Berita

Laba Melonjak 85%, PT Vale Indonesia Petik Untung dari Harga Nikel dan Efisiensi

Tim Redaksi
×

Laba Melonjak 85%, PT Vale Indonesia Petik Untung dari Harga Nikel dan Efisiensi

Sebarkan artikel ini
PT Vale IGP Morowali

JAKARTA – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat lonjakan laba signifikan pada kuartal I 2026, meski produksi justru mengalami penurunan.

Kinerja ini menegaskan bahwa strategi efisiensi dan momentum harga nikel global menjadi penopang utama profitabilitas perseroan.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Dalam laporan kinerja terbarunya, Vale membukukan laba bersih sebesar US$43,6 juta, melonjak 85% dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar US$23,6 juta. Secara tahunan, laba juga meningkat dari US$21,8 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Kinerja profit tersebut ditopang oleh EBITDA yang naik 29% menjadi US$80,1 juta, dari sebelumnya US$61,9 juta.

Sementara itu, pendapatan tercatat US$252,7 juta, sedikit lebih rendah dibanding kuartal IV 2025 sebesar US$284,8 juta, namun masih lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$206,5 juta.

Menariknya, lonjakan laba ini terjadi di tengah penurunan produksi. Vale mencatat produksi nikel matte sebesar 13.620 ton, turun dari 17.052 ton pada kuartal sebelumnya dan 17.027 ton pada kuartal I 2025.

Namun, penurunan volume berhasil dikompensasi oleh kenaikan harga jual. Perseroan mencatat harga rata-rata nikel matte sebesar US$14.213 per ton, naik 15% dari US$12.308 per ton pada kuartal sebelumnya.

Di sisi lain, disiplin biaya turut menjaga margin tetap tebal. Biaya tunai (cash cost) tercatat US$10.382 per ton, sedikit meningkat dari US$9.573 per ton, namun masih berada dalam level kompetitif di tengah kenaikan harga energi dan bahan baku.

Dengan struktur biaya yang terkendali dan harga jual yang menguat, margin perusahaan terlihat semakin solid.

Bahkan, tahun 2026 menjadi momentum penting karena merupakan tahun penuh pertama penerapan skema pembayaran nikel matte sebesar 82%, yang memperkuat basis pendapatan dan visibilitas margin.

Selain itu, Vale mulai memperluas sumber pendapatan melalui penjualan bijih nikel. Pada kuartal ini, tercatat penjualan saprolit dari Bahodopi sebesar 886.094 wmt dan limonit dari Pomalaa sebesar 88.983 wmt, menandai diversifikasi bisnis di luar produk utama nikel matte.

Manajemen menilai, kombinasi harga nikel global yang cenderung meningkat, efisiensi operasional, serta ekspansi basis produksi akan menjadi pendorong utama kinerja ke depan.

Dengan tren ini, Vale berada dalam posisi yang diuntungkan untuk memperbesar margin dan memperkuat profitabilitas, meski menghadapi tantangan fluktuasi produksi dan dinamika biaya. (*)