MAKASSAR – Demonstrasi telah meluluhlantahkan berbagai fasilitas umum di Indonesia, tak terkecuali rumah rakyat yakni kantor DPRD Kota Makassar dan Provinsi Sulsel menjadi amukan massa yang tidak terkendali.
Jatuhnya korban jiwa menjadi simbol kekerasan dan anarkisme. Tentu bukan itu yang diharapkan karena sejatinya masyarakat Makassar penuh kesantunan dan sombere’ bagi sesama apalagi bagi para pendatang.
Pemerintah, perguruan tinggi hingga sekolah negeri dan swasta serentak menerapkan work from home (WFH) dan work from anywhere (WFA) mulai 30 Agustus hingga 4 September 2025 bagi mahasiswa, peserta didik, hingga pegawai/karyawan.
Ditengah disrupsi dan penerapan WFA tersebut, masyarakat tumpah ruah mengunjungi warkop-warkop di Kota Makassar. Hal itu menjadi pilihan agar silaturahmi tetap hangat dan kuat.
Salah satunya, warkop 183 yang beralamat di KM 15 tepatnya depan AURI Daya. Sekelompok orang lintas profesi yang tergabung dalam “183 Community” tetap eksis dan bersilaturahmi dengan menyatakan sikap “Makassar Aman” untuk semua.
Ardi “Bang Jo” berharap Makassar bangkit kembali setelah beberapa hari yang lalu sempat “menyala” sebuah istilah yang beredar di medsos dan platform digital lainnya.
“Makassar menyala telah lewat diganti dengan Makassar aman,” ucapnya saat menyeruput segelas kopi khas 183,” Rabu, (3/9).
Om Ben, salah seorang driver Makassar-Soppeng berharap semua bisa menahan diri untuk merawat Makassar kembali tenang dan bersemangat seperti sedia kala.
“Mari kuatkan silaturahmi dan saling mendoakan agar Makassar kembali aman,” kuncinya
183 Community menjadi wadah para lintas profesi mulai dari pengusaha, dosen, driver, karyawan swasta hingga purnawirawan ASN, TNI dan POLRI bersatu padu memberikan kesejukan dan kebersamaan terutama menjaga Kota Makassar tetap aman untuk semua. (*)



















