Berita

Di Panggung COP30, PT Vale dan Huayou Tunjukkan Wajah Baru Industri Nikel Indonesia

Tim Redaksi
×

Di Panggung COP30, PT Vale dan Huayou Tunjukkan Wajah Baru Industri Nikel Indonesia

Sebarkan artikel ini
PT Vale dan Huayou Tunjukkan Wajah Baru Industri Nikel Indonesia
PT Vale dan Huayou Tunjukkan Wajah Baru Industri Nikel Indonesia

BRAZIL — Riuh perbincangan tentang krisis iklim di COP30 seakan menemukan arah baru ketika Indonesia menampilkan salah satu andalannya yakni nikel rendah karbon.

COP30 adalah Konferensi Para Pihak ke-30 dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) yang berlangsung di Belém, Brasil.

Di Paviliun Indonesia, Kamis (14/11/2025), PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) bersama Huayou Indonesia berbagi cerita tentang bagaimana industri tambang bisa tumbuh tanpa mengkhianati masa depan bumi.

Dalam suasana yang hangat dan penuh antusiasme, sesi talk show bertajuk “Emerging Technologies to Respond to Climate Change” itu memperlihatkan bahwa upaya dekarbonisasi bukan sekadar wacana.

Indonesia—yang selama ini dikenal sebagai raksasa cadangan nikel dunia—kini mulai menata posisinya sebagai pemimpin dalam produksi mineral kritis berkelanjutan.

Budiawansyah, Direktur sekaligus Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale, membuka pemaparan dengan kisah yang selama ini jarang terdengar publik. Di Sorowako, kata dia, operasi nikel tak lagi hanya berbicara tentang produksi.

“Ada cita-cita besar yang sedang kami bangun. Bahwa pertumbuhan industri tidak boleh bertentangan dengan iklim,” ujarnya.

PT Vale memang tengah menjalankan transformasi besar-besaran. Targetnya ambisius: penurunan emisi absolut 33% pada 2030, sementara intensitas karbon produk ingin ditekan hingga separuhnya.

Upayanya menyentuh hampir seluruh proses — dari heat recovery, pemanfaatan off-gas, elektrifikasi, hingga optimalisasi pengeringan bijih. Semuanya dilakukan agar industrialisasi tidak lagi identik dengan polusi.

“Ini pekerjaan jangka panjang. Tapi jalan inilah yang harus ditempuh jika kita bicara masa depan industri nikel,” lanjutnya.

Menguatkan narasi yang dibangun PT Vale, giliran Huayou Indonesia mengambil panggung.

Stevanus, Director of Public Affairs Huayou Indonesia, bercerita bagaimana perusahaan mereka mencoba menutup celah emisi dari sisi hilir.

Teknologi yang mereka kembangkan memungkinkan panas buangan dipakai ulang untuk lebih dari 70% kebutuhan listrik proyek.

Tidak berhenti di sana — proses pemindahan lumpur bijih dibuat mengalir alami, CO₂ disolidifikasi, dan limbah diolah ulang hingga punya nilai baru.

“Setiap inovasi kami bertujuan satu: memangkas jejak karbon. Dalam model kami, penurunan emisi bisa lebih dari 2 ton CO₂e per ton nikel,” katanya

Kolaborasi dengan PT Vale, menurut Stevanus, menjadikan rantai pasok nikel Indonesia salah satu yang paling progresif di Asia.

Dari layar besar di arena Paviliun Indonesia, Plt. Deputi KLHK Hanifah Dwi Nirwana tampil memberikan dukungan.

Ia menegaskan bahwa pemerintah tak sekadar memberi izin, tetapi juga sedang membangun landasan regulasi yang kuat agar inovasi industri tetap selaras dengan perlindungan lingkungan.

“Kita ingin memastikan bahwa industrialisasi Indonesia berdiri di atas tata kelola yang benar dan transparan,” ujarnya.

Di panggung yang sama, Amsor, Direktur Pengelolaan Limbah KLHK, menambahkan bahwa regulasi pengelolaan limbah akan terus diperketat agar perusahaan tambang bergerak di lintasan yang tepat.

Tidak berlebihan jika COP30 menjadi panggung penting bagi Indonesia. Apalagi PT Vale juga baru saja mendapatkan skor ESG terbaru dari Sustainalytics: 23,7, peringkat terbaik sepanjang sejarah perusahaan.

Capaian ini menempatkannya dalam jajaran top performer global di sektor tambang dan mineral.

Bagi PT Vale, angka tersebut bukan sekadar penghargaan, melainkan bukti bahwa publik dunia kini memperhatikan langkah Indonesia dengan lebih serius.

Diskusi yang dipandu dengan dinamis itu juga menghadirkan Aladin Sianipar (VP HSE Harita Nickel), memperkuat gambaran bahwa industri nikel Indonesia sedang bertransformasi dalam satu gelombang besar.

Di berbagai wilayah — dari Sorowako, Morowali, hingga Halmahera — konsep sirkularitas dan pemanfaatan ulang limbah mulai diterapkan.

Dan di COP30, narasi itu semakin kokoh: bahwa Indonesia tidak hanya ingin masuk kompetisi global sebagai pemasok mineral kritis, tetapi sebagai negara yang menata masa depan industri hijau bagi Global South.

Pada akhirnya, sesi ini menampilkan potret baru industri tambang Indonesia — industri yang tak lagi dilihat dengan kacamata lama.

Industri yang tidak sekadar menggali bumi, tetapi menata ulang cara pandang tentang bagaimana sumber daya alam seharusnya dikelola di tengah krisis iklim.

Sebuah cerita yang bukan hanya milik PT Vale atau Huayou, tetapi juga milik Indonesia. Sebuah narasi yang kini mulai diakui di panggung dunia. (*)