JENEPONTO – Upaya mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) dalam meningkatkan kualitas sanitasi di lingkungan perdesaan kembali menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Pada Selasa (24/6) pukul 16.00 WITA, mahasiswa Posko 3 PBL III melaksanakan kegiatan evaluasi terhadap program intervensi Percontohan Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Sederhana di Lingkungan Butta Barakka, Kelurahan Bulujaya, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Praktik Belajar Lapangan (PBL) yang telah dimulai sejak tahap identifikasi masalah pada PBL I dan dilanjutkan dengan pelaksanaan intervensi pada PBL II.
Di bawah bimbingan dosen lapangan, Rizky Chaeraty Syam, S.K.M., M.Kes., mahasiswa membangun sistem SPAL sederhana sebagai solusi atas permasalahan limbah rumah tangga yang mencemari lingkungan.
Menurut hasil pengamatan pada PBL I, sebagian besar rumah tangga di lingkungan Butta Barakka belum memiliki sistem sanitasi yang memadai. Limbah dari dapur dan kamar mandi kerap dibuang ke saluran terbuka atau langsung ke tanah, menimbulkan bau tak sedap serta menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Sebagai respons terhadap masalah tersebut, mahasiswa bersama warga membangun SPAL sederhana menggunakan bahan-bahan lokal seperti batu kali, serabut kelapa, pasir, dan kerikil.
Sistem ini dirancang dengan konsep resapan yang mampu menyaring limbah cair dan menguranginya secara efektif sebelum kembali ke tanah. Untuk menjaga kebersihan dan mengurangi potensi pencemaran, bagian atas SPAL ditutup dengan seng dan ditimbun tanah.
Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung ke lokasi serta wawancara dengan Kepala Lingkungan Butta Barakka, Bapak Dg Rani. Ia mengungkapkan bahwa warga telah merasakan manfaat dari sistem ini.
“Dengan adanya SPAL sederhana ini sangat bermanfaat, di antaranya nyamuk sudah tidak terlalu banyak dan tidak berbau karena limbah dibuang di tempat yang tertutup,” ujarnya.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa program intervensi bukan hanya berhasil diterapkan secara teknis, tetapi juga berdampak nyata terhadap peningkatan kualitas lingkungan. Lingkungan menjadi lebih bersih, lebih nyaman, dan risiko penyebaran penyakit yang ditimbulkan dari sanitasi buruk berhasil ditekan.
Lebih dari itu, program ini juga berhasil meningkatkan kesadaran dan partisipasi warga dalam menjaga kebersihan lingkungan. Antusiasme masyarakat terlihat jelas selama proses pembangunan berlangsung.
Banyak warga bahkan menyatakan keinginan untuk mengadopsi sistem SPAL di rumah masing-masing, sementara Kepala Lingkungan menyatakan harapannya agar program serupa dapat direplikasi di kawasan lain di Kelurahan Bulujaya.
Kegiatan ini juga selaras dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan nomor 6 tentang akses terhadap air bersih dan sanitasi layak. Program ini menjadi wujud nyata keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air dan sanitasi yang berkelanjutan.
Bagi para mahasiswa, evaluasi ini menjadi bagian penting dari proses belajar. Mereka tak hanya menilai efektivitas program, tetapi juga mengasah kemampuan dalam merancang dan mengevaluasi intervensi kesehatan berbasis masalah dan pemberdayaan.
Program ini menjadi bukti bahwa pendekatan partisipatif di tingkat lokal mampu menghadirkan perubahan yang signifikan bagi kualitas hidup masyarakat. (*)




















