekitar 6,6 juta hektare. Setelah 12 kali pengembalian wilayah, perusahaan hanya mempertahankan sekitar 2 persen, termasuk pengembalian 72.075 hektare pada 2014 dan 418 hektare pada 2017 untuk transmigrasi
Luas konsesi dan luas yang dipakai berbeda jauh. Pada 2023 Bisnis.com melaporkan area yang dimanfaatkan sejak smelter Sorowako beroperasi 1978 baru sekitar 7.000 sampai 8.000 hektare, atau 6 sampai 7 persen dari wilayah Kontrak Karya hasil amendemen 2014.
Jarak itu menjelaskan mengapa luas konsesi menjadi isu politik dimana gubernur di tiga provinsi sempat menolak perpanjangan izin dalam rapat dengan Komisi VII DPR, dan sebagian pihak mendorong konsesi dipangkas ke sekitar 25.000 hektare.
PRODUKSI DAN KINERJA: REKOR 2025, JEDA 2026
Produksi nikel dalam matte Sorowako mencapai rekor 71.311 ton pada 2024 dan 72.027 ton pada 2025, lalu turun ke 29.773 ton pada semester I 2026 karena pembangunan kembali Tanur Listrik 3, sementara laba melonjak berkat harga yang lebih tinggi.
| Periode | Produksi nikel matte (ton) | Keterangan |
| 2024 | 71.311 | Rekor tahunan menurut Laporan Keberlanjutan 2024 |
| 2025 | 72.027 | Naik 1%; target awal sekitar 71.234 ton (Bisnis.com; BCA Sekuritas) |
| Semester I 2025 | 35.584 | Bisnis.com |
| Semester I 2026 | 29.773 | Turun sekitar 16%; Tanur Listrik 3 selesai dibangun ulang Juni 2026 (Kontan; KabarBursa) |
Di sisi keuangan, 2025 ditutup dengan pendapatan US$990,2 juta (naik 4,2 persen) dan laba bersih US$76,1 juta (naik 32 persen), meski harga realisasi rata-rata nikel matte turun 7 persen ke US$12.157 per ton.
Kenaikan ditopang tingkat payability nikel matte yang lebih tinggi sejak Juli 2025 dan volume pengiriman yang naik. Hampir seluruh penjualan nikel matte, US$888,6 juta, diekspor ke pihak berelasi, termasuk US$711,5 juta ke Vale Canada.
Pada semester I 2026, pendapatan naik 27,26 persen menjadi US$543,06 juta dan laba bersih naik 313 persen menjadi US$104,37 juta. Harga realisasi rata-rata semester itu US$14.491 per ton, naik 21 persen dari tahun sebelumnya dan 2026 adalah tahun penuh pertama dengan payability 82 persen. Kas turun dari US$220 juta (31 Maret) menjadi US$111 juta (30 Juni 2026), terutama karena belanja investasi proyek, dengan belanja modal sekitar US$116 juta pada kuartal II saja.
Lini bisnis baru mulai berkontribusi. Penjualan perdana bijih saprolit dari Bahodopi dan Pomalaa berlangsung Juli 2025, lebih cepat dari rencana, dan mencapai 896.263 wmt sampai September 2025. Pada semester I 2026, Bahodopi menjual 1,96 juta wmt saprolit dan Pomalaa 1,35 juta wmt, dengan penjualan limonit perdana dari Pomalaa pada awal 2026.
HILIRISASI: TIGA PROYEK HPAL DI SULAWESI
PT Vale membangun tiga proyek pengolahan HPAL di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako dengan nilai investasi gabungan US$7,2 sampai 8,7 miliar, dan per Oktober 2026 hanya Pomalaa yang sudah mendekati operasi.
