“Unhas adalah institusi yang seharusnya paling bertanggung jawab atas maju atau tidaknya Provinsi Sulawesi Selatan.”
KALIMAT itu masih membekas kuat di ingatan saya. Diucapkan mantan Wakil Ketua DPRD Sulsel, Ni’matullah, dalam sebuah diskusi yang dihelat Lobelobe Forum (LOF) bersama Solidaritas Alumni Peduli Unhas (SAPU) pada pertengahan Oktober 2025 lalu di Kopi Aspirasi.
Ulla—sapaan akrab Ketua Partai Demokrat Sulsel itu—menegaskan bahwa Unhas, sebagai perguruan tinggi negeri terbesar di Indonesia Timur, semestinya memainkan peran strategis dalam mendorong pembangunan Sulawesi Selatan. Apalagi, sepanjang sejarahnya, kursi Gubernur Sulsel sering kali diisi oleh para alumni kampus merah.
Dengan disiplin ilmu yang lengkap dan sumber daya akademik yang tak sedikit, Unhas idealnya mampu memunculkan solusi-solusi konkret untuk menjawab beragam persoalan sosial dan kemasyarakatan di sekitarnya. Istilah kekiniannya adalah ‘Unhas Berdampak’.
Unhas juga seharusnya berdiri sebagai kawah candradimuka bagi kemajuan Sulsel—bahkan Indonesia Timur dan Indonesia secara umum. Gagasan-gagasan kebangsaan patutnya lahir dari ruang-ruang akademik di kampus Unhas.
Namun, semua ekspektasi itu terasa masih jauh panggang dari api. Dalam beberapa tahun terakhir, Unhas justru seperti kehilangan panggung di rumahnya sendiri. Gagasan-gagasan kritis, bahkan yang berkaitan dengan isu-isu Sulsel, semakin jarang terdengar berasal dari kampus merah.
Padahal, Tri Dharma Perguruan Tinggi menuntut Unhas memainkan tiga peran sekaligus: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dua yang disebut terakhir, sayangnya, kerap dipersempit maknanya menjadi sekadar kegiatan seremonial atau bakti sosial yang hanya memenuhi pengabdian dalam wujud paling minimal.
Ironi Kampus Merah
Ada sesuatu yang hilang. Tradisi akademik yang dulu menjadi kebanggaan mulai memudar. Diskusi-diskusi menyangkut persoalan sosial dan politik semakin jarang terdengar, baik yang diinisiasi dosen maupun mahasiswa, termasuk di Fakultas yang disiplin ilmunya berkenaan dengan hal itu.
Dinamika organisasi kemahasiswaan pun melemah. Ada fakultas yang bahkan tidak memiliki Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Di tingkat universitas, situasinya justru lebih memprihatinkan. Empat tahun terakhir, BEM Unhas tak lagi eksis. Suara “jas merah” nyaris tak terdengar dalam percaturan gerakan mahasiswa.
Lebih mengherankan lagi, posisi wakil mahasiswa di Majelis Wali Amanat (MWA) tidak terisi. Padahal di forum itulah arah kebijakan, perjalanan institusi, dan masa depan mahasiswa—sebagai stakeholder terbesar—ditentukan.
Fakta-fakta tersebut disempurnakan oleh kehidupan kampus yang semakin terkotak-kotak secara fakultatif. Interaksi lintas fakultas memudar. Penghapusan mata kuliah dasar umum (MKDU) di Tahun Pertama Bersama (TPB), misalnya, turut menghilangkan ruang pembauran mahasiswa baru.
Unhas kini seolah berlari kencang meninggalkan mereka yang tidak siap. Civitas akademikanya makin larut dalam rutinitas yang menumpuk, dan perlahan kehilangan ruang—atau kehilangan kesempatan—untuk peduli pada hal-hal di luar kewajiban harian.
DNA Unhas
Dalam banyak hal, Unhas sama dengan perguruan tinggi besar lainnya—baik di Jawa maupun luar Jawa. Pembeda utamanya bukan pada ukuran kampus atau jumlah mahasiswanya, melainkan mutu keluaran yang dihasilkan. Dan itu bukan hanya soal nilai akademik semata.
Pertanyaannya, apa yang seharusnya menjadi pembeda mahasiswa Unhas dibanding kampus lain? Karakter apa yang harus menonjol dari seorang alumni Unhas?
Inilah pertanyaan besar yang perlu dijawab Unhas di tengah dinamika dunia profesional dan bisnis yang semakin kompetitif.
Menurut saya, Unhas mesti menghadirkan sebuah kualitas pembeda—distinctive quality—yang bisa ditanamkan kepada setiap mahasiswa sebagai modal ketika mereka memasuki dunia kerja dan ruang-ruang sosial yang lebih luas.
Kualitas pembeda itulah yang kemudian dapat disebut sebagai “DNA Unhas”. Ia dapat dimaknai sebagai identitas, karakter, atau standar kapasitas personal yang melekat dalam diri alumninya. DNA ini tentu tidak bisa muncul begitu saja. Ia harus ditempa melalui proses panjang selama masa studi, baik melalui aktivitas akademik maupun non-akademik.
Sayangnya, DNA itu sulit terbentuk ketika gairah kemahasiswaan melemah dan lembaga-lembaga mahasiswa tidak berjalan. Ini menjadi persoalan serius yang harus dipecahkan, di tengah beban akademik yang semakin berat dan rutinitas kampus yang semakin birokratis.
Benar bahwa banyak mahasiswa memiliki prestasi akademik cemerlang. Namun tanpa kapasitas interpersonal, kepemimpinan, kecerdasan emosional, dan kemampuan membangun jejaring—yang semuanya dapat diasah melalui aktivitas kemahasiswaan—alumni akan kesulitan tampil kompetitif, baik di dunia kerja, bisnis, maupun ketika kelak menduduki jabatan publik, semisal jadi kepala daerah atau semacamnya.
Ini adalah pekerjaan rumah besar bagi Unhas. Termasuk jadi tantangan penting bagi rektor baru yang akan terpilih pada Januari 2026 mendatang untuk mendesain kembali ‘DNA Unhas’ yang bisa bersaing di masa depan.
Desain DNA Unhas merupakan sebuah rancangan skenario jangka panjang yang tidak boleh berhenti di satu periode Rektor saja. Ia harus terus dilanjutkan sebagai spirit Unhas secara keseluruhan. Karena itu, diperlukan komitmen bersama untuk mewujudkannya.
Jika “DNA Unhas” benar-benar bisa tumbuh dan mengalir dalam diri setiap mahasiswanya, maka para alumninya di mana pun berada akan mampu berkontribusi, tampil menonjol, dan memberi dampak berbeda, paling tidak di lingkungannya masing-masing. Semoga. (*)


























