Ekonomi & BisnisNasional

Kurs Tembus Rp17.000, Stabilitas Rupiah Dinilai Butuh Sinergi Lintas Otoritas

Tim Redaksi
×

Kurs Tembus Rp17.000, Stabilitas Rupiah Dinilai Butuh Sinergi Lintas Otoritas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Kurs Rupiah Melemah

BANDUNG — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang bertahan di kisaran Rp17.000 per dolar AS dalam beberapa pekan terakhir memicu kekhawatiran pelaku pasar.

Tekanan yang terus berlanjut dinilai tidak bisa ditangani oleh Bank Indonesia semata, melainkan membutuhkan koordinasi lintas otoritas.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ekonom senior sekaligus praktisi perbankan, Ryan Kiryanto, menilai langkah intervensi yang dilakukan bank sentral sejauh ini sudah sesuai mandat. Namun, stabilisasi nilai tukar memerlukan keterlibatan pemerintah dan lembaga terkait lainnya.

“Stabilisasi nilai tukar rupiah tidak bisa hanya mengandalkan BI. Perlu peran otoritas lain agar upaya ini lebih efektif,” ujar Ryan di Bandung, Sabtu (25/4/2026).

Menurutnya, kepercayaan pasar menjadi faktor kunci dalam meredam tekanan terhadap rupiah. Tanpa keyakinan terhadap arah kebijakan ekonomi, pelaku pasar cenderung beralih ke dolar AS, yang pada akhirnya memperburuk pelemahan mata uang domestik.

Ia menjelaskan, penguatan dolar AS tidak lepas dari tingginya permintaan global terhadap mata uang tersebut, yang mencerminkan preferensi investor terhadap aset yang dianggap lebih aman.

“Ketika kepercayaan terhadap rupiah menurun, pasar akan cenderung membeli dolar. Karena itu, pemerintah perlu meyakinkan bahwa kebijakan yang diambil berada di jalur yang tepat,” katanya.

Ryan juga menyoroti pentingnya peran Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam memperkuat harmonisasi kebijakan antarotoritas. Menurutnya, orkestrasi kebijakan yang solid dapat menciptakan iklim yang lebih kondusif bagi investor.

Data pasar menunjukkan, rupiah ditutup di level Rp17.229 per dolar AS pada perdagangan Jumat (24/4), setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh Rp17.304 per dolar AS—level terlemah sepanjang sejarah.

Ke depan, Ryan memandang asumsi nilai tukar dalam APBN 2026 di kisaran Rp16.500 per dolar AS dapat menjadi titik keseimbangan yang realistis. Level tersebut dinilai mampu menjaga kepentingan eksportir dan importir secara bersamaan.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat seiring eskalasi ketegangan geopolitik global yang turut memengaruhi harga minyak dan komoditas.

Dampaknya, lanjut dia, tidak hanya terasa pada nilai tukar, tetapi juga dapat merambat ke sektor perdagangan, keuangan, hingga investasi. Dalam kondisi tersebut, ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga menjadi semakin terbatas.

Situasi ini menegaskan bahwa stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada intervensi moneter, tetapi juga pada konsistensi kebijakan fiskal dan kepercayaan pasar terhadap arah ekonomi nasional. (*)