Perbedaan angka gabungan itu berasal dari cakupan dan waktu pemaparan. Dalam paparan kepada DPR, perusahaan menyebut tiga proyek senilai US$8,7 miliar, sedangkan paparan publik 10 September 2026 menyebut US$1,9 miliar untuk Morowali, US$3,2 miliar untuk Pomalaa, dan US$2,1 miliar untuk Sorowako, atau US$7,2 miliar. Karena itu angka per proyek di tabel berikut ditampilkan sebagai rentang.
| Proyek | Mitra | Investasi (US$ miliar) | Kapasitas | Status (Oktober 2026) |
| IGP Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara | Huayou, Ford (lewat PT Kolaka Nickel Indonesia) | 3,2 sampai 4,5 | 120.000 ton nikel dalam MHP per tahun | Konstruksi fisik dan mekanis pabrik selesai, memasuki komisioning; tambang sudah beroperasi (Katadata; BCA Sekuritas) |
| IGP Morowali, Bahodopi dan Sambalagi, Sulawesi Tengah | GEM, EcoPro | 1,9 sampai 2,0 | 60.000 ton MHP per tahun (setara 73.000 ton nikel) | Dua autoclave telah tiba; target mechanical completion kuartal IV 2026 dengan syarat perizinan, operasi mekanis penuh kuartal I 2027 (Petromindo; Antara) |
| IGP Sorowako Limonit, Luwu Timur, Sulawesi Selatan | Huayou; calon mitra ketiga masih dicari | 2,1 sampai 2,2 | 60.000 ton MHP per tahun, dari 11,5 juta wmt limonit per tahun | Tahap awal konstruksi; target operasi 2027 menurut CEO, 2028 menurut paparan September 2026 (Republika; Antara) |
HPAL (high pressure acid leaching) melarutkan bijih nikel laterit kadar rendah dengan asam pada tekanan dan suhu tinggi, menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan antara menuju material baterai kendaraan listrik.
Teknologi ini membuat limonit, yang sebelum 2021 diperlakukan sebagai limbah karena tidak ekonomis, menjadi sumber bahan baku. Itu sebabnya proyek ini cocok dengan kewajiban hilirisasi dalam IUPK: Menteri ESDM sudah menyatakan rencana HPAL Pomalaa masuk dalam perjanjian konversi IUPK.
Pomalaa, proyek paling maju
Pabrik di Pomalaa mengolah bijih dari tambang Vale sendiri. Presiden Direktur Bernardus Irmanto menyebut kebijakan Ford bahwa pabrik itu hanya boleh menerima bijih dari PT Vale, setelah Ford menilai praktik keberlanjutan perusahaan. Skala tambangnya besar: rencana produksi 21 juta wmt limonit dan 7 juta wmt saprolit per tahun. Menurut Fortune IDN, Vale berhak atas kepemilikan hingga 30 persen pabrik melalui opsi beli.
Sorowako, proyek yang tertinggal
CEO Bernardus mengakui progres Sorowako paling tertinggal dibanding dua proyek lain. Pabrik HPAL-nya dibangun di Malili, sekitar 60 kilometer dari tambang Sorowako, dengan limonit dialirkan lewat pipa. Lokasinya berada di kawasan industri Indonesia Huali Industry Park (IHIP), joint venture yang dibentuk Juni 2023 dengan Huayou memegang 70 persen dan PT Rimau Java Investama 30 persen.
KEBERLANJUTAN: KLAIM, CAPAIAN, DAN KEBERATAN
PT Vale punya capaian lingkungan yang terdokumentasi, terutama listrik tenaga air dan peringkat PROPER Emas, tetapi ekspansi ke Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako membawa sengketa dan risiko baru yang belum selesai dijawab.
Yang diklaim dan dicapai perusahaan
- Smelter Sorowako ditenagai tiga PLTA: Larona (165 MW, beroperasi 1979), Balambano (110 MW), dan Karebbe (90 MW, 2011), total 365 MW. CEO Bernardus Irmanto menyatakan seluruh proses peleburan memakai listrik PLTA dan menyebut pabrik Sorowako sebagai pabrik RKEF dengan intensitas emisi karbon terendah di Indonesia. Itu klaim perusahaan, dan dalam sumber yang dirujuk belum ada audit independen yang memverifikasinya.
