JAKARTA — Di tengah kekhawatiran terhadap potensi krisis bahan baku sulfur secara global, PT Vale Indonesia Tbk memastikan operasional produksinya masih berada dalam kondisi aman.
Perusahaan menyatakan telah menyiapkan cadangan pasokan yang memadai untuk mendukung produksi asam sulfat, salah satu komponen penting dalam proses pengolahan nikel di smelter.
Chief Financial Officer Vale, Rizky Andhika Putra, mengungkapkan bahwa manajemen perseroan telah mengantisipasi potensi gangguan rantai pasok sejak awal.
Menurutnya, ketersediaan bahan baku untuk tahun berjalan masih dalam batas aman dan dapat dikelola secara optimal.
“Persediaan masih cukup untuk menjaga operasional tahun ini tetap berjalan,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Meski demikian, perusahaan tidak mengabaikan potensi risiko ke depan. Vale disebut terus memperkuat strategi pengadaan dengan mencari alternatif sumber pasokan sekaligus menjaga efisiensi operasional.
Langkah ini mencakup diversifikasi pemasok hingga optimalisasi penggunaan bahan baku, sebagai bagian dari strategi mitigasi di tengah dinamika pasar global.
Di sisi lain, tekanan terhadap pasokan sulfur global mulai dirasakan pelaku industri, terutama akibat gangguan distribusi dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi pemasok utama.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, menyebut sejumlah perusahaan telah mulai mencari sumber pasokan alternatif dari negara lain.
Namun, menurutnya, upaya tersebut tidak mudah dilakukan karena keterbatasan kapasitas produksi serta faktor jarak yang berdampak pada biaya logistik.
“Pasokan dari negara alternatif tidak sebanyak dari Timur Tengah, sementara harga sulfur global juga terus meningkat,” ujarnya.
Kondisi tersebut mendorong sebagian pelaku industri mempertimbangkan opsi impor dalam bentuk asam sulfat sebagai pengganti sulfur.
Meski demikian, opsi ini juga menghadapi tantangan, mulai dari kebutuhan penanganan khusus hingga kompleksitas perizinan.
FINI pun mendorong adanya dukungan kebijakan dari pemerintah, khususnya dalam hal penyederhanaan izin impor pada kondisi darurat guna menjaga keberlangsungan industri.
Dengan berbagai tantangan tersebut, pelaku industri nikel kini dituntut untuk lebih adaptif dalam mengelola rantai pasok, sekaligus memperkuat strategi ketahanan bahan baku di tengah ketidakpastian global. (*)
