- Target iklim. Penurunan emisi Scope 1 dan 2 sebesar 33 persen pada 2030 terhadap baseline 2017, dan netral karbon pada 2050. Ringkasan Laporan Keberlanjutan 2024 mencatat 30,6 persen energi berasal dari sumber terbarukan. Dua angka ini, 100 persen listrik peleburan dan 30,6 persen total energi, tampaknya mengukur hal berbeda; definisi keduanya perlu dicek ke laporan lengkapnya.
- PROPER Emas. Pada Februari 2025 PT Vale menerima PROPER Emas 2024 dari Kementerian Lingkungan Hidup, disebut sebagai perusahaan nikel pertama yang meraihnya, dari 85 perusahaan yang dinilai.
- Per kuartal I 2025 lahan terbuka 5.969,96 hektare dan lahan tereklamasi 3.819,64 hektare, sekitar 64 persen. Sepanjang 2025 perusahaan mereklamasi 156,67 hektare di Sorowako dan 1,42 hektare di IGP Morowali.
- Perusahaan melaporkan investasi lingkungan 2025 naik 54,3 persen menjadi US$43,79 juta dan memperoleh fasilitas Sustainability-Linked Loan hingga US$750 juta.
Yang dipersoalkan
Pomalaa. Laporan Yayasan Satya Bumi dan Puspaham (22 Januari 2026) menyebut konsesi Vale, kawasan industri IPIP, dan pabrik HPAL tumpang tindih dengan kawasan hutan lindung seluas 5.176,04 hektare serta daerah aliran sungai Mekongga dan Oko-Oko. Perusahaan menanggapi bahwa total bukaan lahan di IUPK Pomalaa 880,3 hektare atau 4,3 persen, bukaan baru 2024 sampai 2025 sebesar 487,9 hektare dan bukan 854,29 hektare seperti angka kedua organisasi itu, serta bahwa Desa Hakatutobu berada di DAS berbeda dari aliran limpasan tambang Vale.
Terpisah, WALHI Sulawesi Tenggara mengaitkan banjir lumpur di Desa Oko dan Lamedai dengan operasi tambang di kawasan IPIP dan zona industri Vale, dan warga Hakatutobu melaporkan banjir lumpur berulang pada Maret 2025. Itu tudingan dan laporan warga; perusahaan menyangkal sebagian di antaranya, dan sebab banjir belum dikonfirmasi kajian independen dalam sumber yang dirujuk.
Sorowako dan Blok Tanamalia. Pada 2023 WALHI Sulawesi Selatan menuding eksplorasi nikel Vale menyerobot lahan petani merica di Desa Loeha, Mahalona, dan Rante Angin, Luwu Timur. Vale menjawab bahwa pihaknya melakukan konsultasi publik dan mengedepankan dialog. Kajian akademik juga mencatat sengketa klaim lahan antara komunitas adat To Karunsi’e di Kampung Dongi dan perusahaan.
Tailing HPAL. Risiko ini bersifat industri, bukan khusus Vale. Laporan Earthworks (Maret 2026) menyimpulkan bahwa regulasi tertinggal dari laju industri nikel, dengan kegagalan fasilitas tailing HPAL di kawasan industri lain yang menewaskan pekerja. Ketua Forum Industri Nikel Indonesia memperingatkan tekanan pengelolaan tailing dalam dua sampai tiga tahun ke depan karena penyimpanan kering memerlukan lahan luas. Rencana penyimpanan tailing untuk tiga pabrik HPAL Vale belum terlihat dipaparkan terbuka dalam sumber yang dirujuk artikel ini, dan itu pertanyaan yang layak diajukan menjelang pabrik beroperasi.
PT Vale sendiri menanggapi kritik media dengan hak jawab resmi yang menyebut sebagian data kritik bersumber dari Laporan Keberlanjutan 2024 sehingga bersifat historis.
NILAI CARES DAN HUBUNGAN DENGAN PEMANGKU KEPENTINGAN
PT Vale merumuskan budaya kerjanya dalam lima nilai berakronim CARES, tetapi ujiannya ada pada saluran yang tersedia bagi warga untuk menyampaikan keberatan dan pada rekam jejak keselamatan kerja.
Lima nilai itu, sebagaimana tercantum dalam profil budaya perusahaan, adalah:
- Compassion: mengutamakan keselamatan manusia, aset, dan komunitas.
- Accountability: bertanggung jawab atas tindakan dengan integritas.
- Resilience: tangguh dan adaptif menghadapi tantangan.
- Excellence: mengejar keunggulan lewat sinergi, inovasi, dan kesederhanaan.
- Sustainability: memakai sumber daya secara bertanggung jawab, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan merawat lingkungan.
Dalam tanggapannya kepada Business & Human Rights Resource Centre (April 2025), perusahaan menyebut kebijakan hak asasi manusia yang menyatakan penghormatan pada hak masyarakat lokal, serta saluran pengaduan bernama Listening and Response Mechanism.
Program pemberdayaan masyarakat mengikuti rencana induk 2023 sampai 2027 yang berfokus pada pendidikan, kesehatan, kemandirian ekonomi, pelestarian budaya, infrastruktur sosial, dan penguatan kelembagaanLaporan Keberlanjutan 2024 mencatat nol kematian kerja dan investasi pengembangan masyarakat lebih dari US$4 juta.
Efektivitas saluran itu adalah yang diuji oleh sengketa di Pomalaa dan Sorowako pada bagian sebelumnya.
LIMA HAL YANG MENENTUKAN
Pertanyaan terbesar bagi PT Vale pada 2026 sampai 2027 adalah apakah tiga pabrik HPAL beroperasi sesuai jadwal dengan pengelolaan lingkungan yang bisa diverifikasi publik.
Pertama, start-up Pomalaa dan Morowali. Pomalaa memasuki komisioning pada September 2026, Morowali ditargetkan akhir 2026 sampai awal 2027, dengan perizinan dan fasilitas tailing sebagai penentu.
Kedua, Sorowako Limonite. Mitra ketiga belum final, jadwal operasi disebut 2027 dan 2028 dalam pernyataan berbeda, dan pabrik berada di kawasan industri IHIP, Malili.
Ketiga, data bukaan lahan. Angka bukaan baru di Pomalaa, 487,9 hektare menurut perusahaan dan 854,29 hektare menurut organisasi masyarakat sipil, perlu dicocokkan dengan data terbuka.
Keempat, keuangan. Kas US$111 juta per 30 Juni 2026 harus menopang belanja proyek, dengan fasilitas pinjaman berkaitan keberlanjutan hingga US$750 juta sebagai salah satu sumber dana.
Kelima, horizon IUPK. Izin sampai 2035 disertai kewajiban hilirisasi, sehingga keterlambatan pabrik bukan sekadar urusan bisnis, tetapi juga urusan kepatuhan izin.
PENUTUP
Sejak 1968, PT Vale membangun reputasinya dari satu tambang di tepi Danau Matano dan listrik dari tiga bendungan di Sungai Larona. Kini ia melangkah jauh melampaui Sorowako: tiga pabrik HPAL dibangun di tiga provinsi, dengan izin yang berlaku sampai 2035.
Sejarah panjang itu memberi perusahaan modal kepercayaan, tetapi modal itu tidak otomatis berlaku di Pomalaa, Bahodopi, dan Malili, tempat warga menunggu bukti, bukan janji.
Nikel yang kelak menjadi bahan baterai akan dinilai bukan hanya dari kemurniannya, tetapi juga dari seberapa terbuka perusahaan menunjukkan apa yang tertinggal di tanah, hutan, dan sungai yang dilaluinya. (*)

























